Sekali Lagi,Menyoal Dunia Penerbangan Nasional di Kala Pandemi Oleh :Ira Purwitasari

PANDEMI Covid 19 yang terjadi sejak awal Februari 2020 ini telah memukul habis dunia penerbangan nasional. Nyaris seluruh maskapai penerbangan dan operator bandara pandemi Covid-19. Frekuensi penerbangan terjadwal atau scheduled flight pun langsung berkurang drastis , bak terjun bebas dari ufuk paling tinggi ke dasar laut paling bawah. Bayangkan penerbangan bandara Ngurah Rai Bali yang dalam keadaan normal bisa mencapai 2000-an penerbangan setiap hari kini hanya menyisakan puluhan saja. Betul2 sebuah fakta yang menyedihkan.
Ratusan pesawat pun terpaksa parkir ,dan ribuan karyawan penerbangan pun terkena PHK.Belum lagi berhentinya sejumlah perusahaan operasional pendukung penerbangan lain seperti angkutan kargo,ground handling.
Walaupun demikian. Meski kondisi penerbangan babak belur, sebagai sebuah negara kepulauan yang membutuhkan penerbangan sebagai salah moda transportasi. dunia penerbangan nasional sejatinya masih punya peluang untuk bertahan. Negara dengan penduduk hampir 270 juta, ratusan kota besar yang tersebar di puluhan pulau besar ditambah 40-an bandara besar sebagian diantaranya bandara internasional,dunia penerbangan nasional harusnya tetap bisa eksis walau terjadi badai PANDEMI.
Memperhatikan kondisi di atas, pemerintah Indonesia perlu mengupayakan penyelamatan maskapai nasional. Selain melalui suntikan dana, opsi lain ialah membeli tiket dalam jumlah banyak walau belum pasti waktu penggunaannya. Hal seperti ini sempat muncul dari proposal bagi pemerintah Hong Kong untuk membeli tiket maskapai nasionalnya secara besar-besaran. Tujuan akhir tidak lain menjamin keberlangsungan hidup karyawan.
Beberapa negara telah menyuntikkan dana dengan menekankan persyaratan terhadap keberlangsungan kontrak kerja karyawan, di antaranya Amerika Serikat, Belanda, Prancis. Mereka memandang industri penerbangan sebagai suatu global supply chain yang harus dipertahankan serta siap sedia mendorong pertumbuhan ekonomi ketika pandemi berakhir.
Turisme yang kini menjadi salah satu sumber pemasukan utama negara semakin bergantung kepada moda transportasi udara. Alhasil, penting untuk menjamin kesiapan operasional maskapai nasional dan bandara.
Upaya penyelamatan maskapai tidak hanya berbicara lingkup nasional, tetapi skala global. Setengah pesawat yang dioperasikan maskapai di dunia bukan milik sendiri, tetapi merupakan aset perusahaan leasing pesawat. Bangkrutnya mereka akan makin menyulitkan upaya pemulihan industri penerbangan global.
Partisipasi pemerintah dibutuhkan sebagai wujud solidaritas terhadap sesama pemangku kepentingan. Maskapai akan terbantu membayarkan kewajibannya, kemudian secara paralel hak karyawan dan konsumen berpotensi lebih terlindungi.
Saat ini, bisnis pariwisata mulai bangkit meski pandemi belum berakhir. Salah satu indikasinya, penerbangan mulai ramai saat libur panjang akhir pekan pada Oktober- November 2020 lalu. Selain itu, masyarakat yang bepergian ke luar kota juga membuat hunian hotel mulai bertambah.
PT Garuda Indonesia Tbk misalnya, melayani sampai 40 ribu penumpang per hari pada libur Panjang akhir pekan tersebut. Angka itu 100% lebih tinggi dari target perusahaan sebanyak 20 ribu per hari.
Garuda pun menjalankan berbagai strategi untuk terus meningkatkan jumlah penumpang. Di antaranya, dengan memberikan diskon harga tiket ke sejumlah tujuan. Hal ini juga didukung oleh kebijakan pemerintah yang memberikan subsidi airport tax di sejumlah bandara.
Harga memang penting, makanya di momen tertentu seluruh maskapai memberikan penawaran harga. Demikian mengutip Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam Indonesia Industry Outlook 2021 (6/11).
Selain itu, maskapai juga meningkatkan keamanan melalui penerapan protokol Kesehatan secara ketat. Garuda Indonesia memastikan jumlah penumpang untuk terbang terus meningkat. Bersamaan dengan tagline perusahaan, mereka berupaya meyakinkan penumpang bahwa terbang bersama Garuda bisa aman dan terpercaya.
Lonjakan penumpang pesawat akan kembali terjadi saat libur Panjang akhir tahun 2020 mendatang. Setelah itu, dunia penerbangan berharap penerbangan akan berangsur normal pada tahun depan. Apalagi, beberapa rute internasional mulai dilonggarkan.
Jika bisnis penerbangan mulai lepas landas, bagaimana dengan perhotelan? Presiden Director PT Hotel Indonesia Natour (HIN) Iswandi Said mengatakan bahwa saat ini tingkat hunian atau okupansi hotel telah mulai membaik dibandingkan dengan masa awal pandemi.
Bagaimanapun, berdasarkan riset yang dilakukan Inventure pada bulan Agustus 2020 yang melibatkan 1.212 responden, 59,6% masyarakat masih meragukan kesiapan hotel dalam menerapkan protokol kesehatan.
Untuk itu dunia perhotelan pun diminta memprioritaskan protokol kesehatan juga meningkatkan kebersihan di area hotel. Selain itu, hotel juga diharapkan dapat membatasi jumlah tamu yang menginap dan pengunjung yang berenang. Tamu juga harus mengenakan masker di ruang public seperti lobi dan restoran.
Mereka berusaha meyakinkan masyarakat agar tetap bisa beraktivitas di luar rumah. Hanya saja caranya yang sedikit berubah, lebih memperhatikan protokol kesehatan.(Ira Purwitasari,Aktivis KFAI(Komunitas Fotografer Aviasi Indonesia, Kandidat Doktor Komunikasi dan Pemerhati Penerbangan).

BACA JUGA :  Klarifikasi Untuk Keluarga Bapak Edhi Sunarso.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *