Ontologi Baru Profesi Guru

Oleh Fathur Rokhman MHum

PERINGATAN Hari Guru Nasional pada 25 November 2020 membuat guru merenungkan banyak hal. Situasi pandemi dan pembelajaran jarak jauh membuat guru harus merefleksikan hal teknis-metodologis sekaligus mempertanyakan relevansi dan hakikat profesinya. Pada saat seperti ini, apa dan siapakah guru itu. Sebagai sebuah profesi, guru merupakan salah satu profesi tertua. Bahkan jika “guru” dimaknai dalam arti luas, ia merupakan profesi yang ada sejak peradaban pertama manusia.

Profesi guru terus-menerus mengalami pemaknaan ulang yang membuat hakikatnya dipahami secara berbeda dari waktu ke waktu. Pandemi Covid-19 dan disrupsi teknologi juga turut mengubah kehakikatan guru. Citra diri dan citra publik profesi tersebut bergeser akibat tarikan nilai dan ideologi, perkembangan teknologi, juga kebutuhan praktis manusia. Perubahan cara manusia hidup dan memaknai kehidupannya telah mengubah hakikat pendidikan dan dengan sendirinya turut mengubah hakikat guru. Pada masa Yunani Kuno kegiatan pendidikan di sekolah dipahami sebagai pengisi waktu luang.

Kata school yang diserap menjadi sekolah berasal dari kata skhole yang berarti “waktu luang”. Pada masa itu guru adalah filsuf yang menjadikan pendidikan sebagai sarana mengajarkan kebenaran kepada generasi muda. Guru ditandai oleh sikap altruistik yang berorientasi pada nilai-nilai universal.

Ketika negara-negara bangsa berdiri, pendidikan diformalisasi oleh negara. Guru masuk dalam pusaran formalisasi itu. Secara formal guru dilahirkan, dibina, diberi tugas, dan diberi pernghargaan oleh negara. Guru menjadi keahlian profesional yang kompetensi, tugas, dan kinerjanya diatur sesuai agenda negara. Pada era disruptif ini, ketika teknologi mengubah relasi negara dan warganya, profesi guru juga mengalami perubahan. Di samping kriteriakriteria nilai altruisme dan profesionalitas tetap ada, guru ditafsir ulang sehingga hakikat profesi ini dipahami secara berbeda.

Pesan Mendikbud Nadiem Makarim jelang dan pada Peringatan Hari Guru Nasional tahun 2020 menunjukkan bahwa peran guru harus berubah. Mendikbud menyampaikan pandemi telah memberikan kita momentum dan pelajaran berharga untuk mengakselerasi penataan ulang sistem pendidikan.

BACA JUGA :  Ketika Negara Lumpuh Melawan Djoko Tjandra

Penataan ulang itu bisa berkaitan dengan profesi guru pada masa depan. Melihat semangat Mendikbud dalam mendorong inovasi guru itu tampak bahwa guru akan berubah perannya tidak lagi sekadar menjadi pelaksana kebijakan pendidikan. Apresiasi terhadap otonomi dan kecendekiawanan guru akan membuat guru menjadi intelektual organik di sekolah. Adapun dorongan untuk menjadi penggerak perubahan akan membuat guru menjadi aktivis dan pejuang di komunitasnya masing-masing. Pengakuan guru sebagai intelektual sebenarnya telah berlangsung lama. Namun pengakuan itu cenderung terkikis ketika kebijakan pendidikan tersentralisasi.

Pemikiran guru kurang mendapat tempat karena guru diposisikan sebagai operator kebijakan pendidikan. Gagasan dan pengalaman guru hanya dianggap bermakna ketika sesuai dengan kebijakan nasional. Sebaliknya, pemikiran dan pengalaman guru tidak dianggap bermakna jika tidak beririsan dengan agenda yang bersifat nasional.

Sebagai contoh, guru (dan sekolah) yang berhasil mendorong siswa meraih nilai ujian tinggi mendapat apresiasi khusus. Namun guru-guru yang dengan tekun membimbing siswa melampaui masa-masa sulit, yang berhasil mengubah kultur kerja di sekolah, atau yang karena integritasnya menjadi teladan perilaku siswa kurang mendapat apresiasi. “Merdeka Belajar” membuat guru memiliki otonomi yang lebih besar.

Peran guru sebagai peneliti, pemikir, dan inisiator perubahan akan mendapatkan ruang apresiasi yang jauh lebih layak. Salah satunya dengan membuka kemungkinan menjadikan sekolah dan bahkan masyarakat sebagai laboratorium sosial bagi guru dan siswa.

Kemdikbud juga mendorong guru menjadi inisator perubahan dengan menjadi guru penggerak. Secara formal guru penggerak memiliki tiga agenda pokok. Pertama, membuat guru merefleksikan nilai-nilai dasar kendidikan dan relevansinya dengan kondisi saat ini. Kedua, menjadikan guru sebagai pemimpin pembelajaran yang mengupayakan terwujudnya sekolah sebagai pusat pengembangan karakter. Ketiga, menjadikan guru agar mampu mengembangkan dan mengkomunikasikan visi sekolah yang berpihak pada murid, guru dan pemangku kepentingan.

BACA JUGA :  Gunakan Pendekatan Resolusi Konflik untuk Hentikan Kekerasan di Papua: oleh Emir Chairullah, Ph. D

Meski secara formal program guru penggerak terbatas pada tiga agenda tersebut, filosofinya jauh lebih dari itu. Dalam program itu guru ditempatkan sebagai subjek yang memiliki kehendak, inisiatif, sekaligus kemampuan untuk mengubah kondisi faktual menjadi realitas ideal. Dengan demikian guru ditempatkan sebagai subjek yang memiliki visi, kemauan, sekaligus kecakapan berjuang. Guru ditempatkan sebagai subjek aktif perubahan, bukan objek yang menunggu perubahan.

Perubahan yang sedang didorong Kemdikbud itu idealnya disikapi guru dengan merefleksikan kembali nilainilai hidup dan profesinya, mengembangkan pola pikir baru, sekaligus membangun etos baru sebagai intelektual sekaligus pejuang. Secara faktual, hal itu telah dilakukan oleh sejumlah guru di Indonesia dan terbukti memberi dampak signifikan. Jika perubahan ini diinstrumentasi dalam kerangka yang lebih massif, dampaknya tentu akan luar biasa.

Dari Informasi ke Makna

Para futurolog memperkirakan beberapa dekade ke depan akan tejadi perubahan radikal. Nilai-nilai dan struktur sosial masyarakat mengalami guncangan serius yang membuatnya bergeser atau bahkan benar-benar berubah. Guru adalah subjek sosial yang selain merasakan imbas perubahan juga turut menentukan arah perubahan tersebut. Di bidang pendidikan, demikian menurut Harari (2018), tantangan terbesarnya adalah irelevansi.

Saat ini dan beberapa dekade ke depan manusia hidup pada masa dunia yang dipenuhi informasi. Dengan akses yang ada, sangat wajar jika siswa hari ini memiliki informasi yang jauh lebih banyak daripada guru-gurunya di berbagai bidang kehidupan. Namun informasi hari ini seringkali tidak relevan dalam kehidupan.

Oleh karena itu, guru tidak harus menambahkan informasi kepada siswa karena membuatnya seperti nguyahi banyu segara. Yang guru perlu lakukan adalah memfasilitasi siswa menemukan makna dari demikian banyak informasi yang ada. Banjir informasi telah membuat guru yang sekadar berceramah menjadi irelevan. Sebab, besar kemungkinan siswa-siswa saat ini memiliki keterampilan menambang informasi dan data (data mining) yang jauh lebih cepat dan efisien daripada gurunya.

BACA JUGA :  Saat Lobster Gerindra Bicara

Namun informasi yang banyak tidak selalu membuat manusia menemukan dan menjalani hidup yang bermakna. Idealnya, kekosongan itulah yang dapat diisi oleh guru pada masa depan. Perubahan demikian tentu saja tidak dapat direalisasikan secara parsial hanya oleh guru. Sebagaimana Medikbud katakan, guru membutuhkan lebih banyak dukungan dan fasilitasi, bukan lagi tuntutan-tuntutan.

Karena itu, kolaborasi yang kompak antara masyarakat pemerintah dan pihak lain adalah syarat mutlak. Salah satu kolaborasi yang sangat penting adalah dari Lembaga Pendidian Tenaga Kependidikan (LPTK). Sebagai lembaga yang bertanggung jawab melahirkan para guru, LPTK adalah hulu perubahan peran guru.

Karena itulah, LPTK juga tengah melakukan perubahan besar dalam payung program “Kampus Merdeka”. Program itu akan membuat benih-benih perubahan tersemai, siap bertumbuh menjadi bibit, kemudian pohon yang kuat dan rindang. Semoga Tuhan YME memberkati niat baik kita semua. (9)

Prof Dr Fathur Rokhman MHum, Rektor Universitas Negeri Semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *