Era Disrupsi Teknologi, dan Tantanganya.  

DIKSI #08: Episode 8 Tentang Platform Musik Digital, Model Bisnis dan Hak Cipta
 

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com – Industri musik Indonesia harus bisa menyesuaikan zaman. Di era saat ini di mana teknologi berada di genggaman tangan, musisi Indonesia harus bisa beradaptasi.

Proses produksi yang bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan kini bisa dilakukan di kamar dalam waktu satu minggu. Hal ini menimbulkan banyak efek. Penjualan karya musik hingga distribusi bahkan hak royalti tak boleh luput dari perhatian.

Demikian simpulan yang mengemuka dalam webinar DIKSI #08: Episode 8 Tentang Platform Musik Digital, Model Bisnis dan Hak Cipta.

Dikatakan Irfan Aulia (Managing Director Massive Music Publisher)
cum gitaris Samson, kini dirinya harus menyelami industri musik lebih dalam. Menurut dia, saat ini, musisi tak boleh melupakan keberadaan musiklc publisher dan mendaftarkan karyanya. Karena dengan cara itu musisi terutama komposer musik bisa melindungi karyanya untuk mendapatkan royalti.

“Saat ini kita untuk menikmati musik tidak harus membeli musik, artinya yang mereka beli adalah akses. Maka bisnis model di industri berubah akibat disrupsi digital. Kemudian produksi dan distribusi kemudian muncul istilah 360 Musicians, sebuah model bisnis baru. Dimana musisi menjadi juga bertindak sebagai musisi, komposer dan mendistribusikan musiknya sendiri. Tantangannya karena musisi menjadi semuanya maka harus mengerti semuanya. Dari bisnis model ini, advertisement dan paid subscription adalah main income. Bicara streaming, satu lagu setiap bulannya bisa mendapatkan pendapatan berbeda-beda. Dua video yang beredar dengan penonton yang sama juga bisa mendapatkan hasil yang berbeda pula,” jelas Irfan Aulia selaku perwakilan music publisher di Jakarta, Rabu (18/11/2020).

Hukum di Indonesia, imbuhnya, juga harus bisa melindungi para musisi di era teknologi yang berkembang pesat seperti saat ini. Dengan memasukan karya ke music publisher didukung dengan payung hukum yang kuat bukan hal mustahil komposer musik lebih berjaya.

BACA JUGA :  Garuda Buka Rute Baru l Balikpapan- Tarakan

Sebagai pencipta lagu, masih menurut Irfan, tak perlu khawatir lagi dan ada di layanan digital, hak pencipta akan dibayarkan terpisah kepada music publisher.

Bahwa ketika terjadi disrupsi teknologi yang menyesuaikan adalah stakeholder. “New bisnis model harus ada new rules. Copyright Protection, Right Management, Licensing Management, Collection Strategies harus diperhatikan,” katanya.

Sementara itu, musisi lokal maupun indie juga tak boleh melupakan keberadaaan distributor musik.

Bayu Randu, sebagai aggregator musik menjelaskan musisi saat ini di mana pun berada, bisa eksis jika memasukan karyanya ke aggregator musik. Fasilitas yang selama ini ada di major label kini bisa dinikmati musisi kecil lewat memasukkan karya kepada aggregator musik.

Peran aggregator, menurut dia, sangat penting. “Jadi memang perkembangan musik akhir-akhir ini sangat berbeda jauh dari yang lalu. Peran teknologi yang memudahkan teman-teman indie untuk merilis dan rekaman,” katanya.

Aggregator juga mempunyai tools untuk promosi sehingga musisi bisa menyalurkan karya tanpa harus melalui major label. Proses mudah dan transparan banyak musisi daerah dan indie sukses tanpa harus major label.

Distributor dan music publisher bisa melindungi karya seorang musisi dan menyebarluaskannya kepada khalayak. Kemudian porsi platform digital juga tak bisa dipandang sebelah mata. Kini platform musik digital adalah swalayan bagi di mana pendengar musik mencari apa yang dibutuhkan.

Platform music digital juga harus bisa ditekan untuk melindungi sebuah karya dari pada musisi. Youtube misalnya, menjaga betulk agar sebuah karya terlepas dari sengketa hak cipta. Jika ada sengketa, maka kreator konten dan pemilik hak cipta bisa menyelesaikan masalah tersebut, jika kreator konten melanggar maka Youtube menurunkan video tersebut tanpa pandang bulu.

BACA JUGA :  Walikota Cirebon Canangkan Kampung Bahari Nusantara.

Namun jika konten kreator menggunakan jasa dari sebuah karya orang lain, pemegang hak cipta akan mendapatkan royalti.

Youtube memberikan proteksi kepada setiap karya. Youtube bekerjasama dengan music publisher untuk proteksi hak digital pada asset komposisi lagu termasuk cover lagu. Juga bekerja sama dengan label Music untuk memproteksi hak digital untuk video.

“Pengaturan Hak Cipta di Youtube, menggunakan copyright kemudian akan di-review oleh legal Youtube untuk kemudian di take down video yang kemudian melanggar hak cipta,” samhung Muara Sipahutar, Music Content Partnership Manager Youtube Indonesia.

Menurut Chandra Darusman, Ketua FESMI, topik webinar kali ini sangat relevan untuk para musisi. “Pembicara yang luar biasa pada hari ini. Kita tahu digital platform adalah tata surya dalam bidang musik. Kita belum memahami betul aturan, kita sudah memasuki platform baru, maka dari itu topik ini kita angkat untuk mengetahui apa yang bisa kita lakukan dan tidak kita lakukan,” katanya.

Dalam webinar juga terungkap, jika
perkembangan musik indonesia dan dunia tidak lepas dari 3 hal.

1. Perkembangan produksi musik
Perubahan dari analog ke digital, kemudian converter. anak2 band di era 2005-an sudah menggunakan converter. Zaman dulu rekaman butuh biaya yang besar, zaman sekarang setiap anak band sudah punya converter sudah bisa rekaman di rumah.

2. Perkembangan Teknologi
internet yang cepat, sosial media dan gadget itu sendiri, dan

3. Perkembangan media musik
Dulu, vinyl, kaset, CD player sekarang beralih ke digital streaming. Seperti spotify dan itunes.

Turunannya, proses Release Lagu bisa lebih cepat. Rekaman bisa dilakukan di rumah kemudian distribusi yang lebih cepat lewat aggregator. Dahulu bisa 6 bulan untuk release sekarang 1 minggu

BACA JUGA :  Peran Bakti Kominfo Dalam Penyediaan Layanan Selular Di Wilayah 3T

Sedangkan dari segi aggregator, platform musik yang mendistribusikan sebuah karya ke digital store di dunia semakin akbrab.

Agregator juga mempunyai tools untuk promosi sehingga musisi bisa menyalurkan karya tanpa harus melalui major label. Proses mudah dan transparan banyak musisi daerah dan indie sukses tanpa harus major label.

Meski demikian, sebagaimana mara pisau, juga ada persoalan di sana. Yang terjadi, saat ini, mau merilis lagu mandiri musisi masih banyak bingung. Juga persoalan cara melindungi karya, standar produksi, Wawasan Digital Industri dan Promosi, serta Bagaimana mendapatkan Royalti yang Transparan. (Benny Benke-69).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *