Guruh Gipsy.

Oleh Wina Armada Sukardi.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com
Ketika saya sedang membenahi kembali “perpustakan alit” saya di rumah (mau dibuat sistematik berdasarkan bidang buku), tak sengaja saya menemukan sebuah “buku” (baca: booklet) band Guruh Gipsy dengan kasetnya.

Musik yang benar-benar “campuran” musik tradisional (baca : Bali) dengan musik barat. Sebuah kompoisi yang hemat saya sangat luar biasa.

Sebenarnya , secara keseluruhan tadinya musik ini dibuat untuk pertunjukan, sehingga lagunya juga panjang-panjang. Namun tetap dapat “dinikmati” terlepas dari pertunjukannya sendiri. Bagi orang yang mencintai musik, sangat terasa musik Guruh Gipsy ini sangat luar biasa indah. Mempesona.

Karya musik ini pertama kali digarap pada pertengaha tahun 1975 dan diselesaikan pada akhir tahun (November) 1976, dan setahun kemudian dipasarkan bersama booklet ini.

Dalam penjelasannya, Guru kala itu masih membangga-banggakan studio rekaman dengan 16 track, yang tentu saja kalo dilihat dari kacamata teknologi rekaman sekarang, bukan saja sudah menjadi “jadul” tapi mungkin sudah cocok diletakan di museum. Namun kala itu studi 16 track di Indonesia masih barang langka.

Salah satu ketua teknisinya kala itu, seorang anak muda yang belakangan sukses pernah menjadi direktur RCTI dan SCTV serta bahkan jadi dirut TVRI : Alex Kumara. Kala itu dia masih anak muda yang energik. Dia pulalah salah teknisi oudio visual yang paling hebat sampai akhir hayatnya.

Guruh membuat rekaman ini dengan penuh perjuangan. Studio rekaman yang belum memakai AC membuat mereka harus menghadapi panas yang melelahkan dan meletihkan.

Di samping itu, mesin rekaman 16 track yang saat itu masih asing dalam industri rekaman Indoensia, juga masih sering mati atau out of kontrol.

Jadi rekaman harus beberapa kali terhenti. Ketika latihan di rumah Kinan untuk lagu “Geger Gelgel” hujan lebat turun. Celakanya, rumah Kinan bocor besar dan banjir. Walhasil latihan terganggu lagi dan perlu berhenti sampai hujan reda dan banjir dibersihkan.

Kelompok. Gipsi dibetuk pada tahun 1966 dengan nama group Sabda Nada. Anggotanya kala itu Ponco, Gaurt, Joe-Amm, Eddy, Edit, Robald dan Kinan.

BACA JUGA :  Paskah Menyelamatkan Kehidupan

Baru tahun 1969 namanya berubah menjadi “Gipsy.” Komposisi personilnya berganti-ganti. Waktu itu personilnya Kinan, Onan, Chris, Gaurt dan Tammy.

Lantas sempat pula masuk Atut Harahap. Tahun 1971 tercatat nama-nama Kiban, Chris, Gaurt, Rukky, Aji, Lulu. Tahun 1975 projek musik dimulai dan selesai akhir tahun 1976.

Selain dibantu para seniman Bali, juga ada nama Hutahuruk bersaudara (Rugun dan Bornok) yang belakang suaranya terkenal melalui lagu “Badai Pasti Berlalu.” Dalam prosesnya sejumlah wartawan, baik wartawan musik maupun cetak, seperti Theodora K.S dan Ismunandar memantau dan memotret aktivitas penciptaan karya musik ini.

Lantaran teknologi kominikasi saat itu masih ketinggalan zaman, dan surat melalui pos masih menjadi andalan, di belakang booklet dibuat “kartu pos” lengkap dengan temoat perangkonya dengan gambar Guruh Gipsy berlatar belakang lukisan Bali, siap untuk dikirim lewat pos…

Kalau kita dengarkan lagi sekarang, karya-karya musik ini, mungkin inilah salah satu karya terbaik musik Indonesia yang mengabungkan nada barat dan tradisional.

Saya usul, sebaiknya karya musik ini ditranformasikan ke alat rekam digital yang sesuai zaman sekarang. Kalau perlu dipasarkan kembali. Jangan sampai karya yang ikonik ini hilang karena kelalain kita. Tabik! (Benny Benke — 69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *