Covid-19 Antara Fakta Medis vs Politis

JAKARTA, SuaraMerdekaJkt.Com – Pandemi Covid-19 sudah berlangsung selama lebih dari 8 bulan. Sepanjang waktu tersebut, begitu banyak informasi yang beredar. Sayangnya tidak semua informasi tersebut valid, banyak diantarnya yang justru menyesatkan atau hoax. Masyarakat harus mampu secara cerdas memilih mana informasi yang sebaiknya dipercaya, mana yang tidak. Bertanya kepada tenaga kesehatan yang kapabel sangat penting dilakukan, agar tidak tersesat menerima informasi.

Demikian kesimpulan dari perbincangan virtual melalui live Instagram @asahkebaikan bersama narasumber apt Drs Julian Afferino, MS, Kamis (12/11) malam lalu bersama host apt Dra Tresnawati.

‘’Informasi yang hoax hanya untuk memperkaya wawasan saja. Kita harus bisa membedakan dengan baik, mana yang valid dan mana yang hoax,’’ ungkap alumnus Fakultas Farmasi UGM tersebut.

Dalam kesempatan itu, apt Julian membahas lebih jauh mengenai pernyataan Aliansi Dokter Dunia yang sempat menggegerkan beberapa waktu lalu. Ia kemudian membandingkannya dengan laporan  yang dirilis oleh Dr Luca Carsana dari Papa Giovani XXII dan Luigi Saco Hospital dari Bergamo, Milan, Italia. Dalam rilisan tersebut, disebutkan adanya 38 kasus kematian yang diduga akibat Covid-19. Dari dugaan itu kemudian ditindaklanjuti dengan melalukan otopsi. Ditemukan adanya platelet fibrin thrombin, yaitu pembekuan darah di jaringan halus paru yang berfungsi mensuplai oksigen. Atas temuan itu mereka melakukan langkah berikutnya, yaitu mengumpulkan seluruh data medis pasien dan menemukan, dari 38 kasus itu ternyata 9 pasien menderita Diabetes Mellitus, 18 kasus hipertensi, 4 kanker tahap lanjut, 11 gangguan kardiovaskuler dan 3 menderita gangguan paru kronis.

Dari data itu kesimpulan kematian yang diduga akibat Covid-19, ternyata tidak semata akibat virus SARS Cov-2, tetapi ada penyakit penyerta yang menyebabkan fatality risk nya meningkat.

BACA JUGA :  Vaksinasi Covid -19 Wonogiri Capai 40 Ribu Orang

‘’Dari kasus di Papa Giovani XXIII hospital ini, kesimpulan didapat berdasarkan fakta yang valid, tapi kemudian ada pihak tertentu yang mendompleng fakta tersebut untuk memproduksi hoax. Dari ditemukannya platelet fibrin thrombin saat otopsi kemudian secara tidak bertanggungjawab ada yang menyebut, dengan begitu, maka obat Covid-19 cukup obat pengencer darah. Kemudian menyeberang ke New Meksiko beredar info, untuk mengobati covid-19 hanya membutuhkan aspirin dan jus lemon, berita ini adalah hoax. Hoax yang dibuat berdasarkan fakta valid yang bersumber dari penelitian di Italia tersebut. Pernyataan dari Italia tersebut adalah tinjauan berdasarkan sudut pandang medis,’’ terang CEO Pharmacare Consulting ini.

Ia kemudian membandingkan dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh The World Doctors Alliance yang didirkan oleh dr Heiko Schoning, dari Jerman. Mereka mengklaim, pemerintah Jerman tidak transparan dalam menangani pandemi Covid-19 ini. Mereka juga menyebutkan berbagai pendapat yang mengatakan, pandemi Covid-19 adalah sebuah konspirasi dan penyakit itu tidak lebih dari flu biasa.

‘’Tapi yang menarik, ketika mereka melemparkan isu tersebut, mereka juga mendirikan satu organisasi nirlaba disebut sebagai Komite Ekstraparlementari untuk Penyelidikan Corona atau AuBerparlementarischer Corona Untersuchungsausschuss (ACU). Kalau kita perhatikan dari tahapan yang mereka lakukan, maka sebenarnya langkah yang dilakukan Aliansi Dokter Dunia ini merupakan suatu agenda politik. Dari situ, sebetulnya kita sudah pastikan, tidak perlu menanggapi hal ini, karena merupakan agenda politik dalam negeri Jerman yang tidak berkaitan dengan Indonesia. Apa yang disampaikan dr Heiko dkk ini hanya sebuah program kampanye politik dalam negeri Jerman semata,’’ ungkapnya.

Hasil investigasi yang dilakukan oleh ACU tersebut, pada saatnya akan menjawab semua pertanyaan dan tuduhan yang disematkan bersamaan dengan pandemi Covid-19 ini.

BACA JUGA :  Pemerintah Sepakati PTM dimulai Juli 2021

‘’Jadi berbeda dengan pernyataan yang datang dari Italia yang disampaikan berdasarkan pandangan medis, maka pernyataan dari Jerman ini tidak berdasarkan pandangan medis semata, namun ada nuansa politisnya, berkaitan dengan rencana pemilihan umum yang diselenggarakan pemerintah Jerman pada Januari 2021 nanti’’, tambahnya.

Mengutip pernyataan dari website mereka, Julian menyebutkan, pada saat ACU diresmikan pada 31 Mei 2020 lalu, dihadapan 5.000 orang di Stuttgard, sangat bernuansa politis.

Sehingga apa yang disampaikan Heiko Schoning ini tidak perlu ditanggapi, karena melalu komite akan membuktikan dengan sendirinya, dan kesimpulannya akan didapat usai pemilu di Jerman pada Januari 2021,’’ tegasnya. Terlebih lagi, melalui ACU mereka memperoleh dana dari para donator yang bersimpati pada perjuangan mereka.

Jadi, sekali lagi tegas Julian, apa yang dilakukan Aliansi Dokter Dunia ini hanya salah satu metode kampanye semata. Pada 20 Juli 2020, Media mingguan Jerman mempublikasikannya secara besar-besar dan menyebut kegiatan itu sebagai sebuah perlawanan demokrat. ‘’Saya menduga, organisasi ini berafiliasi dengan salah satu partai di Jerman yaitu FDP (Freie Demokratische Partei). Jadi kalau kita tanggapi, kita keliru,’’ tandasnya.

Bila di Jerman para dokter menyampaikan pendapatnya diikuti dengan upaya pembuktian, tidak begitu yang terjadi di Indonesia.

‘’Kebanyakan orang hanya menyampaikan pendapatnya, tanpa melakukan upaya pembuktian. Yang terjadi kemudian hanya semacam tuduhan kepada pihak-pihak tertentu. Ini yang kemudian berlanjut hingga menjadi kasus hukum,’’ tuturnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *