Facebook Hanyalah Mainan.

Oleh Pepih Nugraha.

JAKARTA,Suaramerdekajkt.com –– Tulisan sederhana ini akan mengena kepada mereka yang pernah diberi surat cinta mesin Facebook: “Anda kami setrap selama sekian hari karena melanggar standar komunitas”. Lalu kita pun dibuatnya mati gaya karena tidak bisa eksis di Facebook.

Mati gaya? Ya, karena gaya itu harus dilihat orang. Facebook adalah cermin raksasa yang membuat ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang melihat ke satu titik; apa yang kamu pikirkan, apa yang kamu katakan, apa yang kamu lakukan. Sungguh, ia merupakan cermim reflector raksasa yang seakan-akan tidak menyembunyikan sedikitpun rahasiamu.

Zaman memang berubah. Standar lama yang dipegang ratusan tahun menjadi hancur lebur berantakan karena datangnya hujan (eh, itu Koes Plus), maksud saya… datangnya Facebook. Dulu semasa menginjak remaja saya menulis catatan harian dalam sebuah buku yang berkunci. Tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh buku itu, bahkan orangtua sendiri.

Sekarang, catatan harian yang sifatnya private bisa diumbar di Facebook secara “openbaar“. Bahkan, pertengkaran antara anak versus orangtua, suami versus istri, pendukung makan bubur diaduk versus makan bubur tidak diaduk, bisa dibaca siapa saja secara telanjang di Facebook atau media sosial sejenis lainnya.

Facebook hanyalah mainan orang-orang berkuota internet yang telah menjadi mesin reflektor raksasa. Orang harus senantiasa bercermin agar bayangannya dilihat dunia tanpa batas. Gayamu menunjukkan kamu masih hidup dan semua orang harus tahu apa yang sedang dan akan kamu lakukan.

Bagaimana menghadapi ancaman Facebook yang akan menutup akunmu karena kamu -seperti yang saya alami- dianggap melanggar standar komunitas yang kamu tidak tahu macam apa standarnya? Nyantai aja… kamu bisa bikin akun baru dan coba “memulai hidup baru” di akun barumu kalau kamu masih butuh “second living“.

BACA JUGA :  Covid-19: Uman, Aman, Iman

Ya, “second living“, kamu harus selalu ingat ini. Facebook atau media sosial lainnya bukanlah “prime living” di alam nyata, melainkan alam maya, virtual, simulacra (kata Jean Beaudillard), sekadar simulasi kehidupan maya. Kamu bisa menjadi apa saja di Facebook, yang boleh jadi keluar dari sifat aslimu. Kamu bisa seperti tampak sebagai seorang pengasih di Facebook padahal sejatinya kamu bengis, misalnya. Demikian sebaliknya.

Sulit untuk menjadi kamu sebagaimana kamu adanya di dunia bayang-bayang semacam Facebook. Kamu ingin menampilkan sesuatu yang lain yang tidak ada padamu atau bahkan bertentangan dengan nuranimu sendiri. Facebook menyediakan ruang untuk itu.

Jadi apa yang harus kamu lakukan? Tidak ada, kecuali kamu anggap saja Facebook sekadar mainan, yang ketika mainan kamu itu hilang (baca: akun Facebook diberangus pemiliknya), ya sudah, kamu bikin cermin lainnya, di tempat yang sama atau di tempat lain.

Kembalilah ke kehidupan utamamu, “first living“, yaitu dunia nyata dengan orang-orang yang nyata di hadapanmu, di sekelilingmu. Hadapi kenyataan dengan kasih sayang, bukan dengan bayang-bayang. (benny Benke – 69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *