Pelayaran Sambut Baik Percepatan Pengadaan Barang dan Jasa Offshore

JAKARTA,Suara Merdeka JKT.Com.- Untuk mendukung
target produksi minyak dan gas
nasional di tengah kondisi pandemi
covid-19 dan belum stabilnya harga
minyak dan gas (migas) dunia,
SKK Migas dan Kontraktor Kontrak
Kerja Sama (KKKS) yang
terhimpun dalam Indonesia
Petroleum Association (IPA)
bersepakat melakukan percepatan
pengadaan barang dan jasa sektor
hulu migas.
Percepatan pelaksanaan
pengadaan barang dan jasa juga
dilakukan untuk mendukung
optimalisasi Work Program and
Budget (WP&B) sehingga di tahun
2021 keseluruhan aktivitas dapat
difokuskan pada kegiatan-kegiatan
yang mendukung produksi dan
lifting.
Menanggapi hal itu, Indonesian
National Shipowners’ Association
menyambut baik dan memberikan
apresiasi yang tinggi kepada SKK
Migas. Ketua Umum Indonesian
National Shipowners’ Association
Sugiman Layanto
mengatakan kebijakan tersebut
akan berdampak positif terhadap
industri pelayaran penunjang lepas
pantai atau offshore.
Ungkapan terima kasih tersebut
langsung disampaikan Indonesian
National Shipowners’ Association
kepada Kepala SKK Migas Dwi
Sutjipto melalui surat bernomor
DPP-SRT-X/20/059 tertanggal 26
Oktober 2020.
“Kami optimistis, dengan kebijakan
ini proses recovery industri
pelayaran offshore di tengah
pandemic Covid-19, dapat
berlangsung dengan baik,” tulis
Surat itu.
Menurut Sugiman, kebijakan SKK
Migas tersebut adalah salah satu
jawaban atas surat Indonesian
National Shipowners’ Association
yang ditujukan kepada SKK Migas
pada April lalu yang intinya
meminta kebijaksanaan SKK Migas
untuk membantu usaha pelayaran
offshore agar survive di tengah
wabah Covid-19.
Surat bernomor DPP-SRT-IV/20/020
tertanggal 9 April 2020 tersebut
ditujukan langsung kepada
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto.
Dalam surat tersebut, Indonesian
National Shipowners’ Association
menegaskan bahwa wabah Covid-
19, telah berdampak terhadap
operasional kapal, khususnya
pelayaran offshore.
Menurut Indonesian National
Shipowners’ Association, selama
pandemi Covid-19, operasional
kapal berubah, kebijakan berubah
sehingga biaya-biaya juga berubah
disesuaikan dengan protokol Covid-
19. “Namun, hingga kini, pelayaran
offshore masih berusaha untuk
bertahan dengan harapan, SKK
Migas berkenan membantu agar
usaha angkutan laut dalam negeri,
khususnya sektor offshore dapat
survive,” tulis Surat tersebut.
Selain masalah Covid-19, nilai tukar
rupiah terhadap US Dollar yang
cenderung melemah juga ikut
memukul sektor pelayaran offshore.
Saat ini, pelayaran offshore banyak
menerima pinjaman dalam bentuk
US Dollar, sementara penerimaan
pendapatan dalam bentuk rupiah
sehingga terjadi mismatch dan
berpotensi menimbulkan masalah
terutama terkait dengan
kelangsungan usaha pelayaran.
Masalah harga minyak mentah
dunia yang cenderung turun juga
berpengaruh signifikan terhadap
pelayaran offshore. Indonesian
National Shipowners’ Association
menyampaikan bahwa pada saat
harga minyak turun hingga di bawah
US30 per barel pada 2014, usaha
pelayaran offshore juga terpuruk
dan banyak kapal yang
menganggur.
Baru pada 2019, kegiatan pelayaran
offshore mulai membaik dan tingkat
utilisasi meningkat meskipun harga
masih relatif rendah. Sebagai
gambaran, pada 2014, tarif sewa
kapal AHTS 5.000 HP, sekitar US$
12.000 per hari, sedangkan
sekarang hanya Rp45 juta per hari.
“Dengan percepatan pengadaan
barang dan jasa di lingkungan
KKKS, kami yakin, pemulihan sektor
offshore dapat segera pulih,”
katanya.
SKK Migas pada akhir September
lalu telah mengeluarkan surat
edaran tentang percepatan proses
pengadaan barang dan jasa. Melalui
surat edaran tersebut, KKKS diminta
untuk segera menyampaikan daftar
pengadaan (Procurement List)
khususnya untuk persiapan
pelaksanaan kegiatan-kegiatan di
tahun 2021 yang berhubungan
langsung dengan produksi dan
lifting migas.
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto
mengatakan percepatan proses
pengadaan barang dan jasa tahun
2021 yang dilaksanakan di tahun ini
akan memberikan dampak ganda
bagi industri nasional dan memberi
kepastian bagi industri nasional,
industri di daerah operasi KKKS,
serta UKM yang telah menjadi mitra
Kontraktor KKS.
“Dampak positif lainnya adalah
adanya penyerapan tenaga kerja,
khususnya mengurangi dampak
pengurangan tenaga kerja baik
bagi KKKS maupun industri
penunjang di masa pandemi ini,”
ujar Dwi.
Di tengah pandemi Covid-19,
terobosan-terobosan terus
dilakukan melalui kolaborasi
antara SKK Migas dan KKKS
dengan mengembangkan
kerangka model kerja dan
roadmap pengembangan
kegiatan pengadaan barang dan
jasa sebagai bagian dari
alignment dengan program
Indonesia Oil and Gas 4.0
dalam mencapai target produksi
1 juta BOPD pada tahun 2030.
Seperti diketahui, kinerja hulu
migas nasional sampai
September 2020 mencatatkan
kinerja yang menggembirakan
meskipun masih dalam kondisi
tertekan di tengah pandemi
Covid-19 dan harga minyak yang
masih rendah.
SKK Migas outlook lifting minyak
dan gas bumi diperkirakan
mencapai 99,5% dari target
APBN-P 2020. Dengan outlook
capaian lifting ini akan menghasil￾kan penerimaan negara sebesar
US$ 6,74 miliar atau 115% dari
target APBN-P 2020 yaitu US$
5,86 miliar dengan asumsi ICP
(Indonesian Crude Price) US$ 38
per barel.(bn/69)

BACA JUGA :  Survei Capres 2024, Elektabilitas Ridwan Kamil Melesat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *