Jangan Menyerah.

#DIKSI07
Episode Orkestra, Produksi Live Stremaing, Ticketing dan Sponsorship.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com
Setelah dunia dilanda pandemi Covid-19, industri entertainment paling terasa efeknya. Buat pekerja seni dan entertainment tidak ada lagi jadwal manggung, yang berarti efeknya mulai berimbas dari mulai artis, band pengiring sampai kepada pekerja belakang panggung.

Menyadari hal itu, Federasi Serikat Musik Indonesia (Fesmi) di bawah pimpinan Candra Darusman, mengadakan webinar virtual #DIKSI07, Episode Orkestra, Produksi Live Stremaing, Ticketing dan Sponsorship.

Sebagaimana diceritakan konduktor Twilite Orchestra, Addie MS gebukan pagebluk yang diterima musisi, yang galibnya mengandalkan pertunjukan secara live/langsung, untuk menyambung nafkah, sangat terasa sekali, selama pandemi COVID-19 berlangsung.

Pukulan berat ini yang dirasakan oleh Addie MS, sebagai orang nomor satu di Twilite Orkestra yang banyak memakai jasa para pemain orchestra yang jumlahnya bisa puluhan sampai ratusan orang sekali tampil di sebuah event. Terpaksa meniadakan dulu kegiatannya.

Addie MS sangat merasakan beratnya para pemain orkestra di tengah serangan pandemic ini.

“Karena job manggung berhenti total. Komitmen pekerjaan atau job manggung yang sudah disepakati terpaksa batal,” kata Addie MS di Jakarta, Rabu (11/11/2020).

Inilah yanh membuat Addie MS resah dan galau memikirkan para pemain orchestranya yang kebanyakan menggantungkan rezekinya hanya dari main musik orchestra.

“Awal Pandemi saya benar-benar galau dan resah. Bagaimana para pemain orchestra saya ini bisa makan dan menghidupi keluarganya sehari-hari. Saya harus putar otak dan harus tetap positif thinking untuk survive di tengah Pandemi ini.

Akhirnya saya hubungin pemain orchestra untuk merekam partitur yang saya berikan, semampunya mereka merekam di rumah. Karena di rumah jadi pas rekaman ada suara jangkrik, ayam dan lain-lain masuk.

Akhirnya saya pilah-pilah di computer saya di rumah, dan saya belajar final cut pro, edit di computer. Maka jadilah rekaman orchestra dari para pemain ini yang sama sekali tak dibayar,” cerita Addie MS.

BACA JUGA :  KlikFilm Kembali Hadirkan Film Berkualitas.

Dia melanjutkan, setelah semua Bahan terkumpul, dan diedith semampunya.

“Saya kirimkan ke beberapa pengusaha, dan mereka simpati akhirnya mereka tergerak memberikan donasi untuk teman-teman orchestra dan pekerja seni lainnya. Buat saya itu sebuah keajaiban dari Tuhan di mana para pengusaha merespon ini dengan cepat ,” kenang Addie MS.

Langkah awal Addie MS dengan proyek sederhana ini, selanjutnya dia mulai memberanikan diri untuk membuat konser orchestra secara virtual yang dilanjutkan dengan beberapa acara penggalangan dana yang diikuti oleh Twilite Orchestra.

Addie menyebut dirinya sebagai penyalur dana bantuan buat teman-teman musisi dan pekerja seni yang terdampak Covid19.

“Daripada saya merenungi keadaan dan resah gak jelas, ya sudah saya memutuskan untuk membuat sesuatu yang bermanfaat bagi para pemain orchestra saya dalam lingkup kecil. Setelah bisa berdiri baru di lingkup yang lebih besar ,” imbuh Addie MS.

Dalam menghadapi situasi yang tidak menguntungkan ini, dalam mencari sponsor, menurut Addie MS, sebaiknya bersikap realistis, dan semua ego harus disingkirkan.

“Kita harus lentur dalam memberikan kesempatan kepada calon sponsor kita. Yang penting dunia entertainmen bisa bergerak lagi, dan itu bisa menghidupkan sektor-sektor bisnis lain yang tadinya mati suri.

Pihak sponsor harus bersikap sama untuk mau saling membantu dan menghadapi pandemic ini bersama-sama,” pungkas Addie MS.

Segendang sepenarian dengan Addie MS, Dino Hamid yang sukses menggelar konser Drive in Concert dengan tag line New Experience, mengatakan bahwa ide membuat konser drive ini muncul sebulan setelah covid resmi masuk Indonesia.

Bahkan sebelum ada konser drive in ini di luar negeri, Dino sudah mematangkan ide itu bersama timnya di Berlian Entertaiment.

BACA JUGA :  Efektivitas Bantuan Pemerintah untuk Perikanan Tangkap Laut Harus Dievaluasi

Dari mulai ide sampai eksekusi cukup memakan waktu lama karena harus mengurus izin dengan berbagai instansi pemerintah.

Tak mudah untuk mengantongi izin dari pemerintah apalagi konser drive in adalah barang baru di Indonesia.

“Akhirnya saya banyak menandatangani fakta integritas dengan banyak instansi bahwa menjamin konser drive in ini tidak menjadi cluster covid baru di Jakarta. Dan kami memang menjalankan ini dengan protocol (kesehatan) yang sangat ketat. Sampai saya bikin satgas protocol kesehatan untuk semua pekerja produksi, artis dan semua yang terlibat di konser drive in ini. Ga mudah memang,” jelas Dino Hamid.

Hal yang membuat Dino Hamid deg-degan adalah bukan persiapan konser tapi setelah konser. Dia harus memantau bersama satgas safety planet, — nama Satgas kesehatannya — untuk memonitor orang-orang yang terlibat di dalamnya, apakah ada yang kena covid.

Dino memantau selama 14 hari untuk tahu siapa aja yang kena. Itu untuk men-tracing orang tersebut bila ada yang kena covid.

“Syukurnya ga ada yang kena covid setelah 14 hari lewat. Baru saya bisa tidur tenang ,” kata Dino Hamid.

Dino merasa bangga bahwa konser drive in ini ditonton oleh banyak penonton secara virtual di luar negeri, seperti London, Los Angeles, Singapura, Kuala Lumpur dan beberapa negara lainnya.

Selain juga ditulis beberapa media online dari Amerika dan Singapore.

Masalah sponsor, Dino mengakui memang tak seleluasa sebelum pandemi. Cukup sulit mendapatkan sponsor sekarang ini. Untungnya, pihaknya mempunyai konsep yang kuat dalam menggelar sebuah konser.

Dengan begitu baru para sponsor melihat keunggulan kita di bandingkan acara sejenis lainnya.

“Di era pandemi ini kita harus mengeluarkan anggaran 30 persen untuk bujet protocol kesehatan, seperti rapid dan swab test, untuk semua pekerja dan orang yang terlibat di dalamnya. Anggaran ini dulu tak pernah ada. Komponen anggaran ini wajib ada sekarang ini ,” kata Dino lagi.

BACA JUGA :  Banjir Hadiah dari D’COST untuk Rayakan Konsep Restoran dan Menu Baru

Tak jauh berbeda dengan Addie MS dan Dini Hamid, Bayu Randu yang banyak berkecimpung di dunia penyiaran secara virtual ini, juga mengakui, dengan adanya pandemic covid-19 mau tak mau dunia offline berganti arah ke media online.

Konser offline jadi konser online dan hybrid jadinya. Beberapa teknologi alat dan software nya menurut dia, juga sudah sangat mendukung sekarang ini.

Tinggal mau pilih yang mana, mau pakai alat yang sederhana atau yang canggih punya. Tergantung anggaran yang dimiliki oleh si empunya acara.

Bayu yang menggawangi acara Halaman Musik Rieka Ruslan dan Musicblast.id mengatakan teknologi live streaming yang sekarang ada akan makin canggih ke depannya.

“Dengan teknologi live streaming yang makin maju, suara yang dihasilkan akan lebih jernih dan stereo bagi si penerima tayangan konser misalnya. Minimal urusan suara bisa dimanjakan dengan itu. Meski ada yang kurang dibandingkan kita melihat dan mendengarkan langsung konser tersebut,” jelas Bayu Randu.

Menyikapi soal sponsor di saat pandemi, Bayu sepakat dengan Dino Hamid untuk membuat proposal yang semenarik mungkin dan acara yang kita tawarkan ke sponsor harus kuat dan unik secara konsep.

Karena para sponsor akan makin selektif dalam mensponsori sebuah acara. (Benny Benke-69).

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *