Trio UnTie asal Solo Justru Pameran Kala Pandemi Covid-19

JAKARTA, Suara MerdekaJkt.Com- Pandemi Covid19 yang membuat banyak pihak mengeluh rupanya tak menyurutkan niat trio perupa UnTie menggelar pameran virtual bertema “11.11.2020 di Era Pandemi” bersama rumahgaleri.com.

Trio pelukis UnTie adalah para pelukis alumni STSI Solo yakni Agussis, Rudy “Tulang” Setiawan, dan Iwhan Gimbal. Ketiganya enggan menyerah dengan keadaan pandemi Covid19 yang membuat para pelukis kesulitan menggelar pameran.

Ketiga pelukis kemudian menggandeng rumahgaleri.com sebuah ruang galeri virtual dengan fitur jelajah mandiri berkat pemanfaatan teknologi 360 derajat buatan V-CONEX, sebuah perusahaan teknologi website developer dengan spesialisasi pada 3D Virtual jelajah mandiri.

Teknologi tersebut telah dipercaya oleh berbagai perusahaan multinational untuk mengadakan virtual event seperti launching dan exhibition dengan jangkauan pemirsa berskala global. Dengan teknologi ini mampu memberikan sensasi layaknya mengunjungi sebuah pameran.

Pelukis Agussis atau Agus Siswanto dikenal memiliki gaya yang unik, salah satu lukisannya bahkan dikoleksi Presiden Joko Widodo. Sedangkan Rudy “Tulang” Setiawan dan Iwhan Gimbal alias Sudarwanto Budi Raharjo lebih dikenal melalui karya yang terkesan pop art.

Pada akhir Orde Baru, Iwhan Gimbal sempat meramaikan media massa Indonesia akibat karya grafisnya untuk majalah D&R berupa Kartu King berwajah Soeharto.

“Kami ingin melakukan proses berkarya terbentur oleh keadaan yang sulit. Dari keadaan sulit itu pasti ada sisi positifnya, ya kami bisa berkarya dalam keadaan apapun menemukan media baru berproses dalam tekanan dan menemukan hal-hal yang mungkin ini tidak kami dapatkan bila dalam kondisi normal,” ujar Iwhan Gimbal.

Pelukis yang juga praktisi desain grafis ini menuturkan inti dari pameran mereka adalah ucapan syukur atas kesehatan dan kekuatan berkarya, sekaligus ungkapan pernyataan seniman bahwa Covid-19 tidak mematikan semangat berkarya.

BACA JUGA :  Remy Sylado Masih Dalam Pemulihan.

Pandemi ini, lanjutnya, justru harus di jadikan sebagai penyemangat hidup dan terus tetap berkarya. UnTie harus memaknai pandemi ini bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari kebangkitan kami para seniman.

Menurut kurator pameran Prof. Narsen Afatara, ketiga perupa yang dilahirkan di kota Solo tersebut dibesarkan di suatu kawah, suatu area dimana mereka mendapat tekanan dan pujian sedemikian besar dan sedemikian derasnya.

“Tentu saja ada perbedaan di masing-masing seniman dengan keunikannya sendiri-sendiri. Keunikan berbagai dimensi, dimensi produksifitas, dimensi yang bekerja di lab terus-menerus dan dimensi yang terakhir mengenalkan karya sebagai tanggung jawab sosial perupa,” tuturnya.

Menurut Prof. Narsen, ketiga pelukis memiliki aliran yang berbeda jika Rudi dan iwhan banyak bersinggungan dengan seni grafis maka Agussis bergerak di seni murni dan banyak menggunakan imajinasi dan fantasinya.

Agussis di lab menangkap kehidupan di kampungnya Solo sementara perupa Rudi dengan fotografinya dan Iwhan Gimbal dengan lingkungan grafisnya. Menurut Prof. Narsen sekaranglah titik ketiga perupa ini untuk memunculkan art yang mengandung masalah-masalah kemanusiaan global.

Dalam kesempatan yang sama, kurator Empu Bonyong Munny Ardi menilai ketiga mantan mahasiswanya melalui pameran ini membuktikan konsistensi terhadap pilihan seni yang mereka tekuni sejak masa kuliah di Solo.

Pustanto Kepala Galeri Nasional Indonesia mengaku kagum pada kelompok trio perupa UnTie yang melihat pandemi yang dianggap sebagai bencana bagi banyak orang, justru dianggap kelompok ini sebagai awal kebangkitan para seniman.

“Hal lainnya yang membuat saya terkesan, kelompok ini mampu cepat beradaptasi dengan keadaan saat ini yang sedang dilanda pandemi, melalui pemilihan media pameran yang menggunakan teknologi 360 derajat. Hal ini menunjukkan kemampuan bereksplorasi, daya kreativitas, kesungguhan, sekaligus dedikasi di jalan yang telah mereka pilih yaitu seni rupa,” tuturnya.

BACA JUGA :  Tommy F. Awuy; Retak- Rekat Adalah Sifat Dasar Bangsa Indonesia.

Sebagai rekan yang sama-sama berasal dari Solo, lanjutnya, dia merasa bangga terhadap trio perupa UnTie yang meski telah menekuni profesi masing-masing dan tinggal di kota yang berlainan, namun tetap menjadikan Solo sebagai tautan yang mengikat mereka untuk berkarya.

Menurut Pustanto ketiga perupa UnTie memilih jalan keseniannya di bidang seni rupa, yang melalui karya-karya kontemporernya turut berkontribusi dalam mengisi, mengembangkan, serta memajukan seni rupa Indonesia.(Algooth Poetranto/bn/16)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *