Trump dan Prabowo

Karyudi Sutajah Putra

Oleh: Karyudi Sutajah Putra

Di tengah ketegangan publik Amerika Serikat (AS) menantikan hasil penghitungan suara Pemilihan Presiden (Pilpres) 2020 yang digelar Rabu (3/11/2020), beredar di dunia maya foto Fadli Zon bersama Donald Trump, calon presiden petahana dari Partai Republik.

Joe Biden, capres penantang dari Partai Demokrat, akhirnya keluar sebagai pemenang dengan perolehan sedikitnya 290 “electoral votes”, dan segera melenggang ke Gedung Putih sebagai Presiden ke-46 AS. Tapi nanti dulu. Sebab Trump, yang dipecundangi dengan perolehan 214 “electoral votes”, yang diumumkan Sabtu (7/11/2020) siang waktu setempat, tidak mengakui kemenangan Biden. Trump bahkan menuduh Biden curang.

“Kita tahu fakta sederhananya adalah Pilpres AS ini belum berakhir,” kata Trump.

Langkah Trump ini mirip dengan Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019 di Indonesia. “Kami menolak semua hasil penghitungan Pilpres yang diumumkan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum),” kata Prabowo.

Mungkin karena itulah foto Fadli Zon bersama Trump, yang diambil di New York, AS, 3 September 2015, atau saat Trump kampanye sebagai capres dalam Pilpres 2016, dan Fadli Zon sebagai Wakil Ketua DPR RI, kembali viral di dunia maya. Mungkin karena Fadli Zon, yang akibat foto bersama Trump itu mendapat sanksi dari Mahkamah Kehormatan DPR, dikenal sebagai “tangan kanan” Prabowo.

Trump pun diasosiasikan dengan Prabowo. Bahkan kemudian ada seloroh, sebaiknya Trump mengikuti jejak Prabowo dengan menjadi Menteri Pertahanan selepas kalah pilpres.

Bukan hanya Trump yang terasosiasi dengan Prabowo. Pilpres AS 2020 pun terasosiasi dengan Pilpres RI 2019.

Dalam Pilpres AS 2020, Trump yang kembali berpasangan dengan Mike Pence sebagai cawapres, berhadapan dengan Joe Biden, mantan wapres dua periode dari Presiden ke-44 AS Barack Obama, berpasangan dengan Kamala Harris, yang kemudian terpilih sebagai wapres perempuan pertama di AS, masih kalah dengan Indonesia yang pada 1999 sudah memiliki wapres perempuan pertama, dan pada 2001 memiliki presiden perempuan pertama, ialah sosok yang sama: Megawati Soekarnoputri!

BACA JUGA :  Sakramen Untuk Mas Remy Sylado.

Sedangkan pada Pilpres RI 2019, Prabowo yang berpasangan dengan cawapres Sandiaga Uno menantang capres petahana Presiden Joko Widodo yang berpasangan dengan cawapres KH Ma’ruf Amin. Jokowi-Ma’ruf akhirnya keluar sebagai pemenang dengan perolehan suara 54,5 persen, sedangkan Prabowo-Sandi beroleh suara 45,5 persen.

Namun, Prabowo tidak langsung mengakui kemenangan Jokowi-Ma’ruf. Bahkan Prabowo menuduh pilpres sarat kecurangan, meski tanpa bisa menunjukkan bukti-bukti kecurangan tersebut, sebagaimana Trump dalam Pilpres AS 2020.

Prabowo bahkan mengklaim kemenangan hingga tiga kali dalam sehari, seperti yang dilakukan Trump. Namun, klaim Prabowo itu tak didukung data, sebagaimana klaim Trump.

Klaim Prabowo dan Trump juga sama-sama bertentangan dengan hasil “exit poll” sejumlah lembaga survei kredibel yang menyatakan kekalahan mereka.

Prabowo-Sandi kemudian mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK), namun ditolak. Trump-Pence pun dipastikan melancarkan gugatan ke Mahkamah Agung (MA) AS karena menganggap pilpres belum selesai. Akankah MA mengabulkan gugatan Trump sehingga Biden batal menduduki Gedung Putih? Biarlah waktu yang menjawab.

Apa yang dilakukan Prabowo pada Pilpres 2019 tak jauh berbeda dengan apa yang ia lakukan pada Pilpres 2014 saat berpasangan dengan cawapres Hatta Rajasa, sementara Jokowi berpasangan dengan cawapres Jusuf Kalla.

Apa yang dilakukan Trump pun sama dengan apa yang dilakukan Prabowo. Bedanya, Prabowo sebagai penantang, sedangkan Trump sebagai petahana. Jadi, kekalahan Trump ini dinilai lebih telak dan menyakitkan daripada kekalahan Prabowo.

Trump dan Prabowo sama-sama taipan. Bedanya, Trump itu sipil sedangkan Prabowo berlatar militer. Bedanya lagi, Prabowo mau menjadi Menteri Pertahanan RI, sedangkan Trump diprediksi akan menolak jika ditawari kursi Menhan AS oleh Biden. Saat kampanye, Trump bahkan sesumbar hendak meninggalkan AS jika gagal mempertahankan jabatannya. Akankah terwujud?

BACA JUGA :  Bintang dari Konawe, Benderang di Tokyo

Tim kampanye Prabawo mengusung politik identitas dalam Pilpres RI 2014 dan 2019. Begitu pun Trump dalam Pilpres AS 2016 dan 2020. Tapi kali ini Trump gagal sebagaimana Prabowo.

Ketenangan

Sesungguhnya kemenangan Biden sudah dapat dibaca dari sikapnya yang tenang dalam menunggu hasil penghitungan suara. Biden bersikap tenang. Ketenangan adalah setengah dari kemenangan.

Sebaliknya, Trump panik. Bahkan marah-marah. Kepanikan adalah setengah dari kegagalan.

Kepanikan Trump dipicu oleh ketakutan. Takut kehilangan kekuasaan. Sampai-sampai karakter dia yang sesungguhnya sebagai petarung pun rusak.

“Bukan kekuasaan yang merusak watak, melainkan ketakutan. Takut kehilangan kekuasaan merusak mereka yang berkuasa, takut dilanda kekuasaan merusak mereka yang dikuasai,” kata Aung San Suu Kyi saat menerima hadiah Nobel Perdamaian 1991.

Trump yang mudah panik dan temperamental ini tak berbeda jauh dengan Prabowo. Hanya saja, tampaknya Trump perlu belajar pada Prabowo. Meski sempat menolak, pada akhirnya mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI ini mengakui dan menerima kemenangan Jokowi-Ma’ruf, bahkan bersedia menjadi Menhan.

Prabowo merasa bisa memberikan kontribusi lebih baik bagi bangsa dan negara jika bergabung dalam pemerintahan, khususnya di bidang pertahanan. Ini bagus buat persiapan Prabowo menuju Pilpres 2024.

Trump, yang pada 2024 juga masih berpeluang maju capres lagi, pun mestinya demikian. Tak perlu menjadi Menhan atau menteri lainnya, tapi cukup mengakui kemenangan Biden dan dengan suka rela meninggalkan Gedung Putih. Perkara dia akan meninggalkan Amerika atau tidak, silakan saja. Toh Amerika kini sudah memiliki presiden baru: Joe Biden!

Karyudi Sutajah Putra, Pegiat Media, Tinggal di Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *