Film “ Perempuan Tanah Jahanam” Bersiap Menghantui Piala Oscar.

Deddy Mizwar dan Garin Nugroho. (SMJkt/Bb).

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — Komite Seleksi Oscar Indonesia (The Indonesian Oscar Selection Committe) memutuskan secara bulat memilih film “Perempuan Tanah Jahanam” sebagai utusan resmi Indonesia untuk berlaga di ajang Piala Oscar ke-93 tahun 2021, untuk kategori The International Feature Film Award. Atau dalam sebuah masa dikenal dengan nama Best Foreign Language

Film yang disutradarai Joko Anwar ini adalah produksi bersama Base
Entertainment, Ivanhoe Pictures, CJ E&M division, dan Rapi Films.

Film yang dibintangi Tara Basro ini, kali pertama dirilis 17 Oktober 2019, dan salah satu dari 59 film Indonesia yang dinilai oleh komite Oscar Indonesia.

“Tidak penting lagi genre sebuah film di ajang ini. Mau action sampai horror sekalipun. Yang paling penting memenuhi nilai-nilai lokalitas dan global sekaligus. Dan keputusan atas film ini dihasilkan dari perspektif masing-masing juri,” kata Garin Nugroho sebagai Ketua Juri Komite Oscar secara virtual, Selasa (10/11/2020) petang, didampingi Ketua Umum Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) Deddy Mizwar.

Garin Nugroho bekerja didampingi Alim Sudio, Tya Subiakto, Benni Setiawan, Widyawati, Chand Parwez Servia, Yudi Datau, Deddy Mizwar, Zairin Zain, Hanung Bramantyo, Ilham Bintang, Sentot Sahid, dan Tittien Wattimena.

Garin Nugroho menambahkan, menimbang dari pengalaman pribadinya, yang pernah mewakili Indonesia di ajang ini. Yaitu via film Memory of My Body (Kucumbu Tubuh Indahku), dan Daun Di Atas Bantal, dibutuhkan dukungan financial yang tidak sedikit untuk menarik perhatian anggota Dewan Juri Oscar, agar menonton film perwakilan sebuah negara.

“Memasang iklan di sejumlah majalah seperti Variety dll, serta mengadakan gathering itu biayanya tidak sedikit. Intinya, biaya PR-ingnya besar. Saya tidak pandai menghitungnya,” kata Garin sembari menawarkan duduk bersama pihak Pemerintah untuk membantu pembiayaan film Indonesia yang dikirim ke Oscars.

BACA JUGA :  HPN, Kejagung dan Forwaka Gelar Baksos

Hal senada dikatakan Zairin Zain. Sepengalamannya, saat membawa film Alangkah Lucunya Negeri Ini, di even yang sama, untuk menggaet 13 publisis terdepan di AS, sekaligus memasang iklan di sejumlah media yang beredar di even Oscar, “Paling tidak dibutuhkan tiga Miliar rupiah,” katanya. Meski demikian, PPFI enggan untuk mengemis kepada negara. “Kalau tidak ada negara, Kita tetep jalan,” imbuh Zairin Zain.

Untuk itulah Deddy Mizwar akan mengajak duduk bersama pihak Pemerintah agar hadir dalam even ini. Karena menurut dia, even ini bisa dijadikan ajang diplomasi.

“Kita akan mendesak Pemerintah untuk mengalokasikan dana di ajang ini. Karena value-nya. Kita akan membahasnya (Anggaran) dengan ketat,” kata Deddy Mizwar.

Segendang sepenarian, menurut Garin Nugroho, inilah saatnya Pemerintah menjadi PR yang baik. Karena persoalan PR- ing membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“Diperlukan langkah-langkah dasar yang kongkrit, sebagai investasi besar. Karena industri kreatif bukan semata persoalan ekonomi, tapi juga ada soft diplomasi di sana,” tekan Garin Nugroho.

PPFI.

Komite Seleksi Oscar Indonesia yang dibentuk oleh pengurus PPFI. Komite mulai bekerja 10 September lalu. Dan Keputusan diambil dalam rapat terakhir komite 15 Oktober lalu.

Sejak 1987 Seperti diketahui, Indonesia mulai berpartisipasi mengikuti ajang Piala Oscar untuk kategori Film Fitur Internasional Terbaik sejak 1987.

Penghargaan diberikan setiap tahun
oleh Academy of Motion Picture Arts and Sciences untuk film panjang yang diproduksi di luar Amerika Serikat yang sebagian besar berisi non -Dialog bahasa Inggris.

Hingga tahun 2019, dua puluh satu film Indonesia ikut berlaga dalam Academy Award untuk Film Berbahasa Asing Terbaik, namun tidak ada satupun yang berhasil masuk dalam nominasi penghargaan tersebut.

BACA JUGA :  Teka-Teki Hidup.

Panitia Oscar telah mengundang industri film dari berbagai negara untuk mengirimkan film terbaik mereka ke Academy Award untuk Film Berbahasa Asing Terbaik sejak 1956.

Komite Penghargaan Film Berbahasa Asing mengawasi proses dan meninjau semua film yang dikirimkan.

Setelah itu, mereka memberikan suara melalui pemungutan suara rahasia untuk menentukan lima nominasi untuk penghargaan tersebut. (Benny Benke – 69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *