Politik adalah Komedi Baru.

Oleh Benny Benke.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com
Di AS diam-diam ada kesadaran baru yang mengatakan; “Comedy is the new rock ’n’ roll”.

Tapi, kiwari, publik di AS, yang juga terbelah karena pilihan politiknya, seperti di sini pada sebuah masa yang belum lama, mempunyai simpulan anyar. Dengan mengatakan; “Politics is the new comedy”.

Ya, seperti dagelan, demikianlah politik. Karena, toh Politikus dan Popok memiliki satu kesamaan. Keduanya harus diganti secara teratur, dan berkala, untuk alasan yang sama. Menjaga kesehatan demokrasi.

Makanya yang lagi berkuasa jangan semena, apapun alasannya. Apalagi kepada lawan politiknya. Toh kekuasaan tak lebih dari sekedar Popok yang musti diganti. Apapun alasannya. Kalau tidak sekarang, pasti ya nanti.

Takutnya, lawan politik yang akhirnya berkuasa, akan mendendam kepada kekuasaan yang lama. Yang pernah menghinakannya. Untuk kemudian, gantian memenjarakan lawan politik lawasnya. Begitu seterusnya. Ngga rampung-rampung.

Karena, toh sebagai bahan bercandaan, Amerika yang dicitrakan sebagai negara adi daya. Yang didaku sebagai negara yang menghasilkan warga negara yang paling heroik. Yang akan sudi dan riang gembira menyeberangi lautan untuk memperjuangkan demokrasi, di negara liyan. Toh tetap gemar bercanda di dalam negeri.

Buktinya, warga negaranya sendiri, tidak akan sudi, bahkan untuk sekedar menyeberang jalan, untuk dan demi memilih, atau melunaskan hak politiknya.

Sehingga ada guyonan turunan, yang mengatakan, kaum Republik & Demokrat seperti orang tua yang bercerai. Yang lebih peduli tentang bagaimana membuat anak-anaknya saling membenci satu sama lain. Daripada berpikir tentang kesejahteraan mereka.

Makanya, ada doa favorit di kalangan masyarakat bawah AS, yang mengatakan; makhluk mistikal favorite mereka adalah Politisi Yang Jujur!

Kira-kira seperti ini narasinya; “Saya pernah bertemu dengan seorang politikus yang jujur, sangat perhatian, dan gemar mendengarkan semua keluhan rakyatnya, ketika sedang berbicara. Serta sangat sudi membantu negara. Namun, sayang saya terbangun dari tidur !?”

BACA JUGA :  Palestina Ditawari China Jadi Tuan Rumah Dialog dengan Israel

Tidak mengherankan Politik, sangat dipercaya, di masa pemilu Presiden seperti sekarang di AS, sukses membuat 50% lebih orang Amerika telah kehilangan akalnya.

Meski mereka sangat menyadari fatsun politik, yang mengatakan, Politik adalah seni mencari masalah, menemukannya, meski salah mendiagnosisnya. Untuk kemudian makin salah kaprah mengaplikasikannya.

Sehingga ada cerita makin lucu yang mengisahkah kenangan bersama publik AS. Yang menyatakan, malam yang paling mengerikan adalah malam Halloween di setiap tahunnya. Tapi, saat ini, malam paling mengerikan adalah Malam Pemilihan (Presiden). Karena banyak pendukung presiden inkumben yang menenteng senjata.

Makanya, ada pameo yang menjelaskan, jika Anda semua tidak termasuk bagian dari solusi di AS, maka jalan satu-satunya adalah Anda wajib mencalonkan diri sebagai calon Presiden.

Meski demikian, toh Trump malangnya tetap kalah. Meski dia adalah representasi kebodohan yang sebenarnya. Makanya lagi, that’s
why Trump can’t go to White house anymore? It’s FOR BIDEN.

Memahami politik, apalagi orang AS, dengan segala perangainya memang bikin mumet sekali. Seperti peliknya memahami orang Indonesia dengan segenap kehidupan politiknya.

Bisa bikin semaput. Sebagaimana peliknya memahami pasangan hidup kita masing-masing.

Meski katanya, sebagaimana nasehat para tetua, untuk berbahagia dengan seorang pria, Anda harus banyak memahaminya, dan sedikit mencintainya.

Tapi, untuk berbahagia dengan seorang wanita, Anda harus sangat mencintainya, dan tidak atau jangan coba berusaha untuk memahaminya sama sekali. Bisa gila. Segila berpayah-payah memahami politik.

Panjang umur kemanusiaan. (Bb-69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *