Super You, Bayi Baru Lahir yang Mendapatkan Sertifikasi Internasional

Head of Digital Channel Sequis Evan Tanotogono. (Foto: Sequis for Suara Merdeka)

IBARAT manusia, Super You ini masih bayi. Usianya baru satu tahun. Namun, perusahaan asuransi digital Sequis ini sudah diakui internasional. Diluncurkan pada 6 November 2019, setahun kemudian langsung mendapatkan sertifikasi ISO 27001.

Tepatnya pada Oktober 2020, Super You memperoleh pengakuan tersebut. ISO 27001 adalah sertifikasi standar internasional untuk information security management bagi penyedian produk asuransi digital.

Perusahaan yang memiliki sertifikasi ini berarti telah menjamin keamanan dan kenyamanan nasabah karena sertifikasi ISO 27001 memiliki manfaat untuk mengurangi kemungkinan adanya pelanggaran keamanan digital dan menjadi bukti komitmen perusahaan untuk menjaga kerahasiaan data nasabah.

Dan, menunjukkan bahwa perusahaan telah mempunyai tata kelola informasi yang baik dan sesuai dengan peraturan, hukum, serta undang-undang yang berlaku di Indonesia.

“Keberhasilan mendapatkan sertifikasi ISO 27001 dan sejumlah aktivitas yang telah dilakukan oleh Super You menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berinovasi agar Super You dapat menjadi salah satu top of mind dan pilihan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan asuransi jiwa dan kesehatan yang mudah, terjangkau, dan serba digital,” ujar Head of Digital Channel Sequis Evan Tanotogono.

Saat ini,  Super You by Sequis Online memiliki empat produk asuransi dengan premi terjangkau mulai Rp 30 ribuan, yaitu Super Life Protection (asuransi jiwa), Super Strong Protection (asuransi jiwa dan penyakit kritis), My Hospital Protection (asuransi santunan rawat inap), dan Super Safe Protection (asuransi kecelakaan diri). Keempat produk ini dapat diperoleh melalui proses yang mudah, cepat, dan tanpa harus melakukan interaksi tatap muka. Pembeliannya dapat dilakukan secara online melalui superyou.co.id.

Dalam perayaan ulang tahun perdananya, Super You ingin berkontribusi bagi negeri ini, khusunya di bidang kesehatan. Salah satu agenda yang diselenggarakan adalah Talkshow bertajuk #SuperONEderful dengan membahas “Social Anxiety, How to Cope With it?” yang digelar secara virtual, Jumat (6/11/2020) malam.

BACA JUGA :  Bio Farma Siap Pasok Vaksin Covid-19 Hingga 18 Juta Dosis

Narasumber yang dihadirkan adalah Psikiater & Ahli Psikosomatis RS OMNI Hospital Alam Sutera dr Andri, Sp.KJ dan Content Creator Kesehatan Mental Dimas Alwin. Adapun Head of Digital Channel Sequis Evan Tanotogono didaulat menjadi keynote speaker.

Pada hari jadi pertamanya ini, Evan memiliki banyak harapan terkait Super You. Pihaknya ingin asuransi digital yang dikelolanya terus berkembang dan semakin memberikan kenyamanan bertransaksi kepada para pelanggan. “Karena baru mulai di kancah asuransi, kami ingin memberikan yang terbaik dan ingin menolong orang. Saat ini orang semakin aware terhadap kesehatan, kesehatan sangat dibutuhkan,” kata Evan.

Selama pandemi Covid-19 ini, kesehatan menjadi perbincangan hampir semua orang. Mulai tempat nongkrong, obrolan tukang ojek, emak-emak di pasar hingga pejabat pemerintahan selalu membahas masalah ini. Untuk itu, Talkshow yang diangkat sangat relevan dengan kondisi sekarang, seperti social anxiety atau kecemasan sosial, salah satunya akibat terlalu banyak berdiam diri di rumah lantaran  Covid-19.

Melalui webinar itu, lanjut Evan, Super You ingin memberikan pemahaman tentang manfaat asuransi sebagai jaring pengaman finansial keluarga dari berbagai potensi ancaman risiko yang datangnya tidak terduga, misalnya saat terjadi risiko gangguan kesehatan yang memerlukan perawatan medis maka asuransi kesehatan akan terasa manfaatnya.

“Masalah kesehatan mental sedang menjadi isu hangat di masyarakat, terutama pada generasi milenial Beberapa orang mungkin ada yang mengalami kecemasan sosial. Untuk itu, kami ingin berbagi pengetahuan dengan mengundang pembicara ahli agar para milenial mengetahui cara terbaik untuk merespon kecemasan sosial dan tidak meremehkannya karena dapat berdampak negatif pada berbagai aspek kehidupan. Kami pun mengimbau para milenial untuk peduli hidup sehat sebab jika kesehatan terganggu, dampaknya semakin meluas termasuk terganggunya finansial,” tutur Evan.

BACA JUGA :  Cegah Covid19, Jateng siaga hadapi libur panjang

Kecemasan Sosial 

Dalam talkshow, Psikiater & Ahli Psikosomatis RS OMNI Hospital Alam Sutera dr Andri, Sp.KJ mengupas tuntas mengenai kecemasan sosial. Menurut dia, kecemasan sosial adalah kondisi ketika seseorang merasa cemas dan takut ketika harus bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain. Banyak orang menyebut masalah ini dengan istilah demam panggung.

Dimas Alwin (kiri atas), Evan Tanotogono (kanan atas) dan dr Andri. (Foto: Sequis for Suara Merdeka)

Dokter Andri lalu menjelaskan tanda-tanda atau gejalanya. Yakni timbulnya benjolan di tenggorokan, berkeringat, gemetar, jantung kerap berdebar kencang, ketegangan otot, nyeri, mual, atau pusing. Ada juga perasaan ingin melarikan diri, dirundung perasaan bersalah, dan selalu ingin menghindar ketika harus tampil di depan umum atau ketika harus menjadi pusat perhatian.

Adapun penyebab kecemasan sosial atau fobia sosial, antara lain karena faktor trauma masa lalu atau luka batin dan faktor genetik. Untuk trauma masa lalu, dia mencontohkan saat seseorang masih kecil sering mendapat rundungan atau bully dari teman-temannya, sehingga untuk melakukan sesuatu akan takut.

Dan, orang yang mengalami masalah ini susah disembuhkan. Sebab, mereka selalu mencoba menghindari bertemu orang lain. Sama halnya dengan orang yang takut dengan ular, naik pesawat atau naik lift, maka hal itu akan selalu dihindari.

“Pada beberapa kasus, fobia sosial termasuk yang sulit disembuhkan, baik dengan obat atau psikoterapi. Ketika diminta berhadapan dengan situasi itu, dia tidak mau. Ini yang jadi problem bagi yang mengalaminya,” ungkap dr Andri.

Dia menyarankan, bagi orang yang mengidap fobia sosial, agar tetap memberanikan diri untuk berkonsultasi dengan psikiater, psikolog atau dokter klinis. Dia tidak menyarankan untuk mengonsumsi alkohol yang katanya biar lebih percaya diri. Menurut dr Andri, hal itu justru akan menimbulkan masalah baru yang tidak diinginkan. “Jadi tetap jaga kesehatan,” jelasnya.

BACA JUGA :  4 Kesalahan Acap Dilakukan Kala Mencuci Baju.

Content creator kesehatan mental Dimas Alwin menuturkan, ada beberapa trik yang bisa dilakukan jika seseorang mengalami gejala kecemasan sosial. Selain berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog, orang pengidap kecemasan sosial harus memberanikan diri berinteraksi secara nyata, bukan hanya lewat handphone atau media sosial. “Minimal, mulailah dengan keluarga dulu, bisa dengan adik, kakak atau orangtua. Jadi perbanyak berinteraksi dengan orang lain secara  nyata,” kata Dimas Alwin, yang juga mahasiswa Universitas Gunadarma ini.

Selain itu, perbanyak aktivitas dengan teman-teman, seperti berolahraga bareng, mengerjakan tugas bersama-sama atau bekerja secara gotong royong. Namun, Dimas punya trik tersendiri untuk menyelesaikan kecemasan yang menderanya. “Kalau aku dengan cara meditasi, dengerin suara laut, hujan atau angin sebelum tidur. Kalau tidak pengaruh, saya curhat ke teman dekat atau keluarga. Ketika kita cemas, ada benang kusut di otak, lalu orang yang kita ajak curhat akan membantu narik nenang kusut di otak sampai lurus, ibaratnya seperti itu,” jelasnya.

Lalu, bagi Anda yang memiliki gejala atau tanda-tanda kecemasan sosial seperti yang diutarakan para ahli di atas, mungkin bisa mengobatinya seperti trik-trik yang disampaikan dr Andri atau Dimas Alwin. Semoga berhasil. (bal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *