Hadirnya KRL dan Batalnya Pembangunan Jalan Tol Yogyakarta-Solo Oleh: Akhmad Sujadi Pemerhati Transportasi

DALAM waktu tidak terlalu lama kereta rel listrik (KRL) Yogyakarta-Solobalapan (Jogja-Solo) akan hadir. Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian telah merampungkan pembangunan prasarana listrik aliran atas (LAA) sebagai sarana penyalur listrik dari PLN ke mesin penggerak di dibawah Body KRL.

Warga Yogyakarta, Lempuyangan, Maguwo, Prambanan, Klaten, Delanggu, Purwosari hingga Solo sekitarnya akan dapat menikmati transportasi kereta listrik seperti warga di Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) dan Banten yang telah menikmati ber-AC yang aman, nyaman dan modern.

KRL di Indonesia hadir sejak jaman belum merdeka, tepatnya sejak tahun 1925. Ketika itu kereta kayu ditarik lok listrik yang dikenal dengan Si-Bonbon. Jaringan LAA di Jakarta pertama kali dibangun antara Tanjung Priok-Jatinegara oleh Belanda. Sedangkan KRL baru lahir tahun 1976 ketika kereta Jepang masuk Indonesia. Lalu tahun 2000 PT. KAI mendapat hibah KRL AC dari Jepang. Hibah ini memicu PT. KAI dan Kemenhub terus mengembangkan KRL menjadi transportasi yang aman, nyaman dan modern.

Pengembangan KRL di Jabodetabek dan Banten oleh Ditjen Perkeretaapian terbukti dapat meningkatkan nilai ekonomi. Perumahan di sekitar stasiun baru pada lintas Jakarta-Bogor tumbuh pesat. Kemudian lintas Jakarta-Bekasi-Cikarang juga disambut perusahaan property secara antusias. Demikian juga perluasan KRL hingga ke Maja dan Rangkas Bitung, telah meningkatkan aktivitas masyarakat pada daerah lintasan KRL.

Warga Jogja-Solo dan sekitarnya harus bersyukur dengan hadirnya KRL Jogja-Solo yang akan menggantikan angkutan perkotaan antara Yogyakarta-Solobalapan yang dikenal dengan KA Prameks. Kereta Prameks yang dilayani dengan kereta konvensional maupun kereta rel disel tidak ber-AC dan kurang nyaman. Hanya kecepatan menjadi andalan.

Keunggulan KRL ber-AC dibanding kereta konvansional dan KRD, KRL lebih bersih, lebih aman, lebih nyaman karena ber-AC. Listrik selalu menyala sehingga keretanya terang benderang, suaranya tidak bising dan kecepatan bisa dipacu hingga 100 km/jam.

BACA JUGA :  Amar Bank Dukung Literasi Keuangan Bersama Komunitas Melalui Program Edukasi “Ngopi Bareng Bang Amar”

Jarak Jogja-Solo yang hanya 63, 9 km setara dengan jarak Jakarta-Bogor. Hanya saja lintas Jogja-Solo jalanya lurus, sehingga waktu tempuh KRL Jogja-Solo bisa lebih singkat.

Pengguna KRL di Jabodetabek dan Banten bukan hanya kalangan akar rumput dan pelajar saja. Pengguna KRL Jabodetabek mulai karyawan rendahan, pelayanan toko, kuli angkut di Pasar Tanah Abang, para pejabat hingga direktur perusahaan yang care terhadap angkutan umum dan berhemat.

KRL Jabodetabek dan Banten sudah melekat di hati rakyat dan menjadi tulang punggung transportasi darat. Terlebih tarifnya disubsidi negara melalui Kemenhub, Direktorat Jenderal Perkeretaaapian, sehingga pengguna diuntungkan.

Tujuan pemberian subsidi tentu agar tarif yang seharusnya mahal untuk biaya operasi menjadi tarif terjangkau telah menjadikan KRL sebagai transportasi utama. Masyarakat, Jabodetabek dan Banten sudah merasakan nikmatnya naik KRL. Karena itu pengoperasian KRL Jogja-Solo hendaknya dimanfaatkan masyarakat untuk mobilitas pada lintas tersebut.

Bila pengoperasian KRL ini sukses, pemerintah tidak segan untuk memperpanjang lintasan KRL hingga ke Sragen-Madiun bahkan mungkin hingga ke Surabaya. Untuk kearah barat bisa sampai Stasiun Kutoarjo yang tidak melewati terowongan.

Hadirnya KRL Jogja-Solo diharapkan akan mengalihkan pengguna kendaraan pribadi antara kedua kota dan pada kota-kota pada lintas tersebut, sehingga kehadrian KRL akan menghemat ruang, BBM, waktu dan mempercepat mobiltas warga.

KRL yang aman, nyaman, cepat dan modern bakal diminati masyarakat. Terlebih system tiket yang modern akan memberikan daya tarik dan gaya hidup bagi warga kota pelajar dan kota budaya di Jateng dan DIY tersebut.

Dampak lain warga akan meninggalkan kendaraanya di stasiun-stasiun terdekat dengan tempat tinggal seperti di Jabodetabek, sehingga akan tumbuh perekonomian di sekitar stasiun.

BACA JUGA :  Perusahaan Saudi Siap Sambut Jamaah Umrah Internasional

Sebelum ada KRL stasiun-stasiun antara Jogja-Solo tidak berkembang karena hanya dilintas kereta saja. Kereta jarak jauh tidak singgah, sehingga aktivitas stasiun hanya untuk melayani perjalanan kereta api (Perka) saja.

Dengan hadirnya KRL semua stasiun dapat hidup karena dipakai untuk naik dan turun penumpang sehingga stasiun di sepanjang Jogja-Solo dapat tumbuh dan berkembang. Hidupnya stasiun akan meningkatkan nilai ekonomi. Toko, warung makan, parkir dan aneka kegiatan akan hidup dengan hadirnya KRL, hadirnya pengguna jasa dari semua stasiun.

Keunggulan KRL yang berhenti di setiap stasiun akan membuka konektivitas antar wilayah, antar daerah yang semula tidak ada akses akan terhubung dengan stasiun untuk naik KRL. Pendek kata hadirnya KRL Jogja-Solo akan menumbuhkan bisnis baru di sekitar stasiun sepanjang lintas Jogya-Solo.

Perusahaan property sudah pasti akan membangun kawasan perumahan di sekitar stasiun karena kemudahan transportasi umum yang mendorong mobilitas warga.

Hadirnya KRL Jogja-Solo juga diharapkan menggugah pemegang kebijakan untuk membatalkan pembanguan jalan tol Jogja-Solo.

Memilih KRL adalah hal bijak dalam bertransportasi. Membatalkan pembangunan jalan tol Yogyakarta-Solo sangat bijak demi lestarinya lingkungan. Lestarinya alam, lestarinya pangan dan utuhnya cagar budaya yang sebelumnya akan tergusur jalan tol. Jalan tol kurang dibutuhkan dengan hadirnya KRL Jogja-Solo. Semoga.(Ahmad Sujadi,Pengamat Trasnportasi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *