Mewaspadai Penyebaran Norovirus

 

Oleh Naela Fadhila

KITA masih sibuk menangani wabah Coronavirus disease 2019 (Covid-19) yang bermula muncul di Wuhan, Tiongkok, akhir tahun lalu. Kini muncul lagi wabah yang berasal dari negara tersebut. Dilaporkan, sebanyak 11 kasus mahasiswa di sebuah universitas di Taiyuan, Ibu Kota Provinsi Shanzi, Tiongkok, positif terjangkit Norovirus. Infeksi Norovirus mengakibatkan beberapa mahasiswa di Tiongkok mengalami gejala muntah, diare, dan demam.

Kasus yang kadang disebut flu perut ini terjadi di wilayah Shanxi, dan mendapat penanganan fasilitas kesehatan. Penyakit akibat Norovirus disebut stomach flu atau stomach bug. Penyakit ini tidak berhubungan dengan flu yang disebabkan virus Influenza. Walaupun lazim disebut sebagai flu perut, Norovirus tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan virus Influenza penyebab flu.

Pertanyaan yang sempat menggelitik, akankah penyakit akibat Norovirus ini akan mendunia, seperti halnya Covid-19? Sebenarnya Norovirus bukanlah virus baru, bahkan bisa ditemukan di banyak negara. Biasanya bermula dari restoran yang makanannya tercemar oleh Norovirus, dan akhirnya terjadi kejadian luar biasa akibat banyak pelanggan restoran tersebut yang terinfeksi. Ada hal yang kita waspadai tentang penyakit ini. Belum diketahui bagaimana atau sampai berapa lama sistem kekebalan tubuh bisa melawan Norovirus tersebut.

Artinya semua orang di usia berapapun berisiko terpapar Norovirus. Penyebaran Norovirus dapat dengan mudah melalui makanan dan minuman dan dapat berdampak besar pada kesehatan masyarakat. Bahkan di Amerika Serikat, rata-rata Norovirus menyebabkan 19 juta sampai 21 juta kasus. Meskipun begitu, kasus infeksi Norovirus umumnya tidak terjadi sepanjang tahun, terutama pada musim dingin. Karena itu, orang-orang juga menyebutnya sebagai “infeksi muntah musim dingin”. Orang bisa terinfeksi Norovirus saat mereka mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi. Tiram mentah atau setengah matang serta buah-buahan dan sayuran mentah bisa menjadi penyebab wabah.

BACA JUGA :  Waspada Banjir saat Pandemi

Kita juga bisa terinfeksi Norovirus bila menyentuh benda atau permukaan yang telah terinfeksi virus lalu menyentuh hidung, mulut, dan mata. Diketahui, virus ini dapat ditularkan hingga delapan minggu. Artinya, ada kemungkinan seseorang dapat menularkannya kepada orang lain. Namun, biasanya infeksi ini semakin berkurang seiring waktu. Dalam kebanyakan kasus, seseorang dapat kembali bekerja atau melakukan aktivitas setelah bebas dari gejala selama 48 jam.

Meskipun begitu, bagi mereka yang bekerja sebagai pelayan makanan umumnya didorong untuk karantina selama 72 jam sebelum melayani pelanggan kembali. Hal ini untuk mencegah penyebaran yang lebih luas lagi. Norovirus adalah virus yang terdapat di lingkungan sekitar dan bisa menginfeksi hingga menyebabkan penyakit lewat kontak langsung dengan orang yang terinfeksi, mengkonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi, serta menyentuh mulut dengan tangan yang terkontaminasi Norovirus. Norovirus mudah menyebar lewat air dan makanan sebelum masuk ke tubuh manusia. Karena itu air dan makanan harus benarbenar bersih sebelum dikonsumsi atau digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Bagi kebanyakan orang, infeksi Norovirus biasanya hilang dalam beberapa hari dan tidak mengancam jiwa. Tetapi, pada beberapa kasus, terutama anak-anak, dan lansia, infeksi Norovirus dapat menyebabkan dehidrasi parah. Adapun gejala seseorang mengalami dehidrasi parah yakni, kelelahan, mulut dan tenggorokan kering, kelesuan, pusing, dan kualitas kencing menurun.

Ada sejumlah gejala yang dialami penderita Norovirus, antara lain mual-muntah, sakit perut atau kram dan diare. Badan terasa tidak nyaman, demam ringan dan nyeri pada otot-otot seperti umumnya orang sakit flu. Gejala ini biasanya muncul mulai 12-48 jam setelah seseorang terpapar Norovirus dan berlangsung 1-3 hari kemudian. Adapun seorang penderitanya dapat terus diare yang berlangsung hingga dua minggu setelah pemulihan.

BACA JUGA :  Penguatan UMKM pada Era Digital

Adakalanya diare ini bisa berlangsung lama. Namun, beberapa penderita infeksi norovirus tidak menunjukkan gejala. Bahayanya, mereka tetap menularkan dan menyebarkan virus kepada orang lain. Hingga saat ini tidak ada obat spesifik untuk menangani Norovirus. Mereka yang sakit akibat Norovirus disarankan banyak minum, untuk menggantikan cairan yang hilang saat muntah dan buang air besar. Banyak minum mencegah pasien Norovirus mengalami dehidrasi yang berisiko memperburuk kondisi kesehatannya.

Meskipun begitu, dianjurkan segera ke dokter jika kondisi makin parah dan terlihat gejala dehidrasi misal jumlah urin yang berkurang, mulut dan tenggorokan terasa kering, dan merasa pusing saat berdiri. Pada prinsipnya, penyakit infeksi Norovirus sebetulnya bisa dicegah dengan melakukan pola bersih hidup, sehat, dan mengenali virus ini.

Pola hidup bersih dan sehat merupakan upaya pencegahan efektif untuk menghadapi Norovirus. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum makan, menyiapkan hidangan, dan setelah menggunakan toilet atau mengganti popok. Hindari makanan dan air yang terkontaminasi, termasuk makanan yang mungkin telah disiapkan oleh seseorang yang sedang sakit. Buang muntahan dan kotoran secara hati-hati untuk menghindari penyebaran Norovirus melalui udara. Cuci buah dan sayuran sebelum makan. Memasak seafood sampai bersih.

Bersihkan seluruh makanan sebelum dikonsumsi dengan air bersih dan masak hingga benarbenar matang, termasuk untuk seafood bercangkang. Jangan menyiapkan makanan atau pengobatan untuk orang lain hingga gejala berhenti dan tidak menginfeksi orang lain. Cuci baju atau perlengkapan lain yang terpapar muntah atau feses dengan baik. Saat mencuci sebaiknya gunakan sarung tangan untuk menekan risiko penularan.

Norovirus biasanya masih berisiko menginfeksi lingkungan sekitar, meskipun kondisi orang yang sakit telah makin baik dan sehat. Karena itu, mereka yang terinfeksi Norovirus disarankan meminimalkan kontak dengan lingkungan sekitar, air, dan makanan hingga dua hari untuk menekan peluang penularan. (46)

BACA JUGA :  Joko Menangkap Joko

— dr Naela Fadhila MKes, staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *