WALHI Ingatkan Dampak Buruk BBM RON Rendah

JAKARTA – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengingatkan, dampak buruk penggunaan bahan bakar minyak (BBM) beroktan rendah. Mulai dari pencemaran udara hingga gangguan kesehatan, termasuk penurunan tingkat kecerdasan.

“Dampaknya sangat buruk. Terutama pada kesehatan golongan rentan yaitu orang tua dan anak-anak,” kata Dwi Sawung, Manajer Kampanye Perkotaan dan Energi WALHI Nasional dalam keterangannya kepada media di Jakarta, Sabtu (31/10/2020).

Hal ini karena pembakaran BBM tersebut tidak sempurna dalam ruang bakar yang menyebabkan peningkatan emisi dan menyebabkan polusi udara. Dampak ini banyak ditemui di perkotaan. Mereka yang berjalan kaki pun bisa terpapar.

Bahkan, lanjut Sawung, saking berbahayanya BBM RON rendah sampai-sampai pengguna mobil pribadi ber-AC dengan kaca tertutup pun, tak luput dari ancaman polusi di jalanan.

“Masih bisa (masuk ke dalam mobil). Ada partikel tertentu yang tetap masih bisa masuk ke dalam kendaraan. Tidak hanya lingkungan dan kesehatan. BBM RON rendah juga berdampak buruk terhadap sisi ekonomi. Kerugian akibat penurunan kualitas udara dan gangguan kesehatan, misalnya, memiliki kompensasi biaya yang sangat mahal. Jadi betapa besar kerugian ekonomi akibat penurunan kecerdasan anak-anak dan juga gangguang kesehatan terhadap masyarakat,” jelas Sawung.

Dampak buruk tersebut, lanjut Sawung, karena sektor transportasi memang menjadi penyumbang yang cukup signifkan terhadap polusi udara. Sekitar 40 persen total emisi, merupakan kontribusi dari sektor tersebut. Dampak buruk makin dirasakan di berbagai kota besar, seperti Jakarta. Dengan BBM RON rendah tentu polusi makin tinggi. Ada sulfur dan juga hidrokarbon yang jauh lebih banyak dibandingkan BBM RON tinggi.

Mengingat bebagai dampak buruk itulah, mau tidak mau peralihan penggunaan BBM RON rendah menuju RON tinggi memang harus segera diimplementasikan. Apalagi secara aturan, sebenarnya penerapan sudah harus dilakukan pada tahun lalu.

BACA JUGA :  KNKT Sarankan Sejumlah Rekomendasi

“Kita sudah sangat terlambat. Aturan sudah dibuat, tetapi penegakan aturan yang sangat lemah bahkan tidak ada,” kata Sawung. (bal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *