Bungah.

Oleh Benny Benke.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — Berbahagialah karena hal-hal kecil dalam hidup ini. Karena kebahagiaan yang ditimbulkan dari hal-hal kecil, ternyata banyak memberikan manfaat. Terutama bagi kesehatan kita.

Karena kita happy, peningkatan kesehatan jantung ikut terjadi. Dengan seneng hati, kemampuan memerangi stres dalam hidup di masa pandemi, menjadi lebih efektif.

Dengan kita happy, karena alasan sepele, sistem kekebalan tubuh kita, dipercaya menjadi lebih kuat. Karena kita bungah, mengakibatkan gaya hidup sehat secara keseluruhan.

Intinya happy, meski karena hal sepele, dipercaya dapat membantu mengurangi rasa sakit, meningkatkan umur panjang. Juga mengakibatkan pengambilan keputusan menjadi lebih baik. Turunannya, pemecahan masalah menjadi kreatif. Tatag. Juga menjadi peningkatan produktivitas individu dan tim.

Gampangnya, happy adalah Koentji.

Sejumlah buku mengintisarikan,
kebahagiaan sejati adalah menikmati kebersamaan Anda sendiri, dan hidup Anda dalam kedamaian dan harmoni dengan tubuh, pikiran, dan jiwa Anda.

Kebahagiaan sejati adalah keadaan pikiran yang terus-menerus mencintai diri sendiri. Untuk menjadi benar-benar bahagia, Anda tidak membutuhkan orang lain atau hal-hal yang materialistis.

Kebahagiaan adalah konsekuensi dari usaha pribadi. Rahasianya adalah menjadi diri sendiri dan memilikinya sepenuhnya. Atau seperti yang dikatakan oleh Neil Pasricha, penulis buku terlaris # 1 The Happiness Equation, “Jadilah dirimu dan jadilah keren dengannya.”

Seperti yang dikatakan Pasricha, “Menyesuaikan diri dengan diri Anda yang sejati, aneh, awut-awutan dan otentik tidaklah mudah, tetapi ini adalah cara yang paling memuaskan untuk memiliki segalanya.”

Singkatnya. Meski diri Anda mbruwet, tidak jelas, absurd, mbingungi, lintang pukang, helterskelter, ora popo. Sing penting hepi. Dan gampang hepi karena hal-hal remeh.

Berangkat dari kesadaran itulah, saat warta datang ke saya, dari sebuah usaha penerbitan di Yogyakarta, yang mengabarkan akan menerbitkan novel saya — yang telah “mondok” di meja mereka selama nyaris tiga (3) tahun –, gegara Cerpen saya naik di Harian Kompas, baru-baru ini, membuat bungah saya seketika.

BACA JUGA :  Menyingkap Doktrin Terorisme

Novel yang saya tulis 15-20 tahun lalu, berdasarkan kejadian di tahun 90-2000 an itu, tentu bukan karya babon. Hanya sekedar medium pelipur lara demi merawat kewarasan. Yang bernarasi tentang hal-hal sepele. Dari kisah manusia semenjana.

Judulnya saja, Mari Menari; Kisah Sepertemuan Tentang Orang-orang Yang Belum Selesai Dengan Dirinya Sendiri.

Jadi, yang ceritanya nggak akan “selesai”. Apalagi struktur berceritanya yang tidak dibangun dari kesadaran bercerita karya magnum opus. Ini novel yang ditulis dengan perasaan happy, dan tidak memburunya harus bersegera diterbitkan, karena satu dan lain hal.

Ini pokoknya nulis saja, sebagaimana dinasehatkan bu Dini (N.H Dini), saat masih mengajar di “madrasah” kami; “Tidak penting tulisanmu dibaca atau dikaji orang. Yang penting kalian nulis dulu. Nulis apa saja. Bahkan tentang tetangga kalian yang beli sepeda baru, sementara kalian hanya mampu berjalan kaki tanpa sepatu. Nah, jelesinya akan terlihat dan terasa di tulisan kalian. Pokoknya nulis saja. Nanti juga akan menajam sendiri tulisan kalian. Bagaimana mungkin tulisan kalian mau berkedalaman, jika mengasah tulisan saja tidak dilakukan. Pokoknya nulis saja dengan happy”.

Demikian kira-kira nasehat bu Dini. Yang saat itu, kami simak dengan sambil lalu, karena ruang kelas kami sumuknya Masya Allah. (Nyuwun sewu bu. Al-Fatehah).

Nah.. menulis sebagai terapi itulah, yang mendasari novel yang “mondok” hampir tiga tahun, yang akan diterbitkan ini. Meski sebenernya, oleh mas Jodhi Yudono (suwun, mas), novel ini telah ditayangkan di Kompas.Com di tahun 2009 sebagai cerita bersambung (cerber).

Jadi ini novel lawas, yang bercerita tentang hal-hal yang tidak selesai. Dari orang-orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri (wis, angel, angel tenan). Novel yang terlalu lama diperam, yang sangat bisa jadi, malah tak terkait dengan masa kini. Dan menjadi sangat tidak bermutu jika dibaca oleh persona yang sudah selesai dengan gramatika bacaan susastra. Dan buku kanon lainnya.

BACA JUGA :  Guru, Amaliahmu Abadi.

Karena kejernihan, apalagi kedalamannya, bisa jadi sangat tidak seberapa. Bukan apa-apa. Ora ono apa-apane. Cetek!

Tapi, masih menurut bu Dini, setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri. Jadi, jangan menyepelekan sebuah karya tulisan!

Atau menurut mas Rem (Remy Sylado); “Wis…pokoe nuliso. Nulis opo wae, sakkarepu. Sembarang. Sing penting seneng atimu. Tulisan sing mangkat seko roso seneng, hasile yo nyenengke. Nyenengke awakmu dewe, paling ora. Yen nulismu mbek nesu…yo ra popo. Nesuo lewat tulisan. Bar kui lerep atimu”.

Jadi, ya begitulah novel itu lahir. Novel lawas, yang semoga terkait di masa kini, dan menemukan pembacanya, dengan cara yang paling sederhana dan ajaibnya. Sing penting, semoga bisa bikin seneng pembacanya. Karena menemukan hal-hal kecil yang berkerlip di novel lawasan ini. Sing penting hepi. Bungah.

Halah, la belum tentu juga jadi terbit novelnya….Wong masih janji dan rencana. Ora popo, sing penting hepi sik. Wani tok pokokmen.

Oh ya, satu lagi. Ada WA yang masuk ke saya dari nomor tak dikenal. Setelah memperkenalkan diri, ternyata guru saya, Dosen di Fakultas Sastra, Undip, namanya Yudiono KS, yang maos cerpen yang sama. Salim Pak. Marakke mbrambang…haru. (BB-69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *