Jurus Ampuh Digitalisasi Maybank

 

 

SEJAK Pemerintah mengesahkan UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) ekonomi berbasis digital di Indonesia bergerak sangat cepat, disusul produk hukum UU No. 19 Tahun 2016 yang menjadi dasar dalam pemanfaatan teknologi informasi dan transaksi elektronik dalam ekonomi berbasis digital.

Potensi pasar yang besar membuat ekonomi berbasis digital di Indonesia cenderung agresif. Hal ini dapat dilihat dari Indeks Evolusi Digital tahun 2019 yang disusun The Fletcher School dan Mastercard yang memasukkan Indonesia berada dalam kuadran Break-Out.

Meski masih tergolong di dalam kuadran Break-Out, ini tidak main-main karena negara yang masuk kelompok ini meski memiliki skor relatif rendah namun akan berevolusi secara cepat dan memiliki potensi untuk menjadi negara dengan ekonomi digital yang kuat.

Indonesia bersama kelompok negara-negara Break-Out tak ubahnya belalang super yang siap melompat tinggi melampaui negara-negara dalam kuadran Stall out, negara-negara yang telah mencapai level tinggi dalam evolusi digital namun sangat beresiko tertinggal karena laju yang lambat. Kelompok ini antara lain negara-negara Eropa, Amerika hingga Korea Selatan.

Lompatan Indonesia berpotensi lebih cepat jika melihat wabah Covid-19 yang menciptakan kondisi normal baru dimana kontak fisik berkurang sangat drastis yang secara langsung membuat transaksi secara manual berkurang beralih pada transaksi digital.

Dilansir dari data Bank Indonesia, volume transaksi digital perbankan pada April 2020 meningkat signifikan sebanyak 37,35 persen (yoy). Perkembangan ini mengindikasikan menguatnya kebutuhan transaksi ekonomi dan keuangan digital di tengah wabah pandemi virus korona (covid-19).

Sejalan dengan kegiatan ekonomi yang menurun, transaksi nontunai menggunakan ATM, kartu debit, kartu kredit, dan uang elektronik pada April 2020 juga menurun dari minus 4,72 persen pada Maret 2020 menjadi minus 18,96 persen (yoy). Sementara tren transaksi uang elektronik pada April 2020 tetap tumbuh tinggi mencapai 64,48 persen (yoy).

Tren di Indonesia rupanya sejalan dengan yang terjadi di negara-negara Asia Tenggara. Tak heran jika kemudian Boston Consulting Group menilai wabah Covid-19 dan dampaknya akan mendorong lebih banyak rumah tangga di Asia Tenggara untuk menerapkan pembayaran digital. Ini artinya, pemain keuangan dengan sistem pembayaran digital yang terintegrasi, aman dan mudah menjadi pilihan utama konsumen.

BACA JUGA :  Presiden Lepas Ekspor Pertanian ke 61 Negara

Bagi perbankan, kondisi ini adalah tantangan sekaligus peluang. Ada musuh baru bernama fintech (financial technology) yang juga memberikan service terbaik untuk transaksi keuangan secara digital. Ada pula platform dompet digital (e-wallet) hingga peer to peer lending membuat bank-bank konvensional menjadi lebih agresif dalam melakukan transformasi digital.

Bagi konsumen jelas menggembirakan karena dengan transformasi bank konvensional menjadi digital banking, imbasnya layanan perbankan sekarang semakin cepat. Buka rekening kalau dulu harus ke bank kalau sekarang bisa melalui smartphone saja.

Tak hanya urusan buka rekening, melalui platform digital banking nasabah juga bisa mengatur keuangannya melalui penempatan dana untuk tabungan, deposito, bertransaksi, jual beli valas hingga memonitor pengeluarannya.

Singkatnya, perbankan kini relevan dengan perkembangan zaman serta mengikuti kebutuhan pelanggan perbankan yang ingin lebih praktis dan efisien. Apalagi dalam kondisi pandemi Covid-19 yang memaksa mereka beradaptasi dengan normal baru yakni mengurangi kontak fisik.

Kondisi ini menurut Fitch Ratings dalam riset terbarunya menyatakan para pemain lama di sektor perbankan akan semakin agresif mengejar agenda transformasi digital akibat adanya Covid-19. Hal ini tentu menjadi ancaman bagi para pemain baru atau yang disebut sebagai neobanks.

Hal ini didukung survey yang dilakukan Deloitte menemukan sebanyak 56% nasabah non-digital menyatakan bahwa mereka cenderung akan menggunakan layanan perbankan digital dalam enam bulan ke depan.

Kondisi ini salah satunya didukung oleh tingginya penetrasi produk smartphone dan internet di Indonesia. Tercatat sebanyak 63% hingga 64% dari 270 juta penduduk sudah bisa mengakses internet, ditambah semakin murahnya biaya paket langganan data.

Dengan kondisi ini tentu menggembirakan bagi pemain perbankan digital karena artinya tren selama tiga tahun terakhir berjalan secara simultan dimana penggunaan jalur digital banking di Indonesia telah tumbuh dua kali lebih cepat dari pasar negara berkembang lainnya di Asia.

Menurut Chief Strategy, Transformation & Digital Officer PT Bank Maybank Indonesia Tbk, Michel Hamilton kini para nasabah semakin peduli dalam pemanfaatan digital banking karena adanya pandemi Covid19.

“Lebih dari 82% nasabah punya concern terkait pergi ke bank. Mereka lebih suka untuk melakukan kegiatan sehari-hari mereka di area rumah. Di era pandemi ini makin banyak masyarakat dunia yang makin meningkat mencoba digital banking application,” ujarnya dalam sebuah kesempatan diskusi secara webinar awal September lalu (11/9).

BACA JUGA :  realme Hadirkan Smartphone Dengan Trendsetting Camera

Kebiasaan ini, lanjut Michel, tak hanya terjadi pada generasi muda yang lebih mudah dalam mengadopsi digital banking. Faktanya sudah hampir semua lapisan usia sudah mampu menggunakan layanan digital banking.

Hal ini sejalan dengan langkah mayoritas perbankan besar sejak beberapa tahun terakhir mulai mengembangkan infrastruktur digital banking-nya, demi mengakomodir generasi baru yang jauh lebih familiar dengan layanan digital banking.

Bank di saku pengguna

Salah satu pemain perbankan yang masuk dalam deru cepat digital banking adalah PT Bank Maybank Indonesia Tbk sejak tahun 2015 dengan produk platform digital banking Maybank2U yang kini lebih dikenal dengan nama M2U.

Menurut Head Digital Banking Product & Strategy Maybank Indonesia, Ditto Prabowo, Maybank Indonesia lewat M2U adalah layanan on boarding secara online atau e-KYC (know your customer), lalu pembayaran yang lebih cepat dan aman dengan QR Pay, diikuti contactless payment atau NFC Payment (near-field communication payment), dan API yang memungkinkan transaksi bisa dilakukan di luar ekosistem Maybank lewat cara melakukan kolaborasi yang dilakukan Maybank dengan bank lainnya.

Dengan layanan ini, nasabah cukup membuka platform atau aplikasi M2U untuk menuntaskan kebutuhan transaksi sehari-hari, dari cek saldo, transfer, belanja online, pengelolaan keuangan termasuk mencari produk reksa dana dan bancassurance yang dijual lewat Maybank.

Untuk kebutuhan sehari-hari, M2U pun dilengkapi dengan fitur pembayaran tagihan, termasuk pinjaman, kartu kredit, kebutuhan listrik, dan air PDAM. Termasuk untuk kebutuhan gaya hidup seperti top up e wallet, seperti GoPay, Grab dan OVO.

Yang membuat nasabah merasa mendapatkan kenyamanan lebih besar dari M2U adalah, ketika mereka membuka rekening secara online, maka mereka akan memiliki rekening Maybank Tabungan Maksi. Lewat Maksi, nasabah akan menikmati privilege free transfer dan free bill payment.

“Kalau satu bulan kita transfer 8 kali saja, maka sama saja kita sudah mendapatkan satu lunch set, karena sekali transfer Rp6.500. Rekening Maksi bisa meminimalkan biaya-biaya yang dibutuhkan untuk transfer dana dan pembayaran tagihan,” ujar Ditto. Selain itu nasabah juga bisa memilih antara rekening Maybank konvensional atau Maybank Syariah. “Ini yang membedakan kami dengan digital banking lainnya,” imbuh Ditto.

BACA JUGA :  Ekonomi Amerika Serikat Mulai Tumbuh Ekspor Indonesia Pun Mekar

Menurut Ditto solusi digital banking di Maybank Indonesia serupa layanan sepenuhnya kebutuhan finansial (financial hack) yang karena kemudahannya akan diterima oleh seluruh anggota keluarga mulai dari transfer bisnis yang harus dilakukan oleh sang ayah untuk kebutuhan usahanya, mempersiapkan down payment untuk pembelian mobil dan rumah impian, atau untuk mengelola tagihan yang biasanya ditangani oleh sang istri.

Hal ini dimungkinkan karena dalam aplikasi digital banking M2U tersedia fitur untuk pembayaran tagihan kebutuhan sehari-hari dengan 300 lebih billers. Sementara untuk kebutuhan anak, M2U menyiapkan fitur pembelian paket tv streaming hingga voucher game online.

Nasabah juga dapat memenuhi kebutuhan membeli atau mengganti kendaraan baru karena M2U terhubung dengan aplikasi Maybank KPM App, yang bisa menyediakan data soal kendaraan yang diinginkan, dari informasi range harga, hingga skema pembayaran dan angsuran yang akan dipilih.

Nasabah juga bisa mengelola penyisihan dana tabungan deposito tiap bulannya untuk menyiapkan pembayaran down payment kendaraan yang diinginkan. Hal yang sama juga bisa digunakan untuk persiapan pembayaran DP rumah, dengan pembukaan deposito secara online, mulai Rp10 juta.

Ada juga fitur block credit card, yang tak hanya digunakan untuk memblokir kartu kredit yang hilang dan bisa dibuka blokirnya saat kartu ditemukan kembali. Namun fitur ini juga bisa digunakan untuk mengatur keuangan beberapa kartu kredit dalam keluarga.

Michel Hamilton menyebut ketersediaan fitur yang akan memudahkan transaksi dan kebutuhan nasabah akan terus ditingkatkan. Ibarat kata, M2U akan menjadi sebuah bank di dalam saku nasabah (full bank in your pocket).

Menurutnya, apa yang diupayakan oleh Maybank Indonesia lewat layanan digital banking-nya adalah usaha perusahaan untuk melayani nasabah agar merasakan layanan yang lebih simpel, lebih cepat dan nyaman sesuai dengan misi Maybank, “humanizing financial services”.(budi nugraha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *