Rektor IPB Sebut Bantuan Kuota Internet Lebih Baik Dialihkan ke Satelit

BOGOR- Rektor IPB University Prof Dr Arif Satria mengatakan bantuan kuota internet kepada peserta didik dan pendidik dengan nilai Rp7,2 triliun lebih baik dialihkan untuk satelit pendidikan.

“Biaya untuk satelit pendidikan hanya sekitar Rp3 trilun,” ujar Arif yang juga Ketua Forum Rektor Indonesia itu dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa.

Meski demikian, Arif menilai jika performa pemerintahan di tengah pandemi sudah sangat baik.

“Hal ini terbukti salah satunya dengan adanya peluncuran 61 produk riset-inovasi COVID-19,” tuturnya dalam dalam Bincang Asik “Refleksi Satu Tahun Pemerintahan Jokowi-Amin” yang berlangsung secara virtual dan disiarkan langsung melalui Saluran resmi Juru Bicara Presiden Republik Indonesia, M Fadjroel Rachman.

Peluncuran produk riset dan inovasi konsorsium COVID-19 dapat dimaknai sebagai kebangkitan inovasi Indonesia.

Diharapkan produk-produk hasil riset dan inovasi dalam negeri dapat menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia. Tidak hanya selama pandemi tapi juga untuk kebutuhan jangka panjang.

“Kita penuh dengan ketidakpastian yang luar biasa sehingga fleksibilitas adalah sebuah jawaban. Hal lain yang kita perlukan adalah bagaimana kemampuan kita memiliki pola pikir yang terus tumbuh,” imbuh dia.

Menurut dia, merespon perubahan seperti sekarang ini maka pola pikir yang terus tumbuh adalah sesuatu yang sangat penting. Hal itu dikarenakan pola pikir harus tumbuh berkembang.

“Zaman terus berubah tidak mungkin pola pikir kita tetap, statis dan tidak berubah. Kita akan gagal dan tertinggal oleh zaman jika pola pikir kita tetap. Sebaliknya jika itu pola pikir yang tumbuh, kita akan berkembang seiring dengan perkembangan zaman,” jelas dia.

Dia menambahkan saat ini yang diperlukan untuk merespon perubahan, merespon ketidakpastian, merespon kecepatan yang begitu dahsyat, itu adalah pola pikir yang terus tumbuh.

BACA JUGA :  Pentingnya Kolaborasi dalam Tingkatkan Kemampuan Numerasi bagi Pelajar

Prof Arif juga berpendapat jika sumber daya manusia (SDM) di Indonesia harus mengacu pada sosok pembelajar yang memiliki pola pikir yang terus tumbuh, yang memiliki basis karakter yang kuat dan memiliki kebiasaan-kebiasaan berpikir yang baik.

Arif juga mamaparkan pergerakan Human Development Indeks (HDI) Indonesia per tahun 1990 hingga 2018, yang mana HDI Indonesia selalu naik pada setiap tahunnya.

Saat ini Indonesia berada di peringkat ke-111 dunia dari 189 negara yang mana survei tahun 2017 Indonesia masih diperingkat 116. Sementara jika disandingkan negara ASEAN lainnya Indonesia peringkat ke-6. Pada periode tahun 1990 hingga 2017, nilai HDI Indonesia naik 31,4 persen.

“Tapi kita juga paham bahwa kita ini mampu untuk mengubah diri kita sendiri. Jadi masalah kita adalah masalah dimana kita sadar bahwa kita harus berubah,” imbuh dia.

Dia juga berpesan bahwa mengkritik boleh tetapi tidak untuk melemahkan dan menyudutkan.Justru yang perlu dibangun adalah semangat saling membesarkan dan menginspirasi. Negara yang besar adalah negara yang penuh dengan inspirasi.

“Negara besar banyak menghasilkan inovasi-inovasi. Inovasi, kolaborasi dan integritas adalah kunci dan inspirasi adalah keniscayaan,” cetus dia. (ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *