Soekarno.

Oleh Benny Benke.

Aku lebih senang pemuda yang merokok dan minum kopi sambil diskusi tntang bangsa ini, daripada pemuda kutu buku yang hanya memikirkan diri sendiri”.(Soekarno)

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com, KALAU Soekarno masih hidup dan tahu kondisi Indonesia sekarang, dipastikan akan lain narasi yang dikatakannya.

Mungkin dia akan mengatakan; Aku lebih suka melihat pemuda yang turun ke jalan, meski membawa poster luculucu, sambil sesekali menari unyunyu dan wagu, tapi tetap mengkawatirkan dan memikirkan nasib bangsanya. Daripada pemuda yang berdiam diri, nyaman, dan berpikir negeri ini seolah mapan dan baik-baik saja.

Karena Soekarno sadar betul, sebagaimana narasi asli pidatonya di Hari Pahlawan 10 November 1961. Saat itu, dia mengatakan, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Mu, dalam akhiran diksi perjuangan-mu adalah kita saat ini. Yang secara organik dan natural terusik, kemudian bergerak dengan cara dan medium neka rupa atas nama kegentingan negara. Karena pengesahan UU Cipta Kerja yang ditimbang tidak berpihak kepada hajad hidup orang banyak. Terutama kaum buruh dan pekerja lainnya.

Kemudian kalimat lanjutan, “perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri,” sebagaimana dikatakan Soekarno, memang benar adanya. Karena kita sangat kesulitan harus berhadapan dan bersemuka dengan saudara sebangsa sendiri, yang berpunggungan pandangan Politik dalam melihat persoalan kiwari.

Terutama berhadapan dengan kekuasaan yang cenderung dan dipastikan senantiasa hampir selalu menyalahpami siapapun yang dianggap berseberangan dengannya.

Kemudian memenjarakan siapa saja yang ditimbang merongrong “wibawa negara”. Sambil melempar tuduhan tak berdasar. Via proses hukum dan peradilan dagelannya.

Ihwal kekuasaan yang cenderung ngawur, memang galib terjadi dalam setiap kazanah rezim mana saja di negeri ini. Atau di rezim mana pun. Juga di rezim Soekarno, apalagi rezim Soeharto.

Dulu, beberapa kawan, yang pada sebuah masa seturut dan sebarisan dengan kita, melawan rezim Orba, yang sekarang –karena permainan nasib– ada di lingkaran kekuasaan terkini. Toh membisu dermaga, saat mengetahui kekuasaan yang dibelanya saat ini, kebijakannya terindikasi atau jelas mulai berseberangan dengan jelata. Dan dia — kawankawan kita itu– tetap baik-baik saja di sana. Menjadi manusia dengan sepenuh kilafnya. Tidak kurang suatu apa.

BACA JUGA :  HBA ke-61, Menyambut Wajah Baru Kejaksaan RI 2025

Kekuasaan memang benar memabukkan. Melenakan. Membutakan. Akankah kita mengalami hal serupa jika berada di lingkaran kekuasaan?

Yang pasti, akibat kekuasaan yang membelok terlalu jauh dari tujuan awalnya, akhirnya membuat dan memaksa sebagian besar anak bangsa, mulai menyalakan tanda bahaya.

Kemudian bergegas saling menghimpun, lalu bergerak, berderak, berarak berhadapan dengan kekuasaan yang sangat pantas untuk diingatkan, ditegur dengan keras, bahkan dijewer, jika diperlukan.

Sebagian yang lain, bergerak via media sosialnya masing-masing, menjadi amplifier, sambil menyeru-nyeru dukungannya kepada yang turun langsung di jalan.

Sementara pendukung rezim, anak bangsa lainnya, yang payahnya kawan kita juga, sibuk membangun narasi tandingan yang semua maklum ke mana arahnya. Yaitu, kebenaran milik penguasa. Yang lain minggat saja. Juga kawan seperjuangan di masa lalunya.

Akibatnya, perang narasi terjadi, saling meyakini pilihan politik siapa yang paling hakiki. Kita tahu siapa pemenangnya. Betapapun kekuasaan makin ngawur, koppig dan semena-mena dengan kebijakannya.

Ihwal persoalan ini, siapapun yang sudah terlatih bersemuka berhadapan dengan rezim mana saja, maklum adanya.

Di manapun kekuasaan mempunyai kecenderungan yang sama saja. Pendaku dan pemilik narasi tunggal. Jadi bebas ngomong apa saja, sambil melempar narasi sak enak udele.

Seperti ditunggangi, menunggangi, rakyat bodoh, gampang diprovokasi, riang diadu domba, tak tahu apa-apa, belum membaca UU -nya, dan narasi menyepelekan lainnya.

Setelah Itu, dengan gampang menghajar jelata atas nama apa saja, yang ditimbang memunggungi, bahkan membangkang dengan narasinya. Sebelum akhirnya mentersangkakannya.

Yang gentar, pulang ke rumah saja. Berdiam diri, sambil mengirimkan doa juga tak mengapa.

Berjuang tidak melulu harus turun ke jalan. Berjuang boleh dari mana saja dengan cara apa saja. Suka-suka. Yang penting harus happy.

Karena kegembiraan dewasa ini mahal harganya. Setelah sekian banyak kesewenangan dipamerkan penguasa, rakyat masih bisa happy dengan cara sederhana itu luar biasa. Sesuatu.

BACA JUGA :  Pemulihan Ekonomi setelah Vaksinasi Covid-19

So, andai Soekarno masih hidup, dan tahu yang mengetok palu pengesahan UU yang meresahkan ini adalah cucunya, apa yang ada dibenaknya?Maka dari itu, pertahankan stamina, panjang umur perjuangan! Power tends to corrupt, Absolute Power Corrupt Absolutely.(Bb-69).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *