Revolusi.

Oleh Benny Benke.

JAKARTA,Suaramerdekajkt.com, — Tan Malaka dalam  Massa Actie (Aksi Massa) 1926, yang ditulisnya di Singapura, menasehatkan; Revolusi dapat dikatakan berhasil bila mampu mengerahkan jutaan kaum buruh untuk mogok dan berdemonstrasi, tanpa melempar sebutir kerikil pun kepada pegawai pemerintah.

Apalagi sampai merusak, bahkan membakar fasilitas umum milik negara, juga menjarah sesama anak bangsa.

Mari berjuang dengan menggunakan caracara adab, meski lawan kita tidak beradab! Karena menihilkan kepentingan rakyat, demi menyenangkan kepentingan kekuasaan belaka.

Aksi Massa yang di maksud Tan Malaka berbeda dari gerakan putch (radikalis) yang biasanya hanya mementingkan kelompoknya sendiri dan mengesampingkan kepentingan orang banyak.

Tukang putch menurut Tan Malaka lupa, bahwa revolusi timbul dengan sendirinya. Organik, dan natural yang pasti akan terjadi, apabila kesenjangan antar penguasa dan rakyat semakin melebar dan menganga. Seperti kiwari.

Tan Malaka mungkin makin heran, jika saat ini ada banyak anak STM keberaniannya seperti tak bertepi. Laksana Highlanders yang datang dari dataran tinggi di Scotlandia. Yang datang menantang rezim mana saja yang ditimbang berseberangan dengan jelata.

Juga para mahasiswa yang berbondong-bondong berparade, sembari mengangkat poster jenaka. Dengan pesan tulisan menggelikannya. Tapi sangat mengena.

Meski kemudian, setelah itu, barisan pendukung kekuasaan dengan buzzers dan influencer-nya, dipastikan memberondong semua dengan narasi sesatnya.

Jadi, panjang umur perjuangan. Berdemonstrasi dan berjuanglah dengan gembira. Karena itu hak konstitusi. Sembari merayakan demokrasi yang akhir-akhir ini, pelan dan pasti makin dikebiri. Tanpa melemparkan sebutir kerikil kepada negara. (Bb-69).

BACA JUGA :  BPJS dan Kutukan Sisifus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *