#DIKSI MARATON | Diskusi Industri Musik dan Musisi Episode 4: Wanita di Industri Musik Tanah Air: Antara Berkeluarga dan Mengejar Cita-Cita.

Jakarta,Suaramerdeka.jkt.com — Apa yang menarik dari Diskusi Industri Musik dan Musisi Episode 4: Wanita di Industri Musik Tanah Air: Antara Berkeluarga dan Mengejar Cita-Cita. Yang digagas oleh Federasi Serikat Musisi Indonesia (FESMI).

Dengan menghadirkan pembicara kunci seperti Raisa (Penyanyi), Tantri Kotak (Penyanyi), Wanda Omar (Bassist), dan dimoderatori Jeane Phialsa (Drummer, Wakil Bendahara Fesmi).

Banyak. Buktinya, sepenceritaan Ketua Umum Federasi Serikat Musisi Indonesia (FESMI), Candra Darusman, diskusi kali ini menjadi diskusi yang paling banyak diikuti peserta.

Bukan semata diskusi yang dibahas memiliki tema yang menarik. Tema ini juga yang diangkat oleh federasi musisi tingkat global. Ada empat tema yang mereka garis bawahi, yakni demokrasi dalam serikat, keamanan dan kesehatan, status artis dan gender quality.

“Tema yang jarang diangkat di industry musik kita. Mudah-mudahan jadi topik yang diperhatikan dan kita kawal,” ujar Candra via virtual webinar, baru-baru ini.

Menurut Jeane Phialsa atau Alsa selaku moderator, kesamaan gender memang belum terlalu dirasakan. Hal itu dia ambil dari cerita RA Kartini dan mendengarkan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani.

“Beliau (Sri Mulyani) campaign sesama perempuan harus saling support, kompak, bukan malah saling bersaing atau insecure satu sama lain. Tanpa disadari sharing session ini dibutuhkan agar sesama perempuan saling terbuka, mendukung dan beri dampak lebih besar,” ujar Alsa.

Sebagaimana disampaikan Raisa.
Bagi ibu satu anak ini, kesetaraan gender bukan berarti wanita dan pria memiliki kekuatan yang sama.

Ia memandang wanita memiliki kekuatan yang tidak dimiliki kaum pria. Kekuatan wanita bukan di fisik, melainkan bisa menyemangati, membuat tenang dan berkaitan dengan kesehatan mental.

Baginya pekerjaan sebagai penyanyi adalah renjana (antusiasme). Meski harus mengorbankan waktu untuk tidak bertemu anak dan suami, namun Raisa menjadi ibu dengan energi penuh dan positif saat Kembali ke rumah setelah menyanyi.

BACA JUGA :  Klik Film Sajikan Rangkaian Film JAFF 2020.

“Setelah kembali, setelah menjalani my passion, i become a better mother at home. Cara kita membagi waktu harus tahu prioritas, hari ini kerja ya 100 persen di situ, kalau enggak bekerja, ya 100 persen ngurusin keluarga,” kata Raisa.

Saat baru melahirkan, Raisa mengaku kerap membawa anaknya ke tempat kerja. Ia melakukan hal itu sampai anaknya berusia 3 sampai 4 bulan. Hal itu sama sekali tidak menganggu pekerjaannya.

“Naik panggung ada yang jagain, keluar kota banyaknya kan di pesawat, hotel, manggung kan dua jam. Setelah itu ke kamar, boboin, selesai manggung nyusuin lagi,” samhung Raisa.

Terkait dengan tema kesetaraan gender, Raisa melihat masalah yang dihadapi wanita di industri musik adalah ekspetasi. Ia banyak mendengar masukan dari orang yang berbeda terutama mengenai penampilan dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Awal-awal kan harus dengerin yang mana, memenuhi ekspetasi yang mana, itu jadi kendala yang sangat besar ketika bermusik ingin tunjukan individual kita. Jadi kita harus normalisasi bilang enggak mau untuk sesuatu yang bentuknya risih, eksploitasi. Saying ‘no’ it’s ok,” katanya.

Selain itu, Raisa mengatakan kurang nyaman saat melihat ada seseorang melalui media sosial atau sejenisnya membandingkan artis wanita satu dengan yang lainnya. Menurutnya sesama perempuan harus saling mendukung, bukan menjatuhkan.

“Aku ngerasa di industri yang aku kurang suka adalah kompetisi yang dibuat-buat antara cewek sama cewek, padahal bagi kita enggak ada kompetisi, tapi tiba-tiba di somed atau mana, pilih ini apa ini. Misal Raisa VS Isyana,” katanya.

Tantri Kotak.

Segendang sepenarian, sebagaimana Raisa, Tantri Kotak juga merasa bersyukur karier bermusiknya didukung oleh orang tua dan suami. Meski harus merelakan sebagian waktu berada di luar rumah, namun hal itu membantunya menjadi ibu yang lebih baik ketika pulang ke rumah.

BACA JUGA :  Tono Supartono Datang, Sang Bidadari Menjelang.

“Kalau punya passion yang kita lakuin di luar rumah, pas di dalem rumah langsung kayak nice banget. Musik jadi bagian kayak vitamin buat aku, imun booster,” kata Tantri.

Namun sebelum, menjadi Tantri yang dikenal banyak orang, ia mengalami berbagai diskriminasi. Banyak pihak memandangnya sebelah mata. Terlebih sebagai wanita, usia belia dan memilih genre rock.

“Di zaman meniti karier tuh, ada aja yang kayak, ‘ah elah bisa enggak sih, enggak nyampe (suaranya), di under estimate,” ucap Tantri.

Setelah hamil, Tantri merasakan kembali. Ia kehilangan beberapa pekerjaan karena dilarang manggung di tempat tertentu selagi berbadan dua. Ia juga mengaku untuk sulit mengisi panggung di acara milenial.

“Mungkin agak sulit masuk ke acara milenial, untuk season khusus kayak konser 90an atau 200an itu masih bisa masuk,” ucapnya.

Wanda Omar.

Bagaimana dengan Wanda. Yang mengaku sudah ingin menjadi musisi sejak lama. Ia ingin mengambil kuliah dengan jurusan yang berkaitan dengan musik. Namun hal ini ditentang oleh orang tuanya. Saat itu, orang tua Wanda belum yakin pekerjaan musisi akan bisa menghidupinya.

“Ya orangtua merasa musik enggak semenjanjikan yang lain, orang tua bilang, ‘yang lain deh, musik jadi sampingan aja. Akhirnya ambil ekonomi, nurut kata orang tua,” ujarnya.

Diskriminasi juga dirasakan Wanda sejak sekolah. Saat ingin belajar alat musik dari teman sebaya, Wanda dipandang sebelah mata karena seorang perempuan.

“Waktu sekolah, SMA, di saat temen-temen aku bisa main musik, berasa banget, ‘ah lo cewek, entar aja’. Di dunia musik malah cowok-cowok tuh bro banget, support dan dukung,” ucapnya.

Perlakuan kurang menyenangkan lainnya dirasakan Wanda dalam media sosial. Beberapa komentar dalam lagu cover yang dibawakan tidak menyoroti mengenai musik yang dibawakan, melainkan fisiknya.

BACA JUGA :  Tips Hemat Menikah Saat Pandemi Covid19 (2)

Selain itu, Wanda pernah kehilangan ribuan followers di Instagram karena mengunggah pertama kali momen tunangannya.

Kini, Wanda tak lagi mengalami hal tersebut. Setelah menikah dengan pria yang bergerak di Industri musik justru banyak membantu dan mendukung.

Keluarga juga mulai menerima profesi Wanda.

“Keluarga besar sebagian bisnis, kuliah pun teknik, sementara aku main musik. Kalau lagi ada acara keluarga enggak bisa ikut karena manggung, mereka nanya, ‘Ini Wanda serius?’ Akhirnya Papa yang jadi tameng, dia yang menjelaskan. Keluarga besar kan beberapa dari daerah, tahunya main musik kayak di restoran-restoran, menurut mereka enggak bisa survive. Itu kekhawatiran keluarga,” pungkas Wanda. (Bb-69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *