Kesiapan Guru Jadi Penggerak

Oleh Ngabiyanto

PERAN sentral guru di dalam sistem pendidikan merupakan konsep yang sudah tidak bisa dibantah lagi. Hanya, sentralitas peran guru tersebut memiliki cakupan yang luas di dalam seluruh proses pembelajaran. Peran guru tak hanya menjadi penyampai materi pembelajaran yang sesuai dengan amanat kurikulum, tapi juga memiliki sekian peran lain seperti inspirator, motivator, inovator, dan dalam banyak hal peran guru juga mirip dengan seorang pemandu bakat.

Benarlah guru harus selalu berorientasi kepada kurikulum yang tujuan pembelajarannya bersandar pada pencapaian kompetensi inti dan kompentensi dasar pembelajar. Itu artinya guru yang sangat patuh dan berhasil mencapai tujuan pembelajaran adalah guru yang baik. Tapi performa itu tak cukup menjadi parameter keberhasilan guru dalam menjalankan peran sentralnya.

Dengan begitu, guru perlu melakukan sesuatu beyond the curriculum. Dalam hal ini, meskipun Rhenal Kasali bukan orang yang dianggap sebagai pakar pendidikan, sindiran yang pernah dilontarkannya cukup signifikan: para guru tak bisa mendiamkan lahirnya generasi yang patuh kurikulum, pintar secara akademis, tahu kebenaran internal, tetapi kurang kreatif mendulang kesempatan dan buta kebenaran eksternal.

Dengan kata lain, seperti telah disebut di atas, guru harus pula punya peran sebagai motivator, inspirator, inovator, dan juga pemandu bakat.

Konsep beyond the curriculum itu pula yang kerap dilontarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makariem yang kerap disapa Mas Mentri itu. Beberapa program dari gagasannya sudah diluncurkan. Salah satunya gagasan mengenai ”guru penggerak”. Intinya, Mas Mentri mengatakan, guru penggerak adalah guru yang mampu menumbuhkan kemampuan siswa secara holistik. Karena itu, guru harus berani ”keluar” dari kurikulum demi melihat standar enam profil pelajar Pancasila, yaitu bernalar kritis, mandiri, kreatif, siap bergotong royong, kebinekaan global, dan berakhlak mulia.

BACA JUGA :  Nasib Rakyat Desa di Palu MK

Apa yang dimaksud dengan berani keluar dari kurikulum? Bukankah kurikulum itu komponen sangat penting dalam proses pendidikan? Benarlah, proses pendidikan akan tanpa arah bila tanpa kurikulum. Jadi, ungkapan ”keluar dari kurikulum” lebih mendekati konsep beyond the curriculum yang tak berarti lepas dari kurikulum tapi ”tak melulu memenuhi apa yang digariskan oleh kurikulum”.

Mengembangkan Pengetahuan

Dengan kata lain, seorang guru tak hanya harus menguasai benarbenar bidang keilmuan yang dipelajari dan diajarkan kepada para murid, tapi juga mengembangkan pengetahuan lain di luar bidang spesifikasi keilmuannya. Dengan pengembangan pengetahuan di luar spesifikasi bidangnya itulah guru akan mampu berperan menjadi subjek yang lebih dari sekadar pengajar. Ia menjadi subjek yang beyond the curriculum.

Pada kenyataannya, pelbagai konsep dan pendekatan pendidikan telah diiniasi dan diaplikasikan untuk terus memajukan dunia pendidikan. Konsep, pendekatan, metode pembelajaran, termasuk pengembangan kurikulum telah berubah dan diupayakan sesuai dengan tuntutan zaman seperti penerapan konsep pendidikan yang berorientasi pada kompentensi abad ke-21. Selama beberapa waktu guru juga telah ”hidup” dan melakukan berbagai upaya agar adaptif dengan semua itu.

Pada intinya, guru penggerak adalah guru yang memiliki peran besar dalam membawa dunia pendidikan yang siap menghadapi tantangan zaman. Tapi sesiap apakah guru dalam merespons perannya sebagai penggerak? Bagaimana mereka memandang kurikulum yang diterapkan?

Dalam penelitian yang penulis lakukan, dari 100 guru yang menjadi responden, 6o% (itu artinya lebih dari separuh) menganggap kurikulum yang diterapkan belum menjawab tantangan pendidikan abad ke-21. Respons mereka beragam mengenai apa yang perlu ada di dalam kurikulum yang mampu menjawab tantangan abad ke-21. Di antara pendapat mereka adalah soal urgensi kurikulum yang berorientasi pada globalisasi dan kesiapan menghadapi Revolusi Industri 4.0.

BACA JUGA :  Pandemi Covid-19 Berkelindan dengan Wabah Rokok

Dari temuan itu, ada indikasi yang bagus bahwa guru-guru memiliki keinginan atau bahkan siap untuk menjadi guru yang berperan sebagai penggerak. Meskipun responden memahami konsep guru penggerak secara berbeda-beda, tapi pada intinya semua mengarah ke konsep beyond the curriculum. Jadi, ada peluang bahwa guru siap menjadi agen perubahan dunia pendidikan. Mereka siap keluar dari ”batas minimal” perannya sebagai semata penerjemah kurikulum ke lembar RPS (rencana satuan pelajaran) menjadi sosok inovatif, motivatif, dan tentu saja motivatif.

Kesiapan itu juga ditunjang oleh realitas bahwa selama ini banyak guru telah melakukan berbagai upaya kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran, khususnya dalam penerapan model pembelajaran. Selama ini mereka sudah berani ”keluar” dari model pembelajaran yang disematkan di dalam kurikulum. Sebagai bukti, dari 100 responden, hanya 3 persen yang mengatakan tidak menerapkan model selain yang ada di kurikulum. Yang lainnya telah menerapkan beragam model di luar kurikulum hingga puluhan jumlahnya, misalnya model pembelajaran berbasis smartphone, model contextual teaching and learning, bahkan pengembangan model unik yang diberi nama ”model kejar daku kau kutangkap”.

Kita juga harus memahami mengenai arti dari guru penggerak itu sendiri. Guru penggerak merupakan salah satu program Kemendikbud yang memiliki harapan besar menguatkan kompetensi guru dan dapat menularkannya. Guru penggerak merupakan pemimpin pembelajar yang mendorong tumbuhkembang murid secara holistik, aktif, dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat pada murid, serta menjadi teladan agen tranformasi ekosistem untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila.

Dengan demikian, sebenarnya ada ekspektasi besar bagi penerapan konsep dan program Guru Penggerak. Guru-guru kita telah siap keluar dari frame of referencenya sebagai semata pengajar, siap out of the box. Dan itu hanya mungkin diwujudkan bila dunia pendidikan dibebaskan dari cara berpikir memburu ”hasil” atau yang hanya berorientasi kepada prestasi akademik subjek belajar. (37)

BACA JUGA :  Saat Lobster Gerindra Bicara

— Dr Ngabiyanto MSidosen Jurusan Politik dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *