Pagebluk Covid-19; Gebukannya Merusak Industri Film di Tanah Air dan Asia-Pasifik.

Pengumuman penutupan jaringan bioskop 21/XXI di Gandaria City, Jakarta, karena pandemi Covid-19. (SMJkt/Bb).

Oleh Benny Benke.

Jakarta, Suaramerdekajkt.com — Sejauh mana dampak pagebluk Covid-19 pada industri film Indonesia pada khususnya, dan industri film kawasan Asia-Pasifik pada umumnya. Berangkat dari pemahaman itulah, jika beberapa pertanyaan ihwal dampak dan efek domino pagebluk ini diajukan pada pelaku industri film, jawabannya nyaris serupa.

Dengan harapan dapat merangkum persoalan yang ada, untuk kemudian dijadikan bahan kajian, demi mencari jalan keluar yang paling mangkus dan mustahak, pertanyaan di atas, patut dicari jawabnya. Demi turut serta menyelamatkan ekosistem perfilman di Tanah Air.

Sehingga alih-alih mengutuki kegelapan, kita, sebagaimana seharusnya negara, turut berupaya senantiasa hadir dengan kemampuan terbaiknya, demi mencari solusi bersama. Agar industri perfilman dan ekosistemnya dapat dijaga, untuk kemudian bertahan di situasi yang tidak mudah ini.

Sejumlah pertanyaan seperti: Sejauh mana dampak pandemi Covid-19 terhadap proses produksi film; Seberapa besar kerugian finansial selama bioskop ditutup, dan proses produksi film berhenti total karena pandemi Covid-19; Seberapa banyak jumlah film yang tertunda pemutarannya dikarenakan pandemi Covid-19; Adakah sumber pemasukan lain sebuah film, selain pemutaran film di bioskop, serta Media Baru lainnya; Apakah bioskop tetap menjadi sumber utama pemasukan terbesar satu-satunya, saya ajukan ke berbagai produser rumah produksi film di Indonesia.

Juga sejumlah asosiasi perfilman di kawasan Asia-Pasifik.

Selain beberapa pertanyaan lainnya, ihwal keterlibatan negara apakah sudah ditimbang berada di tempat sepatutnya? Atau justru belum atau tidak terlihat perhatiannya. Atau dalam bahasa yang lebih verbal pertanyaan seperti: Apakah negara hadir dalam persoalan perfilman selama pandemi Covid-19? Baik

kehadirannnya dalam bentuk dukungan aturan atau Undang-Undang serta peraturan lainnya, yang berpihak kepada perkembangan dan daya tahan ekosistem perfilman. 

Atau negara cukup hadir dalam pemberian subsidi finansial/kredit, pengurangan pajak tontonan dan tunjangan lainnya? Juga saya ajukan.

Serta sejumlah pertanyaan tak kalah  penting lainnya, seperti: Adakah langkah alternatif dari rumah produksi film di masa pandemi untuk menyelamatkan industri perfilman agar tidak semakin terpuruk. Bagaimana peluang media streaming di dalam distribusi film pada era yang berubah disebabkan pandemi?

Serta sederet pertanyaan susulan lainnya. Ihwal keberadaan bioskop sebagai institusi kunci: Menimbang bioskop sebagai ujung tombak jualan film layar lebar sempat tutup untuk beberapa waktu, dan kalaupun bioskop dibuka kembali, akan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Seperti daya tampung maksimal separuh dari kapasitas bioskop. Serta harga tiket Masuk (HTM) yang belum ditentukan karena banyak persoalan di sana. Serta di saat bersamaan, penonton film masih sangat enggan datang ke bioskop karena menghindari bioskop sebagai kluster baru persebaran Covid-19.

Khusus untuk rumah produksi di dalam negeri, pertanyaan pamungkas: Protokol kesehatan yang dikeluarkan berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Dua Kementrian, salah satu isinya mengatur proses syuting di dalamnya. Bagaimana pandangan rumah produksi film di Indonesia? Apakah SKB protokol kesehatan itu sudah memenuhi harapan, atau masih ada beberapa tambahan dan penyempurnaan?

Dengan sejumlah pertanyaan di atas, penulis berikhtiar dan berharap menemukan titik terang, syukur-syukur menjadi titian jalur penyelamatan industri dan ekosistem perfilman di Tanah Air.

Dampak Covid-19 Sangat Luar  Biasa.

Menurut Chand Parves Servia, pemilik rumah produksi film Starvision Plus dan Sunil Samtani dari rumah produksi film RAPI Film, dampak pagebluk ini terhadap proses produksi film di rumah produksi mereka, sangat luar biasa sekali.

Dalam contoh kasus terkininya, RAPI Film sangat merasakan pukulan keras pandemi ini. Film Bucin yang sedari awal dijadwalkan tayang 26 Maret 2020, lalu harus ditunda  penayangannya. Bukan hanya satu judul filmnya yang tertunda atau ditunda, “Bahkan beberapa judul Film dan FTV yang akan kami produksi juga terpaksa harus kami reschedule jadwal shootingnya,” kata Sunil Samtani via surel.

Akibat dari penundaan sejumlah judul filmya karena bioskop ditutup, serta proses produksi film berhenti, RAPI Film mendaku mengalami kerugian finansial yang tidak sedikit. “Sudah pasti ada kerugian karena bioskop tutup dan film kami juga di tunda penayangannya, produksi film dan FTV juga berhenti total ditambah dengan biaya operasional yang tetap berjalan, sama dengan rugi”, imbuh Sunil Samtani sembari menambahkan, kurang lebih empat (4) judul film produksi RAPI Film terkendala akibat pandemi.

Segendang sepenarian, Chand Parves menambahkan, jumlah film Starvision Plus yang tertunda pemutarannya dikarenakan pandemi ada beberapa judul film.

Menurut Chand Parves, sebenarnya ada media lain untuk pemutaran film selain dibioskop. Atau dengan kata lain, bioksop bukan menjadi satu-satunya sumber penghasilan. Tapi, menurut dia, tetap saja nonton film di bioskop selain menunjukkan prestige, tetap masih menjadi ladang pemasukan utama. Atau dalam bahasa Sunil Samtani, “Pertarungan film sesungguhnya ya ada di situ (biskop)”, katanya.

Parves dan Sunil Samtani, sekali lagi, ingin mengatakan sumber utama pemasukan film terbesar tetaplah berada di bioskop. Bahwa seturut perkembangan zaman ada Media Baru, seperti Video On Demand, dan media lainnya, tetap saja, pemasukannya belum sebesar pemasukan dari pemutaran film di bioskop.

Dengan kata lain Chand Parves dan Sunil Samtani ingin mengatakan, bioskop tetap menjadi idola pemutaran film layar lebar. Karena, sebagaimana kita ketahui bersama, ada “Jackpot” di bioskop, jika sebuah film mampu menjadi primadona, dan otomatis mendatangkan rejeki yang tidak sedikit kepada pembuatnya.

Meski sayangnya, sebagimana dimaklumi bersama, bioskop sebagai ujung tombak jualan film layar lebar sempat tutup untuk beberapa lama, atau sudah memasuki lima bulan berjalan (bahkan hingga tulisan ini disusun, di Indonesia masih ditutup, karena dikawatirkan menjadi cluster persebaran Covid-19). Dan kalaupun bioskop dibuka kembali, akan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Seperti daya tampung maksimal harus separuh dari kapasitas bioskop. Serta harga tiket Masuk (HTM) yang belum ditentukan karena banyak persoalan di sana.

Serta di saat bersamaan, penonton film masih sangat enggan datang ke bioskop, karena, sekali lagi, menghindari bioskop sebagai kluster baru tempat persebaran Covid-19.

Baru-baru ini sebagaiamana kita ketahui bersama, pada bulan Juli lalu, bioskop sempat ada wacana akan dibuka kembali. Tapi karena persebaran Covid-19 tidak menunjukkan kurva mendatar apalagi menurun di Jakarta juga kota besar lainnya di Indonesia, terpaksa Pemerintah Pusat dan Pemerintah Kota/Propinsi mengambil keputusan untuk menunda pemutaran film di bioksop.

Lalu bagaimana Starvision Plus mensiasati hal ini? Menurut Parwez, apabila bioskop tidak kembali berfungsi, masyarakat akan kehilangan haknya sebagai mahluk sosial untuk bisa merasakan kegiatan di civic centre/bioskop yang telah menjadi ‘home’, tempat keluarga bisa memiliki quality time bersama.

“Bioskop di era ini sudah jadi area publik tempat diskusi dan berbagai kegiatan rekreasi yang membahagiakan. Di luar itu, bioskop adalah lambang supremasi identitas film nasional yang mengedepankan budaya lokal. Jadi fakta film sebagai produk budaya kreatif melakukan peranannya sebagai ‘cagar budaya’. Apabila film nasional di bioskop tidak hadir kembali, akan jadi kekalahan besar,” jawab Parwez sembari mengemukakan alasan, “Karena media baru tidak akan memikirkan kepentingan lokal (Indonesia) tapi global (market mereka secara umum, yang tidak ada kepentingan budaya nasional atau ‘cagar budaya’)”.

Jawaban Chand Parwez banyak benarnya. Digital Platform memang menjadi salah satu jalan keluar dari kebuntuan dikarenakan pandemi. Meski belum sebanding dengan pemasukan dari bioskop, misalnya. Tapi, daripada tidak ada pemasukan alternatif, digital platform patut untuk dicoba.

Sebagaimana sejumlah rumah produksi film di Hollywood sudah melakukannya baru-baru ini, saat mereka merilis film “Mulan” di dunia, via jejaring eksklusif Disney +. Bahkan baru-baru ini, film terkini yang dibintangi Johnny Depp berjudul “Waiting For Barbarians”, di Indonesia bahkan dirilis dan ditayangkan oleh salah satu TV digital platform, per tanggal 7 Agustus, kemarin.

Meski sensasi menonton bioskop sulit untuk digantikan, tapi kita ketahui bersama tetap berlaku hukum: keselamatan tetaplah yang paling utama. Karena toh tetap tidak ada sebuah film berkualitas yang paling estetis juga sekaligus menghibur sekalipun, yang sebanding dengan nilai nyawa manusia.

Jadi bagaimana mensiasati persoalan pelik ini? “Ya harusnya dengan support dari Pemerintah, bukan sekedar hadir, tapi aktif. Kecuali mau melepaskan film yang sangat strategis ke media baru yang orientasinya berbeda,” kata Chand Parvez.

Dengan demikian, jika ada pertanyaan susulan seperti apakah negara telah hadir dalam persoalan perfilman selama pandemi Covid-19? Apakah Pemerintah telah hadir dalam memberikan peraturan soal produksi film mengikuti protokol kesehatan.

Baik kehadirannnya berupa dukungan Undang-Undang serta peraturan lainnya yang berpihak kepada perkembangan dan daya tahan ekosistem perfilman. Atau negara cukup hadir dalam pemberian subsidi finansial/kredit, pengurangan pajak tontonan dan tunjangan lainnya?

Dengan tegas Parwez menjawab, “Starvision belum merasakan kehadiran pemerintah yang bisa membantu kesulitan keuangan kami. Kami bertahan dengan dana dari deviden tahun 2019 yang belum dibagikan. Juga dengan penambahan modal baru”.

Berdasarkan pemahaman itulah, langkah alternatif Starvision Plus di masa pandemi untuk menyelamatkan industri perfilman agar tidak semakin terpuruk, dengan melakukan langkah mandiri. “Kami bertahan dengan memonitize asset library milik Starvision di media baru dan lain-lain. Tapi itu tidak menyelesaikan kerugian akibat terhentinya berbagai aktivitas peredaran film di bioskop yang jadi lokomotif aktivasi monitize lainnya,” jawabnya.

Maka tidak mengherankan jika Starvision Plus yang harus menunda produksi filmnya sebanyak delapan (8) judul film layar lebar, dan tertunda tayang empat (4) judul film, dan delapan (8) Film Televisi, serta dua (2) Web Series, dan juga dua (2) TV Series, mengalami kerugian yang tidak sedikit nominalnya.

Meski sejatinya, tetap ada sumber pemasukan lain sebuah film, selain pemutaran film di bioskop, lewat Digital Platform, misalnya. Tapi menurut Sunil dan Parves, sumbangannya sangat sedikit. “Bioskop berkontribusi paling besar, media baru adalah additional yang persentase kontribusinya dalam peredaran film masih relatif kecil,” kata Parwez.

Gebukan keras pagebluk ini, menurut Parwez main terasa keras kerugian finansialnya, dikarenakan bioskop masih ditutup, dan proses produksi film berhenti total.

“Dengan berhentinya produksi juga peredaran film-film dan karya televisi seperti FTV dan series Ramadhan yang harusnya ada 2 program dari Starvision, kerugian yang diderita mencapai lebih dari 50 Milyar rupiah, karena dibarengi dengan pembayaran dari pihak luar yang gagal termasuk beberapa pihak berhutang ke Starvision menyatakan pailit,” terang Parwez.

Ya, 50 Milliar Rupiah adalah angka kerugiaan yang didaku harus ditanggung Starvision Plus.

Jadi jika ada pertanyaan, sejauh mana mampak pandemi terhadap proses produksi film di rumah produksi filmnya? Parwez dengan cepat menjawab sangat besar sekali.

“Semenjak pandemi terjadi di Wuhan, China, Starvision sudah mulai menerapkan protokol syuting yang ketat. Tapi kemudian ditetapkan untuk berhenti dengan berbagai chaos yang menyulitkan kegiatan produksi di lapangan. Yang telah berprotokol keselamatan sekalipun. Sehingga praktis berhenti sejak minggu terakhir Maret 2020″, katanya.

BACA JUGA :  Penguatan UMKM pada Era Digital

Sedangkan RAPI Film, meski tidak secara gamblang menyebut angka kerugian yang dideritanya selama Covid-19 berlangsung, dan akibatnya bioskop ditutup, dan proses produksi film berhenti, yang pasti total kerugiannya tidak sedikit.

Bagaimana dengan rumah produksi film besar lainnya seperti Falcon Pictures, MD Pictures, dan MVP, Serta banyak nama lainnya? Sama. Meski enggan memberikan jawabannya, sedikit banyak persoalan dan kerugian yang dialaminya tidak sedikit jumlahnya.  Meski kemampuan finansial sejumlah PH besar itu kuat, tetap mabok juga digebuk pagebluk. Apalagi PH semenjana.

Meski pada saat bersamaan, saat Protokol kesehatan yang dikeluarkan berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) dua Kementrian, salah satu isinya mengatur proses syuting di dalamnya, Starvision Plus mengaku tetap menyambutnya dengan baiik. “Harus disambut dengan baik, demi menjaga laju ekosistem dunia perfilman di Indonesia,” jawab Parwez.

Apakah SKB protokol kesehatan itu sudah memenuhi harapan Parwez? atau masih ada beberapa tambahan?

“Protokol yang dikeluarkan melalui SKB 2 Menteri yaitu Kementerian yang menangani strategisnya film sebagai produk budaya (Kemendikbud) dan yang membantu film sebagai produk ekonomi kreatif (Kemenparekraf) adalah angin segar yang patut disambut baik, melengkapi dan sekaligus sebagai penjelasan Permenkes tentang ini. Tetapi yang juga harus dipahami bahwa dampak pelaksanaan protokol ini bukan hanya penambahan biaya produksi untuk perlengkan protokol, tetapi tambahan hari kerja sebagai konsekuensi penerapan protokol ini. Diperkirakan biaya produksi akan meningkat lebih dari 20% karena hari kerja dalam produksi film yang lebih lama disamping perlengkapan protokol keselamatan,” terang Parwez.

Malaysia Dibangkrutkan Pandemi.

Apa yang dialami dan dirasakan Starvision Plus dan RAPI Film ternyata juga dialami oleh Asosiasi Produser Film Malaysia, juga Iran. Menurut mereka, sejak pemerintahan Kerajaan Malaysia memutuskan menutup pemutaran film di bioksop sejak 18 Maret 2020, Malaysia memulai fase pertama total shutdown kecuali untuk layanan esensial saja.

Akibatnya, sebagaimana kerugian di sejumlah negara lainnya di kawasan Asia Tenggara. Di Malaysia saja, kerugian finansial bisa dengan mudah ditakar di sekitar angka Lima Ratus Juta Ringgit Malaysia (atau 1,7 trilliun Rupiah). “Kami memiliki sekitar 20 film lokal dan 100 film asing yang dibatalkan (penayangannya selama pandemi ini,” jawab The National Film Development Corporation Malaysia atau Perbadanan Kemajuan Film Nasional (Finas).

Akibat dari penutupan bioskop itu, beberapa film dipaksa untuk beralih pemutarannya di platform OTT (Over-The-Top/ layanan internet) seperti Astrofirst selama Pandemi. Hal itu harus dilakukan karena, sebagaimana jawaban yang diberikan Finas, regulasi untuk film lokal di Malaysia harus ada di bawah regulasi Syarat Wajib Tayang. (Atau semacam Surat Tanda Lulus Sensor/STLS dari Lembaga Sensor Film/LSF).

Bagusnya, di Malaysia, film lokal yang belum sempat dirilis (tapi telah selesai proses produksi, dan mendapatkan Syarat Wajib Tayang ) dapat mengklaim kerugian dengan anggaran promosi sebesar RM 150,000, hingga RM 300,000 untuk mempromosikan film mereka. Di luar beberapa film judul film yang mendapatkan hibah dari negara hingga di angka RM 1 Juta (3,49 Miliar Rupiah).

Kebijakan hibah yang diberikan negara kepada produser film dengan parameter yang jelas dan terukur inilah yang sayangnya belum ada di negara kita.

Finas mengatakan, hampi semua judul film yang membutuhkan anggaran besar telah menunda waktu rilisnya, sampai batas waktu yang belum ditentukan, dan semua orang mengadopsi kebijakan wait and watch. Dan kalaupun pada akhirnya bioskop akan dibuka pada waktunya, protokol kesehatannya sangat ketat dan rigid sekali. “Sinema Malaysia sekarang terbuka dengan SOP ketat, seperti tempat penyediaan tempat duduk alternatif, harus ada ruang sanitasi. Serta kewajiban mengenakan masker wajah”.

Iran Mengalami Kerusakan Tak Terkira.

Mehrdad Rakhshandeh, dari Konselor Kebudayaan Iran, juga memberikan jawaban sama, atas persoalan utama dan kerusakan industri film di negaranya.

Tercatat, sejak 22 Februari 2020, Kementerian Budaya dan Bimbingan Islam dalam pengumuman urgennya untuk pencegahan bahaya penularan Corona, juga demi menjaga kesehatan masyarakat, mula-mula meliburkan seluruh program seni dan cinema (bioskop).

Dengan memutihnya zona di banyak wilayah, cinema sempat dibuka kembali, namun tetap harus mematuhi protokol kesehatan. Dan sayangnya, harus menghadapi gelombang kedua penutupan kembali.

Akibatnya, saat ini, menurut Mehrdad, sebanyak 635 layar cinema, dan 355 bioskop di seluruh Iran harus diliburkan. Dari sisi lain, puncak pandemi corona bertepatan dengan hari-hari Nouruz dan permulaan tahun baru Iran, yaitu waktu layar emas cinema Iran. Biasanya pada saat ini, cinema-cinema Iran menyambut tahun barunya dengan pemutaran minimal enam judul film.

Bahkan terkadang menampilkan jadwal tayang yang luar biasa padat. Biasanya film-film yang tayang di masa Nouruz (tahun baru Iran) memperoleh hasil penjualan terbesar dalam di sepanjang tahun pemutarannya.

Namun kondisi yang ada saat ini, sayangkan menimbulkan kerugian di industri film Iran yang sangat besar, bahkan lebih lebih dari kerugian  yang pernah ada sebelumnya.

Berkenaan dengan pertanyaan, apakah ada pilihan-pilihan alternatif bagi industri film di Iran agar film-film mereka tetap diputar di masa penyebaran virus covid 19? Dan apakah masih berfikir mendapat raihan box office dari film-film lokal mereka?

Konselor Kebudayaan Iran menjawab, Meski benar adanya bahwa box office untuk film tetap datang dari pembukaan bioskop. Beberapa langkah alternatif dari Lembaga Cinema Iran saat pandemi corona,  tetap dilakukan. Salah satunya dengan melakukan pemutaran film secara online oleh delapan (8) film Iran dalam dua channel VOD. Dan sampai sekarang, pemutaran secara online saat ini masih berlanjut.

Selain itu, ada peluncuran drive in cinema dan pemutaran empat (4) film luar (import) juga termasuk langkah-langkah yang diambil Lembaga Cinema Iran, yang dilakukan di Tehran dan beberapa kota di hari-hari ini, dan hingga kini masih berlanjut.

Meski demikian, kerusakan sudah terlanjur terjadi. Sehingga kerugiannya juga sangat besar sekali bagi industri film di Iran. “Kerugiannya di angka 8.4 juta Dolar AS (123 Miliar Rupiah) saat di masa Nouruz (Tahun baru Iran) saja,” kata Mehrdad sembari menambahkan, negara Iran tetap sebisa mungkin hadir, untuk  membentuk berbagai wadah pemikiran, demi mengurangi kerugian insan film di negaranya.

Sudah Mengerikan, Makin Mengerikan.

Dari contoh kasus dan dampak pagebluk Covid-19 yang dirasakan sejumlah pelaku industri film di Indonesia, Malaysia dan Iran terlihat betapa mengerikannya gebukan pagebluk ini.

Meski ada yang berpendapat, jauh sebelum Covid-19 datang, perfilman Indonesia kondisinya sudah seperti terdampak pandemi. Dengan beberapa alasan tertentu, seperti sistem tata edar perfilman nasional, yang ditimbang masih menjadi persoalan laten. Yang seperti tidak akan pernah selesai dalam waktu dekat.

Di luar persoalan pajak tontonan, yang dinilai tidak kembali ke ekosistem dunia perfilman peruntukannya. Juga persoalan strategi kebudayaan, dalam menempatkan film yang menurut banyak penggiat film, belum ditempatkan pada aras sepatutnya.

Dengan persoalan yang seperti tidak ada habisnya itulah, tetiba pandemi Covid-19 datang. Lengkap dan sempurnalah persoalan di dunia perfilman Indonesia. Menyerahkan kita dengan kondisi yang tidak mudah ini? Dan entah sampai kapan berakhir kondisi yang tidak mengenakkan ini? Tentu jawabnya TIDAK! Meski dampak kerusakan yang ditimbulkan dari kondisi ini sangat luar biasa. Nyaris tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Padahal, pertumbuhan industri film Indonesia, sempat mulai menunjukkan tanda-tanda menggembirakan beberapa tahun ke belakang. Dengan meningkatnya jumlah produksi film dalam negeri, juga jumlah penontonnya. Tapi sayangnya harapan baik itu, seketika rubuh dihantam pandemi, di awal tahun ini.

Bioskop bukan semata menjadi sepi, tapi harus gulung karpet untuk sementara waktu, demi menghentikan kemungkinan menjadi tempat persebaran virus yang belum ditemukan vaksinnya ini. Bahkan proses produksi film, segendang sepenarian, juga turut mandeg untuk sementara waktu.

Akibatnya, industri perfilman, juga industri hiburan lainnya, mati suri, entah sampai kapan.

Meski sejatinya, sebagaimana data yang dikeluarkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada 2019, perkembangan dan pertumbuhan industri film nasional, belum berjalan di jalurnya, atau belum optimal.

Tersebab, dilihat dari kontribusi industri film terhadap perekonomian Indonesia, di tahun 2015, hanya menyumbang sekitar 0,16% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Padahal rata-rata sektor industri kreatif lainnya, di tahun yang sama, memberikan kontribusi di angka 6,03% dari PDB Indonesia.

Padahal, masih menurut catatan BKPM, industri film nasional berkembang jika pangsa pasarnya juga turut berkembang. Perkembangan itu, diukur dari peningkatan jumlah penonton film lokal. Bagaimana mungkin jumlah penonton dapat berkembang, jika pandemi dengan seketika langsung mematikan perkembangan jumlah penonton tersebut, dengan sangat drastis dan sangat ekstrim sekali.

Jika sebelumnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang saat ini membawahkan urusan perfilman nasional, pernah menargetkan film nasional menguasai 50% pangsa pasar film nasional. Dengan sendirinya, karena adanya pandemi ini, harus mengoreksi ulang targetnya.

Meski Kemendikbud, sebelumnya telah menyiapkan sejumlah langkah strategis, seperti turut mensponsori produksi film nasional untuk bekerja sama dengan sejumlah produksi dari rumah produksi film internasional. Juga sejumlah langkah strategis lainnya.

Koreksi capaian jumlah penonton itu, juga sempat dilakukan kelompok usaha Cinema 21. Yang sempat memproyeksikan pangsa pasar film nasional tahun ini lebih rendah dari target pemerintah, atau hanya sebesar 37%. Proyeksi dihitung dari pangsa pasar film lokal pada 2017, hanya sebesar 35%, dengan jumlah penonton sebesar 42,7 juta. Jumlah penonton ini meningkat dari tahun sebelumnya, di tahun 2016, sebesar 37,2 juta.

Lalu bagaimana dengan terget raihan penonton di masa pendemi? Berapa angka real-nya? Sulit menjawabnya.

Untuk alasan itulah, tulisan ini disusun. Siasat tetap bernafas di masa pandemi, dengan tetap menjaga nyala dan elan vital tetap berkarya, seturut dan selaras protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah, menjadi PR bersama semua pemangku kepentingan perfilman Indonesia.

Sehingga cerita cerlang film Warkop DKI Reborn, yang pernah sukses mengumpulkan penonton lebih dari 7 juta pada 2016, juga film Habibie & Ainun yang mendapatkan 4,5 juta penonton. Serta film Laskar Pelangi (Rainbow Troopers) di tahun 2012, yang mendapatkan 4,7 juta penonton. Juga film Dilan (2018) yang mampu menarik penonton di angka 6,3 juta, dapat kembali terulang. Meski tentu menjadi perkara yang sangat berat sekali.

Menimbang, selama pandemi, masyarakat masih sangat enggan mengunjungi gedung bioskop, meski protokol kesehatan telah diterapkan di sana. Serta ada pembatasan kapasitas penonton hingga separuhnya di sebuah gedung bioskop. Akan menjadi salah satu faktor diantara banyak faktor lainnya, raihan penonton film Indonesia, akan turun sangat drastis.

Demikian halnya, dengan jumlah produksi film, juga akan mengalami penurunan tajam. Jika pada 2015, ada sekitar 200 judul film dalam setahun, dan meski hanya 10% nya yang berhasil di pasaran.

BACA JUGA :  Optimalisasi Pembelajaran Virtual

Bagaimana dangan jumlah produksi film nasional di tahun 2020?

Apakah penurunan jumlah penonton itu juga akan terjadi pada peredaran sejumlah film import (Hollywood) di Indonesia? Tentu saja. Jika film Avengers: Infinity War pernah meraup pemasukan lebih dari US $ 25 juta di awal tahun ini. Juga film The Nun di angka US $ 7 juta. Apakah sejumlah film yang akan beredardi masa pandemi akan tetap mampu menunjukkan taringnya? Waktu akan mengujinya.

Dengan jumlah layar bioskop pada 2019 sebanyak 1.700 layar di Indonesia, atau hanya 0,4 layar per 100.000 orang. Berdasarkan jumlah penduduk 260 juta. Katadata mencatat, Gedung dan layar bioskop di Indonesia hingga Desember 2018 masing-masing mencapai 343 bioskop dan 1.756 layar. Dimana Cinema 21 menguasai lebih dari separuhnya, yakni 186 bioskop (54,2 persen) dan 1.024 layar (58,3 persen).

Sangat sulit bagi film nasional, juga film import, untuk dapat kembali memanen penonton di masa pandemi ini. Untuk tidak mengatakan mustahil.

Bandingkan dengan 14 layar per 100.000 orang di AS (sumber data yang lain menyebutkan, jumlah layar film di AS tumbuh dari 39.233 pada 2009 menjadi 41.172 pada 2019). Sedangkan raksasa ekonomi lainnya, 1,8 layar per 100.000 di Cina. Meski sebagaimana dikutip Statista.com, jumlah layar bioskop di Cina telah meningkat hampir 20 kali lipat sejak 2007, dari 3.527 layar tahun itu menjadi 69787 layar pada 2019.

Di atas itu semua, dalam kondisi sulit ini, saatnya kita tetap dan terus bergerak. Berhenti mengaduh dan mengeluh, untuk menemukan alternatif kebaruan demi menemukan celah jalan keluar. Karena, sebagaimana dinasehatkan para tetua, nasib baik hanya berpihak kepada para pemberani, juga pemilik inovasi. Sebab, bakat menjadi sia-sia, jika tidak ada kerja keras dan keberanian yang terukur di sana.

Korea Selatan Doyong di Masa Pandemi.

Perfilman Korea tidak lagi sama di mata dunia. Sejak Bong Joon-ho dengan kegilaannya, menyajikan film Parasite ke panggung dunia. Dan hasil puncaknya, memenangi Piala tertinggi kategori Best Picture pada gelaran 92nd Academy Awards pada Februari 2020, lalu.

Sekaligus mencatatkan rekor sejarah yang nyaris tak terpermaknai. Dengan menempatkan film drama komedi satir nan gelap itu, sebagai film berbahasa non-Inggris pertama dalam sejarah, sebagai peraih Best Picture.

Senyampang perayaan ulang tahun ke-101 sejarah film Korea, prestasi Parasite diharapkan membawa perubahan besar dalam sinema Korea. Setelah jauh sebelumnya, film lawas Korea berjudul “Fight for Justice” yang rilis pada tahun 1919, menancapkan tonggaknya.

Namun sejarah mengklaim industri film Korea mengalami puncaknya pada akhir 1990-an. Sejak dua dekade itupula, film Korea telah berevolusi secara signifikan menjadi film yang paling dinikmati di kawasan Asia hingga Eropa dan AS.

Keberhasilan film Korea ini, dapat ditilik dari tingginya raihan jumlah kumulatif penontonnya di tahun 2018, yang mencatatkan di angka lebih dari 200 juta. Angka sebesar itu, hebatnya terjadi di tahun sebelumnya, selama enam tahun berturut-turut. Dengan pangsa pasar film Korea mencapai lebih dari 50 persen selama delapan setengah tahun. Dengan volume penjualan mencapai angka 1,18 triliun won.

Dalam catatan Statista, film Korea yang diproduksi oleh perusahaan besar domestik dan perusahaan distribusi, seperti Lotte Culture Wick, CJ ENM, NEW, Showbox, senantiasa menghasilkan produk signifikan. Tercatat CJ adalah produsen dan distributor terbesar Korea dan telah memainkan peran penting dalam pengembangan industri film di negeri gingseng itu, termasuk pendirian dan sistem distribusi film-film Korea dan pengenalan bioskop multipleks.

Masih dalam catatan Statista, pada tahun 2018 terdapat 483 gedung bioskop dan 2.937 layar di seantero Korea. Yang 80 persennya, teaternya adalah teater multipleks. Potensi dan bagian penjualan multipleks masing-masing sekitar 98 persen. Platform teater dengan teknologi baru diekspor ke seluruh dunia oleh perusahaan CGV dan Lotte Cinema. CGV mulai mengekspor ke Cina pada 2009 dan saat ini mengoperasikan 366 teater di enam negara.

Lotte Cinema memiliki 56 teater di seluruh Tiongkok, Vietnam, Hong Kong dan Indonesia. Sedangkan teater berteknologi kiwari, 4DX, penonton dapat menonton film sembari melibatkan indra perasa: sentuhan dan penciuman, mulai berdiri sejak 2009 dan telah tersebar di 60 negara hingga kini.

Mengapa penonton film di Korea bisa begitu besarnya? Mengalahkan jumlah penduduknya? Yang di tahun 2018 berada di angka 51,5 juta jiwa. Jawabnya sederhana. Karena menonton film adalah kegiatan budaya yang umum dan populer di Korea.

Bahkan sebuah survei terbaru mengatakan, pergi ke bioskop adalah kegiatan paling eksklusif dari generasi muda berusia 15 dan 34 tahun di Korea. Buktinya, film box office Korea di tahun 2018 berjudul “Along with the Gods: The Last 49 Days” ditonton oleh 12 juta di masa itu saja.

Bandingkan dengan raihan penonton film tertinggi di Indonesia hingga kini, yang diraih film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 pada tahun 2016. Yang berada di angka 6,8 juta, meski penduduk Indonesia berjumlah 250 juta! Atau lima kali lebih banyak dari penduduk Korea.

Tangapan publik Korea atas film import, terutama dari Hollywood juga nyaris sama. Film semesta Marvel, delapan kali antara 2008 dan 2018 senantiasa menjadi box office. Demikian halnya dengan film Bohemian Rhapsody juga meraih prestasi serupa.

Sederhananya, pergi dan menonton ke bioskop telah menjadi kebutuhan premier, mensejajari kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan di Korea. Tapi, dengan datangnya pandemi Covid-19 apakah cerita sukses itu akan sama? Menimbang bioskop di Korea, sebagaimana bioskop lainnya di berbagai penjuru dunia, harus menutup dirinya, sampai batas waktu yang belum ditetapkan? Tentu sangat berbeda jawabnya.

Meski statistik menunjukkan pendapatan penjualan industri film di Korea Selatan dari 2008 hingga 2019, mencatatkan angka luar biasa, atau di angka 2,5 triliun won. Tapi itu semua terjadi sebelum pagebluk menghantam dunia!

Nilai ekspor film di Korea Selatan juga luar biasa. Dari 2013-2019 berjumlah sekitar 37,9 juta dolar AS.

Sedangkan dalam catatan Statista Research Department, per 30 April 2020, kemarin, statistik menunjukkan jumlah penonton film domestik di Korea Selatan dari 2008 hingga 2019. Pada 2019, sekitar 115,6 juta orang menonton film domestik di Korea Selatan.

Namun sayangnya, cerita indah itu hancur diporakporandakan Covid-19. Dalam hitungan jentikan jari.

Bahkan sejak akhir Februari 2020, kehadiran film di Korea merosot ke level terendah sepanjang masa. Berbarengan dengan makin besarnya kasus orang terkena dampak  Covid-19 yang terus meningkat. Turunannya, beberapa teater musti ditutup.  Meski banyak yang nekat tetap buka, tetapi sepi penonton.

Hingga mengakibatkan beberapa film Korea menunda tanggal rilis yang tadinya di bulan Februari dan Maret sebagaimana direncanakan sebelumnya, mesti mundur jauh ke belakang. Salah satu rilis tertunda adalah versi teater hitam putih dari film Bong Joon-ho Parasite, yang memenangkan empat piala Academy Awards pada awal Februari, lalu.

Yang lainnya, memilih untuk debut secara online. Yaitu film thriller fantasi Time to Hunt, yang menampilkan bintang “Parasite” Choi Woo-sik dan bintang “Signal” Lee Je-hoon . Yang rencananya akan tayang perdana di bioskop setelah pertunjukan khusus di Festival Film Berlin, tetapi sekarang debut di Netflix pada bulan April.

Segendang sepenarian, sebagaimana dikutip Forbes, film-film lain juga telah menunda debut teater mereka tanpa batas waktu. Bahkan jadwal produksi juga terpengaruh. Beberapa film yang berencana syuting di luar negeri telah mengubah rencana produksi.

Karena sudah mentok bersiasat dengan dampak ekonomi yang mengerikan dari pandemi ini, pada bulan Maret lalu, sejumlah pemangku kepentingan di Korea akhirnya meminta pertolongan kepada negara. Memohon kehadiran negara, agar pemerintah memberikan bantuan keuangan dan langkah-langkah darurat untuk mengatasi krisis, yang entah sampai kapan rampung ini.

Sejumlah perwakilan insan film di Korea menekankan perlunya negara membantu perusahaan film yang tidak memiliki sumber daya agar dapat bertahan dari krisis ekonomi yang parah ini. Sekaligus meminta negara untuk membantu mencegah PHK di industri film skala besar, terjadi. Insan film juga meminta dukungan keuangan untuk pekerja industri film yang telah kehilangan pendaringannya.

Yonhap News Agency menulis, permintaan pekerja industri film itu merupakan respons terhadap kebijakan yang diambil Pemerintah sebelumnya. Yang menunjuk empat sektor industri, yang akan menerima dana untuk membantu kelangsungan hidupnya. Dengan mempertahankan karyawannya selama krisis Covid-19.

Meskipun industri pariwisata paling mendapatkan perhatian pemerintah untuk mempertahankan ekosistemnya. Sedangkan industri film belum, atau tidak mendapatkan perhatian sebesar industri pariwisatanya.

Meski catatan sumbangan dunia perfilman Korea sangat besar bagi negara. Pada tahun 2019, Korea Selatan memproduksi lebih dari 50 film, menghasilkan total pendapatan 971 miliar won, atau sekitar $ 823 juta. Di tahun Pandemi 2020 ini pendapatan itu, pasti jauh lebih sedikit, dan terjun bebas dari tahun sebelumnya.

China Ambruk Digruduk Pagebluk.

Sekelas negara China, yang kekuatannya sangat terlatih berperang dagang dengan AS, akhirnya guncang juga, saat wabah Covid-19 secara signifikan menghantam sektor ekonominya. Sebagaimana AS, juga Indonesia, dan negara-negara lainnya, industri filmnya juga bukan sekedar terpapar, tapi sangat terpengaruh dengan pagebluk yang seperti menjadi kutukan global ini.

Alih-alih mengutuki nasib, negara Komunis yang menihilkan demokrasi itu bergerak cepat. Hampir di semua kota besarnya, melakukan karantina mandiri. Turunannya, semua warga negara, tanpa terkecuali – tidak dengan tenaga kesehatan dan aparat terkait — diharuskan berdiam diri di rumah demi menghindari persebaran infeksi. Pusat perbelanjaan, bioskop, dan restoran ditutup atau mandeg beroperasi sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Padahal pagebluk yang berasal dari kota Wuhan itu, datang bertepatan dengan hari libur China terbesar, Tahun Baru Imlek. Sebagaimana liburan nasional di negeri kita, Tahun Baru Imlek, semacam Lebaran Idul Fitri saja. Biasanya, penduduk negeri Tirai Bambu itu akan melakukan prosesi akbar, bernama mudik! Di saat musim mudik itulah, industri film, biasanya menjelma bisnis tersibuk.

Sebagaimana dikutip Biro Statistik Nasional China,  berkah liburan Tahun Baru Imlek berbanding lurus dengan kegiatan masyarakat China mengunjungi gedung biskop. Fenomena orang pergi ke bioskop di musim mudik, juga terjadi di Indonesia. Itulah mengapa sejumlah rumah produksi film di Indonesia rela berebutan tanggal tayang di musim liburan Lebaran. Kalau diperlukan sambil sikut-sikutan antarrumah produksi film demi berebut kue Lebaran.

Di China sendiri, sejak merebaknya wabah di awal tahun 2020, lebih dari 70.000 layar di sekitar 10.000 bioskop di seluruh China yang telah menetapkan tanggal tayang, dan tak terhitung film dalam masa produksi, dipaksa membekukan kegiatannya.

BACA JUGA :  CATATAN AKHIR TAHUN 2020 MUI DAN MASALAH INTERNASIONAL: Oleh: Sudarnoto Abdul Hakim, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional

Proses produksi film juga segendang sepenarian, mengalami kesulitan. Hengdian World Studio, Xiangshan Global Studios, dan banyak rumah produksi film lainnya telah ditutup. Produksi film banyak yang ditangguhkan atau bahkan dibatalkan sejak bulan Januari.

Tak mau berhadapan dengan kerugian ekonomi yang semakin besar, belum lama ini, pemerintah China meluncurkan seperangkat aturan untuk membuka kembali ruang publik yang berisiko lebih tinggi menjadi klaster baru penyebaran virus. Demi menghindari kebangkrutkan nadi ekonomi. Namun bioskop, sampai tulisan ini disusun, belum menerima izin khusus.

Meski beberapa pendapat mengatakan, sudah waktunya pemerintah Komunias China mempertimbangkan untuk mengizinkan produksi film dimulai dan bioskop dibuka kembali. Dengan harapan ekonomi kembali menggeliat.

Karena kota megapolitan seperti Beijing toh telah menurunkan tingkat tanggap darurat dari dua menjadi tiga, dan sebagian besar bisnis di China telah kembali ke operasi normal. Sehingga cerita tentang beberapa perusahaan film kehilangan satu juta yuan sehari dapat dihindari, dan satu juta karyawan yang bekerja serta menggantungkan hidup di industri ini, dapat bertahan hidup dan syukur dapat diselamatkan.

Harapannya, bioskop tidak harus menunggu lebih lama untuk beroperasi kembali dan industri film terus menghadapi masa depan yang tidak pasti. Meski sebenarnya, the damage has been done. Buktinya, Wabah ini berhasil dengan sukses membuat bioskop-bioskop berskala kecil dan kurang menguntungkan harus gulung karpet terlebih dahulu. Bubar jalan.

Bayangkan, Cina yang industri sinemanya berlari kencang, dan pada 2011, berhasil menambah sekitar 1.000 layar bioakop baru setiap tahun sejak itu. Terpaksa harus terkapar juga akibat terpapar wabah ini.

Tersebab harga sewa yang tak terbayar, sebab sumber pendapatan hilang, karena bioskop tutup. Akibatnya, banyak bioskop yang tamat riwayatnya.

Box office China bahkan diprediksi mengalami kerugian pendapatan hingga 30 miliar yuan tahun ini saja. angka kerugian itu akan makin membesar, jika pembukaan bioskop kembali ditunda hingga bulan Oktober tahun ini. Dengan sendirinya, penutupan operasional bioskop akan memotong pendapatan di tahun 2020 sebesar 91 persen. Atau terjun bebas di angka 5,79 miliar yuan, menurut perhitungan Asosiasi Film Cina.

Meski tetap ada pemasukan lain dari industri ini. Misalnya, saat masyarakat diminta tinggal dan berdiam diri di rumah, atau melakukan karantina mandiri atau karantina terpaksa. Mendorong kebutuhan Video On Demand (VOD) meningkat. Tercatat, selama liburan Tahun Baru Imlek, pengguna aktif harian smart TV lebih tinggi daripada dua tahun terakhir, dan pengguna aktif harian dan menonton waktu streaming media BATs (Video Tencent, Youku Video, Video iQiyi) juga meningkat.

Nah, dari sinilah kehadiran negara dengan kekuasaannya menjadi penting sekali. Demi bersiasat dengan kesusahan yang nyaris tak terpermaknai ini, banyak pemerintah daerah di China telah memperkenalkan kebijakan dan menggunakan berbagai kiat keuangan untuk mendukung pengembangan industri film.

Beijing, misalnya, telah melakukan subsidi industri film, mengurangi biaya keuangan perusahaan film dan televisi, serta memungkinkan perusahaan berbasis kebudayaan untuk menunda pembayaran jaminan sosial.

Provinsi Jiangsu, bahkan mengalokasikan 10 juta yuan (1,4 juta dolar AS) untuk mensubsidi industri film dan memperkuat dukungan keuangan bagi para praktisi film. Apakah semua dukungan dan kehadiran negara itu cukup memberikan formulasi manjur demi menjaga nafas industri film China? Waktu akan membuktikan.

Meski sebenarnya, China pernah mendapatkan pengalaman nyaris serupa, saat wabah SARS pada tahun 2003 juga sempat menekan industri film, meski untuk sementara waktu. Saat itu, banyak produser film secara sukarela juga menunda tanggal rilis film mereka.

Hong Kong Motion Industry Industry Association, mencatat, selama SARS, serangkaian tindakan pencegahan diambil, yang kemudian terbukti positif untuk menyehatkan industri film dalam jangka panjang. Dengan salah satu langkah strategisnya membuka pasar atau partisipasi asing dan menciptakan lingkungan baru bagi perusahaan film swasta untuk muncul.

Meskipun SARS dan Covid-19 adalah dua peristiwa kesehatan masyarakat yang terpisah, diharapkan masyarakat dan pemerintah China dapat belajar dari dua peristiwa besar itu. Dan kita tahu, China adalah negara yang senantiasa belajar dari pengalaman pahit mereka.

Untuk itu, mereka menjadi negara besar seperti sekarang. Apalagi ada penilaian, dan banyak diamini di China, bahwa efek dari pagebluk ini bersifat sementara. Meski tidak sebentar juga. Tetap membutuhkan stamina prima nan sparta. Maka, China telah bersiap-siap menanggungkan kelaraan dalam waktu lebih lama.

Australia dan Selandia Baru Semaput.

Ramalan itu akhirnya maujud juga. Saat Covid-19 benar-benar mampu membangkrutan Dan membuat semaput industri film di Australia dan Selandia Baru. Sampai bulan Maret 2020, lalu, tercatat sedikitnya 60 skedul syuting film di negara Australia saja mandek. Mengakibatkan setidaknya, 20.000 orang karyawan film yang bekerja di industri ini, harus kehilangan pekerjaannya.

Kondisi industri film di negara Kanguru itu makin suram saja, saat pesohor dunia sekelas Tom Hanks terkena Covid-19 saat melakukan proses syuting di sana. Lengkap sudah penderitaan insan filmnya. Meski  Hanks yang berperan sebagai Kolonel Tom Parker, dalam film biografi Elvis Baz Luhrmann, saat syuting film itu di Australia, akhirnya sembuh dari Covid-19, tapi citra kerusakan yang diakibatkan wabah itu, terlanjur luar biasa.

Setelah proses syuting film Hanks mandeg, film lainnya akhirnya mengekor di belakangnya. Harus menghentikan proses syutingnya. Akibatnya, semua proses produksi film berhenti semua, sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Apalagi sejak pemerintah setempat, memberlakukan aturan pembatasan jarak sosial, yang turunannya membuat proses produksi film menjadi semakin tidak mungkin dilakukan. Terlebih setelah hampir semua penerbangan internasional akan dihentikan. Akibatnya, semua kru internasional yang terlibat di semua proses produksi film di sana, bersegera memesan penerbangan untuk mudik, pulang ke negara masing-masing.

Screen Producers Australia, mencatat, setidaknya, 60 produksi film di Australia diberhentikan, termasuk sejumlah acara produksi TV. Seperti Shang Chi, Wakefield, Home and Away, Harrow, Back to the Rafters, Survivor Australia, Big Brother, Got Talent Australia, dan the Bachelor.

Pemerintah Australia, sebagaimana kebanyakan pemerintah di berbagai penjuru dunia, mengutamakan menyelamatkan kemanusiaan, alihalih mendahulukan kepentingan ekonomi. Sembari terus mengupayakan tindakan pencegahan. Meski akibatnya, kerugian yang ditanggung industri film di Australia tidak sedikit.

Tercatat, sebagaimana dikutip Screen Australia dan Deloitte Access Economics, di tahun 2016, sumbangan industri film kepada pemerintah Australia per tahun di angka $ 3 miliar. Dan sebagaimana industri seni Australia lainnya, industri ini telah terjerumus ke dalam kekacauan dan ketidakpastian karena krisis coronavirus

Apalagi secara bersamaan, aturan protokol kesahatan diberlakukan secara ketat, demi menekan kurva penyebaran virus ini.

Kebijakan mengutamakan kesehatan dan keselamatan ini, seketika membuat beberapa rumah produksi filn terkemuka yang bermarkas di Brisbane, Hoodlum, harus menunda dua proses produksi filmnya: Harrow dan Five Bedrooms. “Kami hancur,” tulis produser eksekutif Hoodlum Nathan Mayfield seperti dikutip The Guardian.

Meski kenyataan penghentian proses produksi itu pahit dan getir sekali, tapi diyakini sineas di Australia, hal itu tetaplah jalan terbaik. Jalan kemanusiaan.

Meski sebenarnya, Mayfield sebagai produser film lainnya di sana tetap berharap, negara harus hadir atas semua kesusahan ini. Dengan, paling tidak memberikan ‘paket dukungan darurat’. Karena tidak ada kepastian kapan sejumlah rumah produksi film itu, dapat menjadwal ulang produksi film mereka.

Apalagi, menjadi rahasia umum, kru pocokan, atau kotrakan produksi film di Australia rata-rata datang dari berbagai penjuru dunia. Sehingga saat larangan bepergian diberlakukan, seketika menimbulkan tantangan ekstra dan rumit sekali. Tersebab metodologi produksi juga turut berubah. Di luar urusan asuransi yang njlimet.

Demikian halnya dengan jaringan bioskopnya, mengalami hal serupa. Karena pasokan film berhenti, bioskop juga turut mati. Tidak hanya bioskop yang bangkrut, bahkan pembatalan Festival Film Sydney dan Melbourne International Film Festival juga terpaksa dilakukan.

Apalagi sampai saat ini, masih ada kekawatiran di Australia berkenaan dengan isyu coronavirus akan memasuki gelombang kedua. Singkatnya, kerusakan yang diakibatkan pandemi ini sangat tidak terbayangkan sebelumnya.

Sehingga kebangkitannya juga sangat tidak mudah, meski bukan berarti tidak mungkin. Demi mempercepat proses kebangkitan industri filmnya, salah satu caranya sejumlah sineas di Australia meminta semua pemangku kepentingan di Australia harus mulai memberikan dukungan nyata.

Seperti mulai mengkonsumsi produk kesenian Australia, seperti mulai menikmati konten produksi Australia, dengan menggalakkan program atau kampanye Aussie Made. Seperti mulai menonton pertunjukan Australia di masa pelonggaran aturan protokol kesehatan, hingga  pergi ke teater independen. Agar nyala api kebudayaan, tidak padam.

Sebagaimana Australia, negara Pasifik yang mengalami nasib serupa adalah Selandia Baru.

Negara Kiwi yang menjadi latar syuting film “Avatar,” dan “Lord of the Rings”, serta sejumlah filmp produksi Netflix lainnya itu, juga turut macet proses produksinya. Sehingga 5.000 pekerja di industrii initerkena dampak buruk langsungnya. Sangat dipercaya paket respon bantuan pemerintah yang cepat dan terukur akan menjadi jalan terang atas bangkitnya industri ini.

Harapan itu dijawab langsung oleh Menteri Pembangunan Ekonomi Phil Twyford. Yang mengatakan, dana pemulihan yang disediakan untuk film-film internasional dan domestik akan membuat industri ini kembali beroperasi secepat mungkin, segera diturunkan. Harapannya, agar keunggulan kompetitif Selandia Baru di industri film dunia kembali ke aras aslinya. Seperti sebelum Covid-19 menghantam dunia.

Pemerintah Selandia Baru memang telah mengumumkan akan melakukan peningkatan pendanaan untuk pembuat film dan acara tv internasional dan domestik setelah Covid-19 memukul industri mereka, dengan menyediakan dana sebesar lebih dari $ 230 juta. Yang akan dipompa ke proyek-proyek film di sana.

Twyford bahkan berkampanye kepada semua pekerja film di seluruh dunia, jika Selandia Baru adalah tempat yang aman untuk kembali dijadikan tempat melakukan proses syuting. Sesuai dengan strandar  atau protokol kesehatan.

Meski dia juga menyadari, sangat sulit di masa tidak mudah seperti sekarang, para pekerja film dari berbagai penjuru dunia datang ke negara mereka di suasana pandemi seperti ini.

Akibatnya, sebagaimana dicatat Komisi Film Selandia Baru,  diperkirakan sekitar 90 persen kru pada produksi internasional yang nota bene warga Selandia Baru, sangat terdampak pandemi ini.

Dari akibat nyata dahsyatnya pagebluk Covid-19 terhadap ekosistem perfilman di Indonesia, Malaysia, Iran, Korea Selatan, China, Australia dan Selandia Baru di masa vivere pericoloso ini, kita dapat mengambil kesimpulan kecil. Betapapun, sekali lagi, harga selembar nyawa jauh lebih berharga dan utama, daripada sebuah film berkualitas, “dalam”, estetis, sekaligus semenghibur apapun. Meski untuk menyelamatkan selembar nyawa, bayarannya, kelaparan untuk sementara. Panjang umur perjuangan. (Bb-69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *