Mencari “Satriya Piningit” 2024

Oleh: Dr H Sumaryoto Padmodiningrat MM

Pertumbuhan ekonomi nasional minus 5,32 persen. Indonesia masuk jurang resesi. Semua pengamat pesimistis. Rakyat miris. Pandemi Covid-19 tak kunjung habis. Indonesia menangis!

Rakyat pun berharap munculnya sosok pemimpin yang mampu membalikkan keadaan. Pesimis menjadi optimis. Tangis menjadi meringis. Rakyat sedang mencari “satriya piningit” yang akan muncul sebagai “ratu adil” yang dapat membebaskan rakyat dari pandemi Covid-19 beserta dampak ikutannya.

Jadi, siapa pun yang mampu mengatasi Covid-19 dan dampak buruknya, dialah yang akan terpilih sebagai Presiden RI pada Pilpres 2024.

Siapakah “satriya piningit” itu?

Apakah Doni Monardo, Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19?

Kita tidak tahu pasti. Sebab, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu belum menunjukkan tanda-tanda keberhadilannya meskipun sudah banting tulang.

Bahkan kini rakyat seakan tak punya panglima ketika berperang melawan Covid-19.

Apakah “satriya piningit” itu Hadi Pranoto yang mengklaim telah menemukan obat anti-Covid-19?

Kita tidak tahu pasti. Sebab begitu dia muncul ke permukaan, langsung dibabat habis dengan dilaporkan ke polisi oleh Muannas Alaidid, Chief Executive Officer (CEO) Cyber Indonesia. Tuduhannya: mengaku profesor dan menyebarkan “hoax” atau berita bohong.

Belakangan, Hadi Pranoto mengaku apa yang ditemukannya itu bukan vaksin atau obat, melainkan ramuan herbal seperti jamu sebagai penguat kekebalan tubuh manusia untuk melawan Covid-19.

Dalam situasi abnormal sekarang ini, mestinya biarkan saja muncul ide-ide yang “out of the box”, bahkan abnormal sekalipun, yang bisa menjadi alternatif atas ide-ide “mainstream”. Toh sudah terbukti ide-ide “mainstream” tersebut sejauh ini belum berhasil mengatasi Covid-19, ditandai dengan terus bertambahnya jumlah penderita Covid-19.

Jadi, jangan sok ilmiah. Mungkin ada “local wisdom” (kearifan lokal) yang dapat menjadi alternatif mengatasi Covid-19. Banyak jalan menuju Roma.

BACA JUGA :  Hidup Harus Lebih Dari Sekedarnya.

Apakah “satriya piningit” itu Erick Thohir, Menteri BUMN yang dengan gagah berani menyatakan Bio Farma siap memproduksi 280 juta vaksin Covid-19 pada akhir 2020? Kita tak tahu pasti, karena semua itu belum terbukti kebenarannya, masih sebatas rencana.

Apalagi, Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional itu enggan menjadi relawan untuk uji coba klinis vaksin Covid-19 tahap ketiga. Ia berdalih, sebagai pemimpin, tak etis bila dia memperoleh imunisasi vaksin pertama kali. Erick seakan menjadikan rakyat sebagai kelinci percobaan, sementara dirinya enggan.

Bakal vaksin Covid-19 kini memang tengah diuji coba oleh PT Bio Farma, perusahaan pelat merah yang bergerak di bidang farmasi. Vaksin ini buatan Sinovac Biotech asal Tiongkok.

Apakah “satriya piningit” itu para kepala daerah yang mampu menjadikan wilayahnya bebas dari zona merah Covid-19, seperti Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang mampu menyisakan hanya satu wilayahnya yang masuk zona merah? Lagi-lagi kita tak tahu pasti. Sebab, sebentar lagi bisa saja banyak wilayah Jabar yang kembali menjadi zona merah.

Yang pasti, rakyat kini sedang mencari sosok pemimpin alternatif yang mampu membawa mereka keluar dari cengkeraman pandemi Covid-19. Siapa pun dia, jika mampu, pasti akan dipilih menjadi Presiden RI pada Pilpres 2024.

Seperti Bung Karno yang mampu mempersatukan bangsa Indonesia untuk mengusir penjajah Belanda dan Jepang dari bumi pertiwi. Seperti Bung Karno dan Bung Hatta yang mampu memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Seperti para pemuda yang mendirikan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 yang kemudian dikenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Ada dokter Soetomo, ada dokter Wahidin Soedirohoesodo, ada dokter Soewardi Soerjaningrat, dan sebagainya.

BACA JUGA :  Membuka Ilmu dengan Niat

Seperti para pemuda yang berhasil mengikrarkan Soempah Pemoeda pada 28 Oktober 1928.

Bedanya, lawan yang kita hadapi saat ini adalah sesuatu yang tak kasat mata, yakni Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19. Hampir seluruh pemerintahan negara-negara di dunia ini takluk melawan Covid-19, termasuk pemerintahan Presiden Joko Widodo. Maka, rakyat ibarat seseorang yang hendak tenggelam, apa pun diraihnya, termasuk mungkin sebatang kayu yang tak akan dapat menolongnya. Tapi, paling tidak, di tengah keputusasaan itu rakyat masih punya harapan, yakni munculnya “satriya piningit” yang akan menjelma menjadi “ratu adil”, meski berharap munculnya “satriya piningit” itu bisa jadi seperti berharap Godot yang tak pernah jelas kapan datangnya.

Dukutip dari berbagai sumber, “satriya piningit” akan muncul ketika suatu negara dalam kondisi porak-poranda. Dalam dunia pewayangan disebut “goro-goro”. Ia akan muncul menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana.

Kedatangan “satriya piningit” ke bumi Nusantara ini telah diramalkan oleh Prabu Jayabhaya.

Maharaja Jayabhaya adalah Raja Kediri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.

Ramalan atau Jangka Jayabaya itu kemudian diperjelas oleh Raden Ngabegi Ranggawarsita.

Ranggawarsita (1802-1873) adalah pujangga besar Jawa yang hidup di Kasunanan Surakarta. Ia dianggap sebagai pujangga besar terakhir tanah Jawa.

Dalam “Serat Kalatida” atau “Zaman Keraguan”, Ranggawarsita pada bait atau pupuh 258 menyebutkan, yang terjemahannya kurang lebih sebagai berikut:

“Kedatangan pemimpin baru tidak terduga, seperti muncul secara gaib, yang mempunyai sifat-sifat utama. Datangnya tanpa sarana apa-apa, tidak pernah menonjol sebelumnya. Pada saat masih muda, banyak mengalami halangan dalam hidupnya, yang oleh izin Allah SWT akan menjadi pemimpin yang berbudi luhur.”

BACA JUGA :  Pengeja Kesunyian.

Lalu, siapakah “satriya piningit” itu? Biarlah waktu yang menjawab.

Ataukah menunggu datangnya “satriya piningit” itu seperti menunggu Godot?

Dikutip dari sebuah sumber, istilah “menunggu Godot” berasal dari judul (naskah) drama dua babak karya Samuel Beckett. Mahakarya berupa drama absurd yang hanya menampilkan lima aktor ini berkisah tentang Estragon dan Vladimir yang sedang menantikan kedatangan Godot, sosok yang mewakili gagasan sentral yang notabene justru tidak pernah muncul sepanjang cerita.

Sebagai sebuah ungkapan umum, menunggu Godot kemudian diartikan sebagai menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. Secara konotatif, ini bisa berarti sebuah kesia-siaan atau bisa juga ketidakmampuan (yang keterlaluan) dalam membaca situasi atau gelagat. Dengan kata lain: sebuah penantian konyol.

Benarkah? Lagi-lagi, biarlah waktu yang menjawab.

Dr H Sumaryoto Padmodiningrat MM: Mantan Anggota DPR RI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *