Mengenal Ilmu “Sirep Djoko Tjandra”

Oleh: Karyudi Sutajah Putra

Djoko, eh Joko Tjandra memang sakti mandraguna. Dia punya ajian atau ilmu “sirep”, bahkan ilmu “halimun”/”panglimunan” atau menghilang. Secepat kilat muncul, secepat kilat pula hilang kembali. Tak ada yang melihat. Semua terkena “sirep”.

Saat melakukan perekaman data dan foto di Kelurahan Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, untuk membuat Kartu Tanda Penduduk elektronik atau e-KTP, Senin (8/6/2020), tak ada yang tahu bahwa yang datang itu buronan Kejaksaan Agung selama 11 tahun, koruptor kasus pengalihan hak tagih atau “cessie” Bank Bali senilai Rp 904 miliar.

Entah darimana berkas persyaratan e-KTP dia peroleh, sehingga langsung diterima dan diproses. Tak ada satu jam e-KTP itu pun jadi, konon dengan nama baru: Joko Soegiarto Tjandra, bukan Djoko Soegiarto Tjandra. Huruf “D”-nya menghilang.

Tidak itu saja. Tahun lahir Djoko yang telah menjadi Joko adalah 1951. Padahal data yang lama di dalam berkas Peninjauan Kembali (PK) tahun 2009, tahun lahirnya adalah 1950.

Djoko yang kini telah menjadi Joko kabur ke Papua Nugini pada 2009 dan sejak itu tidak pernah melakukan perekaman data kependudukan, sehingga sesuai ketentuan, datanya nonaktif sejak 31 Desember 2018. Djoko juga telah menjadi warga negara Papua Nugini. Lalu, bagaimana bisa dengan mudah ia mendapatkan e-KTP? Bagaimana surat pindah kewarganegaraannya? Bagaimana pula surat pindah alamatnya?

Bila yang lain dalam mengurus e-KTP harus antre berjam-jam, dan ada yang baru jadi setelah tiga bulan bahkan satu tahun menunggu, mengapa hanya kurang dari satu jam e-KTP Djoko (Joko) Tjandra sudah jadi? Mungkin petugasnya terkena ilmu “sirep”!

Hari itu juga Djoko (Joko) mendaftarkan permohonan PK di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Dengan nama baru, Joko, bukan Djoko, pendaftaran PK pun lancar dan langsung diterima. Djoko (Joko) sebagai buronan Kejaksaan Agung juga tidak ditangkap. Apakah para pegawai dan pejabat di PN Jaksel tak ada yang mengenali Djoko (Joko)? Bukankah ia pernah diadili di sana? Orang-orang di PN Jaksel ternyata juga terkena ilmu “sirep” Djoko (Joko).
Alhasil, semua berjalan rapi. Semua berjalan lancar. Semua berjalan cepat. Semua berjalan senyap. Semua berjalan sistemik dan sistematis. Semua terkena “sirep”.

BACA JUGA :  Mengantisipasi Malapraktik dalam Mendidik Anak

Djoko (Joko) Tjandra pun kembali terbang ke Malaysia, atau mungkin Singapura, atau mungkin Papua Nugini. Semua cepat. Semua sepi. Semua senyap.

Seperti pada saat kedatangannya, kepergian Djoko (Joko) Tjandra dari Indonesia pun tak terdeteksi Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. “Bye”, Indonesia, katanya.

Djoko (Joko) Tjandra sedianya menjalani sidang PK di PN Jaksel, Senin (29/6/2020), namun tak hadir dengan alasan sakit, sehingga sidang ditunda Senin (6/7/2020) berikutnya. Namun, Djoko (Joko) kembali mangkir dengan alasan sakit di Malaysia.

Kejaksaan pernah menahan Djoko Tjandra pada 29 September 1999 hingga Agustus 2000. Tapi Majelis Hakim PN Jaksel kemudian memutuskan Djoko bebas dari tuntutan karena perbuatan itu bukan tindak pidana, melainkan perdata.

Pada Oktober 2008, Kejaksaan mengajukan PK kasus Djoko Tjandra ke Mahkamah Agung (MA) dan diterima. Tapi, sebelum dieksekusi untuk dijebloskan ke penjara, Djoko kabur dari Indonesia ke Port Moresby, Papua Nugini, pada 10 Juni 2009 atau sehari sebelum MA membacakan putusannya.

“Sirep”

Dalam bahasa Jawa dan Sunda, “sirep” memiliki arti redam atau meredam. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “sirep” berarti mantra yang digunakan agar seseorang tertidur atau tak sadarkan diri.

Dalam dunia perdukunan di Indonesia, seperti dikutip dari berbagai sumber, “sirep” merupakan sebuah ilmu yang digunakan untuk membuat suasana sekitar menjadi hening, sepi dan seolah tak terjadi apa-apa sehingga orang-orang di sekitar terlelap pulas dengan tidurnya.

Hampir semua maling di zaman dulu memiliki ilmu “sirep”. Sebab, ilmu ini memang mutlak dibutuhkan dalam setiap operasi mereka. Maling zaman “now” juga masih ada yang memiliki, terutama yang beroperasi di kampung-kampung.

BACA JUGA :  Bungah.

Umumnya, untuk para maling itu ilmunya sesat. Sebab, di kalangan mereka, ilmu sesat itu lebih cocok dengan darah dan kepribadiaannya. Jadi, kekuatannya bertambah dahsyat.

Salah satu jenis “sirep” maling tempo dulu yang cukup berbahaya adalah sirep tanah kuburan. Dinamakan sirep tanah kuburan karena piranti yang digunakan memang berasal dari tanah kuburan, dan sirep jenis ini mampu menidurkan penghuni rumah mirip orang mati. Jadi, selama maling beroperasi, penghuni rumah tidak terbangun dari sirep ini.

Selain itu, dikenal pula ilmu “sirep” lain yang tak kalah ampuh, yakni sirep Megananda.

Konon, penguasa ajian sirep tingkat tinggi ini adalah maling Gentiri. Dengan ilmunya itu ia berhasil menculik istri Sunan Muria.

Selain ilmu “sirep”, Djoko (Joko) Tjandra diduga memiliki ilmu atau ajian “halimun” (Sunda) atau “panglimunan” (Jawa). Ilmu ini bisa menutup penglihatan atau pandangan mata manusia, sehingga pemakai ilmu ini bisa menghilang dari pandangan. Di zaman dulu, konon yang memiliki ilmu semacam ini adalah Angling Dharma, Prabu Siliwangi dan Pangeran Diponegoro.

Baik ilmu “sirep” maupun ilmu “halimun” atau “panglimunan” dulu diperoleh dengan tirakat atau ritual tertentu seperti puasa, “melek” (tidak tidur), dan membaca mantra, kini ilmu “sirep” dan “halimun” atau “panglimunan” yang dimiliki Djoko (Joko) Tjandra tidak diperoleh dengan ritual tertentu, tapi cukup dengan segepok lembaran rupiah atau dolar. Dengan itu, Djoko (Joko) Tjandra bisa menyirep siapa pun serta menghilang di mana pun dan kapan pun.

Apakah Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jakarta Selatan terkena “sirep”? Ternyata tidak. “Proses pengurusan KTP Djoko Tjandra dilakukan secara sah karena yang bersangkutan masih terdaftar sebagai penduduk lama di Kelurahan Grogol Selatan dan memegang NIK (Nomor Induk Kependudukan) lama, belum direkam KTP elektronik,” kata Kepala Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jaksel Abdul Haris.

BACA JUGA :  Bennett dan Masa Depan Israel

Apakah Lurah Grogol Selatan terkena “sirep”? “Tidak ada yang diistimewakan. Kalau data sudah lengkap, jaringan terkoneksi baik dan blanko tersedia, KTP dapat dicetak dalam hitungan jam,” kata Lurah Grogol Selatan Asep Subhan.

Ataukah mereka terkena “sirep” ala Djoko (Joko) Tjandra, bersama
pegawai dan pejabat PN Jaksel serta intelijen Kejaksaan Agung, berupa gepokan rupiah dan dolar? Kita tidak tahu pasti. Sebab suap itu laksana kentut. Bisa dilihat fenomenanya, bisa didengar suaranya, bisa dirasakan baunya, tapi sulit dibuktikan darimana sumber kentut itu berasal apabila tidak ada yang mengaku.

Karyudi Sutajah Putra: Pegiat Media, Tinggal di Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *