Ganjar Pranowo Masuk Radar Joyoboyo?

Oleh: Karyudi Sutajah Putra

Hasil survei yang menempatkan elektabilitas Ganjar Pranowo di urutan tertinggi kedua setelah Prabowo Subianto menuju Pemilihan Presiden 2024 mengingatkan kita akan “jangka” atau ramalan Joyoboyo, terkait inisial “ga” sebagai calon pemimpin masa depan. Setelah masuk radar lembaga survei, benarkah Ganjar masuk radar Joyoboyo?

Dari hasil survei Indikator Politik, 16-18 Mei 2020, Ganjar Pranowo (11,8%) berada di urutan kedua elektabilitas tertinggi setelah Prabowo Subianto (14,1%). Menyusul Anies Baswedan (10,4%), Ridwan Kamil (7,7%), dan Sandiaga Uno (6,0%).

Elektabilitas Ganjar naik tipis 2,7% dibanding Februari 2020 yang hanya 9,1%. Sedangkan Prabowo turun drastis 8,1% dibanding Februari 2020 sebesar 22,2%, dan Anies pun turun tipis 1,7% dibanding Februari 2020 sebesar 12,1%.

Joyoboyo konon meramalkan, negeri Nusantara ini akan mencapai kejayaannya bahkan menjadi mercusuar dunia setelah dipimpin secara berturut-turut oleh sosok pemimpin yang nama-namanya berinisial “no-to-no-go-ro”.

Sebelum muncul sebagai sosok pemimpin, mereka tersamar atau tersembunyi di tengah masyarakat sebagai “satria piningit”. Fenomena “satria piningit” ini setidaknya terjadi dalam Pilpres 2004 dan 2014.

Joyoboyo adalah seorang raja dari Kerajaan Kediri (1135-1157) yang bergelar lengkap Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Waemeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa. Selain raja, Joyoboyo juga dikenal sebagai seorang pujangga yang karya-karyanya bernuansa filosofis dan mistis.

Banyak ramalan Joyoboyo yang konon sudah terbukti, antara lain, “Murcane Sabdo Palon Noyo Genggong”. Noyo Genggong dan Sabdo Palon adalah nama “abdi dalem” atau pembantu di Kerajaan Majapahit. “Murca” berarti musnah, yang artinya Joyoboyo telah memprediksi runtuhnya Majapahit seiring hilangnya Noyo Genggong dan Sabdo Palon.

Lalu, “Semut Ireng Anak-anak Sapi” atau semut hitam beranak sapi, yang ditafsirkan bangsa Belanda (orang kulit putih) datang menjajah bangsa Indonesia (orang kulit hitam).

Juga, “Kebo Nyabrang Kali” atau kerbau menyeberang sungai, yang ditafsirkan Belanda sudah puas mengeruk kekayaan kita lalu pergi meninggalkan Indonesia.

BACA JUGA :  Tiga Hari, Kasus Covid di Kudus Turun

Pun, “Kejajah Saumur Jagung Karo Wong Cebol Kepalang” atau dijajah seumur jagung oleh orang cebol, yang diartikan Indonesia dijajah oleh Jepang yang hanya berlangsung 3,5 tahun.

Kemudian, “Pitik Tarung Sak Kandang” atau  ayam bertarung dalam satu kendang, yang ditafsirkan perang saudara pasca-peristiwa Gerakan 30 September 1965/Partai Komunis Indonesia atau G 30 S/PKI 1965.

Selanjutnya, “Kodok Ijo Ongkang-ongkang” atau katak hijau duduk ongkang-ongkang kaki di panggung kekuasaan. Warna hijau identik dengan seragam militer, sehingga kemudian diterjemahkan militer berkuasa di era Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto.

Terakhir, “Tikus Pithi Anoto Baris” atau tikus-tikus berbaris, yang kemudian ditafsirkan barisan rakyat dan mahasiswa melengserkan Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998 melalui gerakan reformasi.

Lalu, bagaimana dengan inisial sosok pemimpin “no-to-no-go-ro”?

“No” diasosiasikan dengan Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama RI yang berkuasa sejak 1945 hingga 1967.

“To” diasumsikan sebagai Soeharto, Presiden Kedua RI yang berkuasa sejak 1967 hingga 1998.

“No” kedua ditafsirkan sebagai Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Kelima RI yang berkuasa sejak 2004-2014.

Uniknya, para spekulan ramalan Joyoboyo tidak memasukkan nama Presiden Ketiga RI, BJ Habibie (1998-1999), Presiden Keempat RI, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (1999-2001), dan Presiden Kelima RI, Megawati Soekarnoputri (2001-2004).

Dengan “ilmu” “uthak-athik-gathuk”, diasumsikan bahwa Presiden RI dari ramalan Joyoboyo haruslah yang memiliki masa jabatan lengkap minimal 5 tahun. Konon, “noto” dan “nogoro” adalah dua suku kata yang terpisah, sehingga tiga presiden yang tidak memiliki masa jabatan lengkap tersebut dianggap hanya bunga-bunga masa transisi.

Bagaimana dengan Presiden Ketujuh RI, Joko Widodo? Konon nama kecil Jokowi adalah Mulyono, sehingga masuk inisial “no” seperti Yudhoyono.

Setelah “no-to-no’, inisial Presiden Kedelapan RI adalah “go”. Apakah Ganjar Pranowo yang saat ini menjabat Gubernur Jawa Tengah periode kedua adalah “go” tersebut? Mungkinkah Ganjar masuk radar Joyoboyo?

BACA JUGA :  Destinasi Super Prioritas, Masih Perlukah?

Mungkin saja! Sebab, jalan ke arah Istana atau kursi RI-1 tampaknya tidak terlalu terjal bagi mantan anggota DPR RI dari PDI Perjuangan ini. Kok bisa?

Pertama, meski saat ini Prabowo masih merajai survei, namun pada 2024 mantan Komandan Jenderal Kopassus itu akan dianggap sebagai politikus veteran dengan kecenderungan elektabilitas menurun, sehingga diyakini ia tak akan maju lagi di Pilpres 2024. Saat ini saja elektabilitas Prabowo menurun 8,1% dibanding Februari 2020.

Kedua, dengan bergabung ke pemerintahan Presiden Jokowi sebagai Menteri Pertahanan, banyak pendukungnya yang kecewa, terutama komunitas 212, sehingga diyakini Prabowo tak akan “nyapres” lagi.

Ketiga, dalam usinya yang sudah sepuh (73) pada 2024, diyakini Prabowo akan lebih memilih menjadi “king maker” seperti Megawati Soekarnoputri pada Pilpres 2014 dan 2019.

Di sisi lain, Ganjar adalah pilihan paling realistis bagi parpol-parpol pendukung Jokowi, terutama PDIP, bila memilih capres untuk 2024 sebagai penerus Jokowi. Mengapa?

Di PDIP saat ini tidak ada tokoh lapis kedua setelah Megawati yang “marketable” atau laik jual sebagai capres, termasuk Puan Maharani dan Prananda Prabowo. Sebagai putra-putri Megawati, keduanya memang cucu biologis Bung Karno, tapi mereka belum tentu cucu ideologis sang proklamator itu. Kalau Ganjar sudah jelas sebagai penganut dan pengamal ideologi Bung Karno, Marhaenisme dan Pancasila.

Elektabilitas Puan (0,8%) dan Prananda saat ini juga jauh dari Ganjar. Maka mau tak mau Megawati pun harus realistis seperti pada Pilpres 2014 yang merelakan mahkotanya diambil Jokowi.

Sebagai kepala daerah, Ganjar juga dinilai berhasil, terbukti dengan terpilihnya pria berambut putih kelahiran Karanganyar, Jateng, 28 Oktober 1968 ini untuk periode kedua (2018-2023).

BACA JUGA :  Mencari "Satriya Piningit" 2024

Ke depan, stok kepemimpinan nasional diprediksi lebih banyak bersumber dari kepala daerah, sehingga nama-nama kepala daerah lain pun bermunculan dan mendapat angka signifikan dalam survei, seperti Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (7,7%), dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (4,3%).

Kutukan Sisifus

Tapi tunggu dulu. Bagaimana bila ternyata Prabowo maju lagi dalam Pilpres 2024?

Silakan saja. Tapi mungkin Ketua Umum Partai Gerindra ini akan kembali mengalami kekalahan pahit seperti pada Pilpres 2009 sebagai cawapres yang berpasangan dengan capres Megawati, Pilpres 2014 sebagai capres yang berpasangan dengan cawapres Hatta Rajasa, dan Pilpres 2019 sebagai capres yang berpasangan dengan cawapres Sandiaga Uno.

Ingat nasib Prabowo, ingat pula kita akan nasib Sisifus dalam mitologi Yunani. Alkisah, Albert Camus (1913-1960), sastrawan eksistensialis asal Perancis itu, tahun 1942 menulis “Le Mythe de Sisyphe” (Mitos Sisifus).

Sisifus adalah tokoh dalam mitologi Yunani yang dikutuk untuk selama-lamanya mengulangi tugas yang sia-sia, yakni mendorong batu ke puncak gunung, namun ketika hendak mencapai puncak, batu itu menggelinding jatuh kembali.

Sisifus pun harus mengulangi pekerjaan mendorong batu itu ke puncak, lalu jatuh lagi, lalu dorong lagi, begitu seterusnya. Mengapa Sisifus dikutuk? Karena ia mencuri rahasia para dewa.

Akankah nasib Prabowo benar-benar seperti Sisifus? Semoga tidak!

Karyudi Sutajah Putra: Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI), Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *