Mudik ke Kampung Surga

Oleh: Karyudi Sutajah Putra

Di tengah pandemi Covid-19 ini betapa susahnya mereka yang hendak melakukan “ritual” mudik ke kampung halaman untuk merayakan Idul Fitri 1441 Hijriyah bersama keluarga tercinta. Bahkan kecuali yang darurat, tidak boleh mudik.

Darurat pun, tetek-bengek persyaratan mesti dipenuhi, mulai dari surat keterangan sehat hingga alasan darurat mudik seperti keluarga sakit keras atau meninggal dunia.

Namun sesungguhnya lebih sulit untuk mudik ke kampung halaman manusia di akhirat, yakni surga. Manusia adalah penduduk asli negeri surga, sehingga hakikat mudik adalah kembali ke surga.

Di akhirat memang ada neraka. Tapi destinasi akhir mudik manusia adalah surga. Bila ada yang mudik ke neraka, berarti itu tersesat.

Ya, semua manusia yang ada di muka bumi ini berasal dari satu manusia, yakni Adam. Kita semua keturunan Adam. Adam yang kemudian diangkat sebagai nabi dan rasul adalah manusia pertama yang diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala dari tanah di surga. Dari tulang rusuk Adam alaihi salam inilah Allah kemudian menciptakan Hawa sebagai istrinya.

Karena terbujuk rayuan setan (Thoha: 120), yang juga diembuskan melalui Hawa yang merajuk, Adam akhirnya ikut makan “khuldi”, buah yang dimuslihatkan iblis sebagai buah keabadian yang akan menjadikan mereka kekal tinggal di surga. Padahal sudah dilarang Allah untuk dimakan (Al Baqarah: 35). Adam menyusul Hawa yang sudah terlebih dulu menelan buah khuldi itu. Lalu tampaklah bagi keduanya aurat-aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga (Thoha: 121).

Maka berhati-hatilah bila kaum Hawa sudah merajuk, karena rayuannya bisa melebihi godaan setan. Adam itulah buktinya. Semula ia keukeuh menghadapi bisikan setan. Tapi ketika Hawa sudah merajuk, ia tak berdaya.

BACA JUGA :  Selamat Jalan Orang - (orang) Pilihan.

Akibat kekhilafan itu, Adam dan Hawa akhirnya diturunkan ke bumi. Adam diturunkan di India, Hawa diturunkan di Jeddah. Namun apa yang terjadi dengan Adam dan Hawa sesungguhnya bukan semata-mata “hukuman”, karena Allah juga berkehendak mengirimkan “khalifah” (pemimpin) ke muka bumi ini, dan khalifah itu adalah Adam (manusia), pemimpin bumi, langit dan segala isinya. Ada “blessing in disguise” di sana.

Jadi, manusia sesungguhnya adalah penduduk surga, bukan penduduk Ketapang, Ulujami, Pemalang, Jawa Tengah atau belahan bumi mana pun. Di bumi ini manusia hanyalah sekadar “mampir ngombe”.

“Turunlah kamu! Kamu akan bermusuhan satu sama lain. Bumi adalah tempat kediaman dan kesenangan sampai waktu yang akan ditentukan. Di sana kamu hidup, di sana kamu mati, dan dari sana (pula) kamu akan dibangkitkan” (Al A’raf: 24-25).

Sebagai penduduk surga, maka tujuan mudik manusia sesungguhnya adalah surga. Tapi ada juga yang mampir dulu ke neraka. Itu tersesat namanya.

Mudik ke kampung surga lazimnya juga dilakukan dalam kondisi darurat, tanpa persiapan apa pun. Lalu, apa saja persyaratan mudik ke surga?

Syarat pertama dan utama adalah mati. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati” (Ali Imran: 185). Jadi, kita semua pasti akan mudik ke kampung akhirat. Soal kapan, di mana dan bagaimana cara kita mati, hanya Allah yang maha tahu.

Ajal tak bisa dimajukan atau dimundurkan sedetik pun (Al A’raf: 34).Bersembunyi di bunker anti-bom sekalipun tak akan bisa menghindarkan kita dari kejaran Izrail. Sebab itu, kapan pun dan di mana pun kita harus senantiasa bersiap untuk mati. Mudah-mudahan kita bisa mati dengan cara dan dalam kondisi yang baik, husnul khatimah. Amin.

BACA JUGA :  Stop Mudik, Stop Kemunculan Klaster Baru

Syarat berikutnya adalah bekal perjalanan mudik, yakni amal perbuatan. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.

Ada tiga amalan yang bisa menjadi bekal abadi perjalanan mudik manusia ke surga, yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang taat kepada Allah (HR Muslim).

Sedekah jariyah adalah sedekah yang diberikan dalam bentuk apa pun, namun memberi manfaat yang panjang tiada putus bagi orang lain.

Syarat berikutnya lagi adalah mengetahui peta sekaligus rute jalan menuju surga.

Lalu, siapa yang perjalanan mudiknya akan sampai ke surga? “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati” (Al Baqarah: 38).

Mengikuti petunjuk Allah, berarti mengerjakan semua yang diperintahkan dan menjauhi semua yang dilarang Allah, atau dengan kata lain bertakwa.

Untuk dapat mengikuti petunjuk Allah, Al Quran-lah kompas atau pedomannya, karena Al Quran adalah “huda lin nas” (petunjuk bagi manusia), “huda lil muttaqin” (petunjuk bagi orang yang bertakwa), sekaligus “al furqon” atau pembeda antara yang “haq” (benar) dan yang “bathil” (salah).

Alhasil, puasa Ramadan yang sedang kita jalani ini akan memandu kita mudik ke kampung surga, sehingga tidak akan tersesat ke neraka. Sebab, tujuan berpuasa adalah menjadi hamba yang bertakwa.

“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (Al Baqarah: 183).

Untuk itu, marilah kita bersungguh-sungguh dalam berpuasa supaya kita menjadi hamba yang bertakwa, meraih fitri atau disucikan kembali, sehingga bisa mudik ke kampung halaman di surga. Karena sesungguhnya manusia adalah penduduk surga. Back to village, back to heaven!

BACA JUGA :  Ontologi Baru Profesi Guru

Karyudi Sutajah Putra: Pegiat Media, Tinggal di Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *