Mereka yang Terpanggil Sebagai Pahlawan

Oleh: Endah Suciati

SETIAP orang, bahkan setiap makhluk yang bernyawa, pasti akan mati. Yang menjadi pertanyaan, kita mau mati dalam kondisi bagaimana dan seperti apa?

Semua manusia normal pasti ingin mati dalam kondisi yang baik, dan ingin menjadi sosok yang baik pula ketika ajal menjemput, atau dalam terminolologi Islam disebut “husnul khatimah” (akhir yang baik).

Dokter-dokter dan tenaga-tenaga medis lain, termasuk para perawat, yang kini terjun sebagai pejuang kemanusiaan dengan merawat para korban terinfeksi Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19, di dalam hati kecilnya pasti juga berharap kelak akan mati dalam kondisi “husnul khatimah” atau akhir yang baik.

Tapi, dalam hati kecilnya pula mereka juga pasti tidak berharap mati ketika sedang menangani perawatan pasien terinfeksi Corona. Namun ketika Tuhan berkehendak lain, dan memanggil mereka ke haribaan-Nya, manusia bisa apa? Manusia hanya dapat menerima takdir.

Data Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), hingga Senin (23/3/2020), sedikitnya enam dokter yang bertugas menangani wabah atau pandemi Covid-19 di Indonesia meninggal dunia. Lima orang dokter di antaranya diduga meninggal dunia akibat terjangkit virus Corona.
Adapun seorang dokter lainnya meninggal dunia akibat serangan jantung setelah mempersiapkan fasilitas kesehatan demi menghadapi virus Corona.

Lima dokter yang diduga meninggal akibat terjangkit Covid-19 ialah Hadio Ali, Djoko Judojoko, Laurentius P, Adi Mirsa Putra, dan Ucok Martin. Seorang dokter lainnya ialah Toni D Silitonga yang meninggal dunia akibat serangan jantung.

Sementara itu, hingga Jumat (20/3/2020), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat ada 25 tenaga medis yang terpapar Covid-19, seorang di antaranya meninggal dunia. Ini belum data dari daerah-daerah.

Di sisi lain, PB IDI dan juga Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang telah dibentuk pemerintah membutuhkan banyak relawan untuk ditempatkan di rumah sakit-rumah sakit yang menangani pasien terinfeksi virus Corona. Sejumlah kampus pun siap mengirimkan para relawannya. Ini tentu patut diapresiasi.

BACA JUGA :  Pilkada 2020: Politik Kekuasaan Versus Politik Kemanusiaan

Sesungguhnya para dokter dan tenaga medis yang meninggal dan terpapar virus Corona itu bukannya tidak sadar bahwa tugas yang mereka lakukan berisiko tinggi. Mereka sadar merawat pasien positif Corona risikonya besar, bahkan nyawa menjadi taruhan. Tapi mereka tetap melaksanakan tugasnya. Bukan hanya karena kewajiban profesi, melainkan juga karena panggilan hati nuraninya oleh rasa kemanusiaan.

Sesungguhnya mereka juga bukan tidak sayang kepada diri sendiri dan keluarganya. Mereka tentu sangat sayang. Tapi panggilan hati nuraninya oleh rasa kemanusiaan yang sangat tinggi mampu mengesampingkan rasa sayang mereka kepada diri dan keluarga. Mereka lebih mengedepankan kepentingan umum, kepentingan kemanusiaan, kemaslahatan umat, daripada kepentingan pribadi dan keluarga. Mereka mengorbankan kepentingan diri dan keluarganya demi kemanusiaan.

Sebagai dokter atau perawat, tidak mungkin mereka menjaga jarak aman dengan pasien. Mereka memang sudah dilengkapi dengan Alat Pelindung Diri (APD), tapi APD tersebut hanya sekadar ikhtiar, karena tak ada yang bisa menjamin virus Corona tidak akan menyengat tubuh mereka, dan kemudian merusak sistem pernapasan dan pencernaan.

Terkait APD, Rumah Sakit Dr Moewardi, Surakarta, Jawa Tengah, sudah mampu memproduksinya sendiri. Ini tentu patut diapresiasi dan disyukuri di tengah minimnya APD.

Seandainya merawat pasien Corona dapat dilakukan dengan remote control, mungkin akan mereka lakukan. Seandainya merawat pasien Corona dapat dilakukan dengan robot, mungkin juga akan mereka lakukan. Tapi merawat pasien harus dilakukan dengan tatap muka langsung, bahkan kadang harus bersentuhan, maka aturan “social distancing” atau “physical distancing” pun tak berlaku bagi dokter dan tenaga medis lainnya. Apalagi pasien membutuhkan sentuhan kemanusiaan.

Kini, ketika nyawa para dokter dan tenaga medis itu melayang, siapa yang harus bertanggung jawab? Tanggung jawab pidana jelas tidak bisa dipikul oleh siapa pun. Karena penyebab kematian mereka adalah virus Corona, bukan manusia lainnya.

BACA JUGA :  Deutschland Uber Alles

Bagaimana dengan tanggung jawab pemerintah? Mungkin pemerintah perlu mengurus penghidupan dan masa depan keluarga yang ditinggalkan oleh para dokter dan tenaga medis yang meninggal itu.

Adapun terhadap para dokter dan tenaga medis yang merawat pasien terinfeksi Corona, pemerintah akan memberikan insentif yang sangat layak.

Tapi pasti bukan karena insentif itu para dokter dan tenaga medis melaksanakan tugasnya merawat pasien korban virus Corona. Mereka melaksanakan tugas itu karena panggilan kemanusiaan. Tanpa rasa kemanusiaan yang menyentuh hati nuraninya, tak mungkin mereka mau berjibaku melawan ganasnya virus Corona, termasuk dokter Handoko Gunawan yang sudah sangat sepuh itu.

Dokter Handoko Gunawan yang kini sudah berusia 80 tahun berada di garda terdepan dalam penanganan pasien terinfeksi virus Corona, dan bekerja tak kenal lelah sehingga jatuh sakit karena ikut terjangkit virus Corona,dan dirawat di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta.

Mengapa dokter Handoko yang sudah sepuh itu beserta dokter-dokter lainnya serta para tenaga mediis berdedikasi merawat pasien Corona? Sekali lagi, selain panggilan tugas profesi, juga karena panggilan kemanusiaan. Maka apresiasi yang tinggi patut dihaturkan kepada mereka.

Bagi para dokter dan tenaga medis yang telah gugur dalam menjalankan tugas, pemerintah perlu memberikan penghargaan kepada mereka. Bahkan bila perlu mereka diberi bintang jasa layaknya pahlawan. Jasa mereka sungguh tak terbilang. Mereka adalah pahlawan kemanusiaan yang berjuang melampaui batas kemampuannya.

Endah Suciati SPd MPd: Tenaga Pengajar di SMPN 10 Surakarta.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *