Corona, Pageblug dan Istighotsah

Oleh: Sumaryoto Padmodiningrat

Akhirnya kekhawatiran publik terjawab sudah,setelah sekian lama menjadi misteri yang coba ditutup-tutupi. Presiden Joko Widodo, Senin (2/3/2020), mengumumkan kasus pertama penyakit akibat Corona atau Covid 19, virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan dan pencernaan.

Dua warga Depok, Jawa Barat, yang merupakan ibu dan putrinya, terjangkit Corona setelah berinteraksi dengan tamunya asal Jepang. Anehnya, warga Jepang itu baru diketahui terjangkit Corona setelah meninggalkan Indonesia dan berada di Malaysia. Apakah sistem deteksi dini terhadap Corona yang dimiliki Indonesia cukup lemah?

Pengumuman ini menambah panjang daftar negara-negara yang terjangkit Corona, virus yang pertama kali diketahui menyerang manusia di Wuhan, Hubei, Tiongkok. Kini, hampir seluruh dunia terjangkit virus Corona, termasuk Indonesia yang cukup paparan cahaya mataharinya.

Sontak, pengumuman dari Presiden Jokowi itu bak petir di siang bolong. Kepanikan massal langsung menjangkiti publik, terutama warga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) yang langsung “panic buying”, yakni membeli dalam kondisi panik, atau bahkan memborong bahan-bahan makanan serta masker dan sarung tangan.

Dalam terminologi Jawa, apa yang kini menimpa Indonesia dan negara-negara lain di seluruh dunia ini disebut “pageblug”. “Pageblug” yang berasal dari bahasa Jawa berarti masa di mana banyak wabah penyakit menular.

Dahulu kala, sebelum datang agama-agama ke Nusantara, tepatnya saat masyarakat masih menganut animisme dan dinamisme, pagebluk diatasi dengan “ruwat” atau “ruwatan”.

Ruwatan berasal dari kata “ruwat” (Jawa) atau “ngarawat” (Sunda) yang berarti merawat atau mengumpulkan. Tradisi ruwatan biasanya digelar bertepatan dengan tahun baru Saka (Jawa) atau tanggal 1 Suro, atau tahun baru Islam, 1 Muharam.

Ruwat, menurut kamus, berarti: 1) pulih kembali sebagai keadaan semula (tentang jadi-jadian, orang kena tulah); dan 2) terlepas (bebas) dari nasib buruk yang akan menimpa (tentang orang yang menurut kepercayaan akan tertimpa nasib buruk, misalnya anak tunggal).

BACA JUGA :  Prihatin.

Ruwatan merupakan sarana pembebasan atau penyucian manusia atas dosa dan kesalahannya yang berdampak kesialan di dalam hidupnya. Selain itu, ritual ini juga untuk melestarikan kebudayaan Jawa kuno yang bertujuan mencari kesejahteraan hidup.

Ritual ruwatan sering kali dianggap dekat dengan hal-hal yang berbau mistis, yang mengingatkan kita akan kepercayaan animisme dan dinamisme yang dianut nenek moyang kita dahulu. Ini terlihat dari sajian atau sesajen yang terlihat setiap ritual ruwatan digelar. Sesajen ini terdiri dari buah-buahan, sayuran, dan bahkan hewan seperti ayam atau kepala kerbau.

Selain serangkaian upacara, dalam ritual ruwatan para peserta juga menyaksikan bersama pertunjukan wayang kulit yang dimainkan seorang dalang yang memiliki keahlian khusus ruwatan.

Memang sepintas tak ada hubungan langsung antara pageblug dan ruwatan, tapi faktanya masyarakat ketika itu merasa terbebas dari pageblug setelah menggelar ruwatan. Mungkin karena sugesti. Hingga kini tradisi ruwatan itu masih terjaga dengan baik, terutama di masyarakat Jawa dan Sunda.

Setelah Islam masuk ke Indonesia, tradisi pun kemudian bergeser. Ada semacam ritual penolak bala, tapi bukan dengan ruwatan.

Pada 2010 lalu, misalnya, Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, diserang pagebluk. Lebih dari 500 santri dan santriwati mendadak sakit. Rata-rata santri menderita demam, flu berat dan batuk, yang sebagian di antaranya bahkan menderita radang tenggorokan. Untuk menghilangkannya, ritual tolak bala pun digelar.
Saat tengah malam tiba, ratusan santri berbaris di depan pondok. Mereka kemudian berjalan kaki mengelilingi pondok sambil melafalkan salawat.

Salawat yang dibaca adalah “Likhamsatun uthfi biha harral waba-il hatimah al musthafa wal murtadla wabnahuma wa fatimah” sebanyak 1.217 kali.

Dalam Islam juga dikenal “Istighotsah”, yang berarti minta pertolongan. Meminta pertolongan kepada Allah SWT ketika kita dalam keadaan sukar dan sulit, dan hanya Allah yang bisa menolongnya.

BACA JUGA :  Empati dalam Relasi Penanganan Covid-19

Dengan kata lain, istighotsah adalah memohon pertolongan kepada Allah untuk terwujudnya sebuah “keajaiban” atau “mukjizat” atau sesuatu yang paling tidak dianggap tidak mudah untuk diwujudkan.

Istighotsah sejatinya sama dengan berdoa, akan tetapi bila disebutkan kata istighotsah maka konotasinya lebih dari sekadar berdoa, karena yang dimohon dalam istighotsah adalah bukan hal yang biasa-biasa saja. Oleh karena itu, istighotsah sering dilakukan secara kolektif dan biasanya dimulai dengan zikir atau wirid tertentu, terutama istighfar, sehingga Allah berkenan mengabulkan permohonan itu.

Dalam konteks wabah Corona, seyogyanya pemerintah memfasilitasi umat Islam menggelar istighotsah untuk memohon mukjizat agar bangsa Indonesia diselamatkan dari wabah Corona yang mematikan ini.

Selain memohon kepada Allah, istighotsah juga bisa menjadi sarana untuk mensugesti atau membangkitkan semangat umat Islam agar tidak terpuruk dan terjebak dalam ketakutan dan kepanikan yang berlebihan dalan menghadapi virus Corona. Sebab kepanikan akan melemahkan kondisi psikis kita, dan kondisi psikis yang lemah akan melemahkan kiondisi fisik pula. Bila kondisi fisik dan psikis lemah maka akan mudah terserang pentakit, termasuk virus Corona.

Bila ada warga masyarakat yang hendak menggelar ruwatan untuk tolak bala, termasuk mengusir virus Corona, pemerintah juga harap mempersilakan atau bahkan memfasilitasi.

Ruwatan hingga kini masih relevan sebagai pengejawantahan berdoa secara massal, sebagai sarana agar bangsa Indonesia terlepas dari berbagai macam.

Tak kalah pentingnya adalah semua komponen bangsa, mulai dari rakyat jelata hingga pejabat dan dari Presiden, harus melakukan ruwat diri, antara lain dengan puasa bicara. Minimal mengurangi pernyataan-pernyataan kontroversial dan kontraproduktif yang membuat gaduh, baik di dunia maya maupun dunia nyata. Akhir-akhir ini para pejabat justru membuat “gaduh” dng pernyataan-pernyataan yang kontroversial.

BACA JUGA :  Musim Sunat di Mahkamah Ambyar

Istighatsah juga bisa jadi sarana membangkitkan perekonomian Indonesia. Akibat merebaknya wabah Corona, nilai tukar rupiah terjun bebas. Ini terjadi karena para pelaku ekonomi terjangkit kepanikan. Istighotsah akan dapat menghindarkan kita semua dari kepanikan. Insya Allah.

Dr Drs H Sumaryoto Padmodiningrat MM: Mantan Anggota DPR RI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *